Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Opini » Pak Harto, Sang Jenderal Besar dan Bapak Pembangunan Nasional

Pak Harto, Sang Jenderal Besar dan Bapak Pembangunan Nasional

  • account_circle Redaksi
  • calendar_month Senin, 10 Nov 2025
  • visibility 20
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Oleh: M Fauzan Irvan*

Sebagai generasi yang lahir tahun 90an, saya mungkin tidak merasakan secara utuh bagaimana kepemimpinan dan kebijakan Presiden Soeharto. Tetapi karena isu ini sudah menjadi wacana publik, rasa ingin tahu membuat saya membaca banyak hal. Dari arsip sejarah, laporan ekonomi, testimoni para pelaku, hingga data Badan Pusat Statistik.

Dari semua itu, saya mulai memahami bahwa Pak Harto bukan hanya seorang presiden,
tetapi juga seorang prajurit, Jenderal, dan Bapak pembangunan yang meninggalkan warisan besar bagi negeri ini.

Menurut saya, perlu kiranya melihat polemik pemberian gelar Pahlawan Nasional ini secara objektif. Tanpa menafikan hal baik dan buruk dari calon penerima gelar pahlawan nasional. Filosofi Jawa yang berbunyi Mikul Dhuwur Mendhem Jero harusnya menjadi patokan bagi setiap anak bangsa dalam menilai dan memandang pemimpinnya. Filosofi ini mengandung arti menjunjung tinggi kehormatan para pemimpin, dan menyimpan kekurangan dan keburukannya. Siapapun dia.

Kiprah Militer: Dari Tempur Lapangan hingga Jenderal Besar

Salah satu peristiwa monumental yang menandai kiprah awal Soeharto sebagai prajurit tangguh adalah persitiwa serangan umum 1 maret 1949. Saat itu, Yogyakarta sebagai ibu kota Republik telah dikuasai oleh Belanda, dan dunia internasional menganggap bahwa Republik Indonesia sudah runtuh.

Letkol Soeharto, yang ketika itu menjabat sebagai Komandan Brigaede Wehrkreise III, memimpin operasi yang dirancang dengan strategi militer yang matang. Dalam waktu enam jam, pasukan TNI berhasil merebut kembali Yogyakarta dan menanamkan bendera Merah Putih di jantung kota.

Aksi heroik tersebut tidak hanya membangkitkan semangat rakyat, tetapi juga membuktikan kepada dunia bahwa Republik Indonesia masih berdiri tegak. Serangan Umum 1 Maret menjadi tonggak penting dalam diplomasi Indonesia di meja perundingan internasional, sekaligus menunjukkan kepemimpinan Soeharto yang cerdas dalam merancang dan menggerakkan kekuatan militer dengan presisi dan disiplin tinggi.

Kemudian selain itu, Pak Harto diangkat menjadi Panglima Komando Mandala pada 11 Januari 1962. Tugas utamanya: memimpin Operasi Trikora untuk membebaskan Irian Barat dari kekuasaan Belanda. Di bawah kepemimpinannya, disusun strategi tiga tahap infiltrasi, eksploitasi, dan konsolidasi yang dijalankan dengan disiplin dan ketepatan militer. Dalam kurun waktu enam bulan, puluhan operasi infiltrasi dilakukan oleh pasukan elite seperti RPKAD dan PGT.

Hasilnya, tekanan militer dan diplomasi Indonesia memaksa Belanda untuk berunding, hingga akhirnya Irian Barat resmi kembali ke pangkuan Ibu Pertiwi melalui Perjanjian New York pada Agustus 1962.

Keberhasilan tersebut mengukuhkan posisi Soeharto sebagai perwira unggulan. Ia kemudian diangkat menjadi Panglima Kostrad (Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat) pada tahun 1963. Setelah itu, saat negara menghadapi ancaman Gerakan 30 September 1965 (G30S/PKI), Dengan ketenangan dan ketegasan khasnya, Letjen Seharto memimpin operasi pemulihan keamanan, menumpas pasukan pemberontak, dan mengembalikan kontrol pemerintahan ke tangan yang sah.

Langkah-langkah taktis Soeharto menjadi titik balik penyelamatan negara dari ancaman disintegrasi dan ideologi komunis yang berpotensi menggantikan Pancasila sebagai dasar negara.

Tindakannya tidak hanya menyelamatkan kedaulatan politik, tetapi juga memastikan ideologi Pancasila tetap menjadi fondasi tunggal kehidupan berbangsa dan bernegara.

Atas dedikasi dan kontribusinya di dunia militer, Soeharto akhirnya dianugerahi pangkat Jenderal Besar TNI (Bintang Lima) gelar kehormatan tertinggi di jajaran militer Indonesia, sejajar dengan Panglima Besar Jenderal Sudirman danJenderal A.H Nasution.

Pembangunan Nasional: Dari Swasembada Pangan hingga Stabilitas Ekonomi

Sebagai Presiden, Soeharto membawa disiplin militer ke dalam manajemen pemerintahan. Ia mewarisi negara dengan inflasi mencapai 635% pada tahun 1966, kondisi ekonomi kacau, dan infrastruktur terbatas. Namun hanya dalam tiga tahun, kebijakan ekonomi yang fokus pada stabilitas dan efisiensi berhasil menurunkan inflasi menjadi 9,9% pada tahun 1969.

Selama tiga dekade kepemimpinannya, Indonesia mengalami pertumbuhan ekonomi rata-rata 7–8% per tahun, bahkan mencapai 10,9% pada 1968 dan 9,9% pada 1980 (data BPS dan Katadata, 2024). Pendapatan per kapita naik tajam, jutaan keluarga keluar dari kemiskinan, dan Indonesia diakui dunia sebagai salah satu negara berkembang dengan pertumbuhan tercepat di Asia.

Di sektor pertanian, Soeharto meluncurkan program revolusi hijau dan Gerakan Swasembada Pangan. Pada 1984, Indonesia resmi dinyatakan berhasil swasembada beras oleh FAO, dan Soeharto menerima penghargaan langsung dari lembaga tersebut di Roma. Program pembangunan infrastruktur seperti Inpres Desa, pembangunan jalan dan irigasi, pembangunan sekolah dasar dan puskesmas menjadi tonggak pemerataan hasil pembangunan ke seluruh pelosok tanah air.

Tidak hanya di bidang ekonomi, era Soeharto juga dikenal sebagai masa di mana Indonesia mulai memperkuat posisinya di kancah internasional. Indonesia menjadi tuan rumah KTT Non-Blok 1992, aktif dalam ASEAN, dan mampu menjaga stabilitas politik di tengah dinamika global.

Menilai dari Jasa, Bukan Dosa

Seperti halnya pemimpin lain di dunia, Soeharto bukanlah manusia tanpa kekurangan. Namun jika berbicara tentang pahlawan, yang menjadi ukuran adalah seberapa besar jasa dan kontribusinya bagi bangsa. Kesalahan atau dosa seorang pemimpin adalah bagian dari kompleksitas kekuasaan, tetapi jasa besar dalam mempertahankan dan membangun negeri tak bisa dihapus dari catatan sejarah.

Soeharto telah memberikan pengabdian terbaiknya dari prajurit tempur di medan perang, hingga pemimpin nasional yang membawa bangsa keluar dari keterpurukan ekonomi. Ia membangun fondasi ketahanan pangan, infrastruktur, dan stabilitas nasional yang masih dirasakan hingga kini.

Menilai Soeharto secara utuh berarti menimbang bukan hanya masa kontroversialnya, tetapi juga masa pengabdian panjangnya terhadap bangsa. Dalam konteks jasa dan kontribusi nyata, Soeharto layak dikenang sebagai salah satu tokoh besar dan pahlawan pembangunan Indonesia.

*Wakil Ketua DPD Golkar Jakarta Bidang Pemuda dan Olahraga / Ketua AMPG DKI

  • Penulis: Redaksi

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Sekjen DPP Partai Demokrat, Herman Khaeron

    Demokrat Tegaskan Tak Ikut Campur Isi Pertemuan Prabowo–Jokowi

    • calendar_month Selasa, 7 Okt 2025
    • account_circle Redaksi
    • visibility 13
    • 0Komentar

    JAKARTA, RADIANTVOICE. ID – Partai Demokrat menegaskan tidak ikut mencampuri isi pembicaraan antara Presiden ke-8 Prabowo Subianto dan Presiden ke-7 Joko Widodo (Jokowi) yang berlangsung di kediaman Prabowo di Kertanegara, Jakarta, Sabtu (4/10/2025). Sekretaris Jenderal DPP Partai Demokrat Herman Khaeron mengatakan, pihaknya tidak memiliki informasi mengenai apa saja yang dibahas dalam pertemuan tersebut. Meski begitu, […]

  • Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Zulkifli Hasan (Zulhas) . Sumber foto : Instagram @zul.hasan

    Zulkifli Hasan Bongkar Fakta Izin Tambang, : “Bukan Bahlil!”

    • calendar_month Selasa, 10 Jun 2025
    • account_circle Redaksi
    • visibility 18
    • 0Komentar

    JAKARTA, CUPLIKAN.CO.ID – Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Zulkifli Hasan (Zulhas) buka suara soal sorotan publik terhadap Menteri ESDM Bahlil Lahadalia terkait tambang nikel di Raja Ampat. Zulhas secara blak-blakan menyatakan bahwa Bahlil tak terlibat dalam penerbitan izin tambang tersebut. Pernyataan Zulhas disampaikan dalam forum Hari Kewirausahaan Nasional di Jakarta, Selasa (10/6), saat isu eksplorasi dan […]

  • Sejumlah oknum prajurit TNI dari Yon Armed 2 Kilapsumangan menghadang warga yang mengamuk dengan mendatangi markas TNI di Kecamatan Biru-biru (Sumber foto : Istimewa)

    Warga Tuntut Keadilan Atas Penyerangan Oleh Oknum TNI

    • calendar_month Senin, 11 Nov 2024
    • account_circle Redaksi
    • visibility 19
    • 0Komentar

    MEDAN, CUPLIKAN.CO.ID – Insiden penyerangan yang terjadi di Desa Selamat, Kecamatan Sibiru-biru, Kabupaten Deli Serdang, pada Jumat (8/11) malam, meninggalkan luka mendalam bagi warga. Penyerangan yang diduga dilakukan oleh oknum anggota TNI tersebut mengakibatkan seorang warga, Raden Barus (60), tewas dan belasan lainnya mengalami luka serius. Kapendam I Bukit Barisan, Kolonel Dody Yudha, mengonfirmasi bahwa […]

  • Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga, Wihaji, saat menerima audiensi Wakil Bupati Cilacap Ammy Amalia Fatma Sura di di Kantor Kemendukbangga/BKKBN, Jakarta, Kamis (9/5/2025). Sumber foto : Humas Kemendukbangga

    Menteri Wihaji Minta DAK Cilacap Dimanfaatkan Secara Optimal

    • calendar_month Kamis, 8 Mei 2025
    • account_circle Redaksi
    • visibility 17
    • 0Komentar

    JAKARTA, CUPLIKAN.CO.ID – Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Mendukbangga)/Kepala BKKBN, Dr. Wihaji, S.Ag, M.Pd, meminta Pemerintah Kabupaten Cilacap untuk memaksimalkan pemanfaatan Dana Alokasi Khusus (DAK) senilai Rp16 miliar yang dialokasikan untuk program pembangunan keluarga, kependudukan, dan pengendalian penduduk. Permintaan tersebut disampaikan Wihaji saat menerima audiensi Wakil Bupati Cilacap, Ammy Amalia Fatma Sura, di Kantor Kemendukbangga/BKKBN, […]

  • Penyerahan surat tugas pada 5 Plt di Jawa Timur dari Pj Sekdaprov Jatim, Bobby Soeimarsono. Sumber foto : Pemprov Jatim.

    Pj Sekdaprov Serahkan SPT kepada Lima Plt. Bupati di Jawa Timur

    • calendar_month Selasa, 24 Sep 2024
    • account_circle Redaksi
    • visibility 13
    • 0Komentar

    SURABAYA, CUPLIKAN.CO.ID – Penjabat (Pj.) Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Timur, Bobby Soemiarsono, menyerahkan Surat Perintah Tugas (SPT) kepada lima Pelaksana Tugas (Plt.) Bupati di Ruang Kerja Pj. Sekdaprov Jatim, Kantor Gubernur Jawa Timur, Jalan Pahlawan No. 110, Surabaya, Senin (23/8). Penyerahan SPT ini dilakukan untuk menunjuk para Plt. yang akan menggantikan sementara posisi bupati di […]

  • DPR: Kebudayaan Harus Menjadi Investasi Pembangunan Bangsa

    DPR: Kebudayaan Harus Menjadi Investasi Pembangunan Bangsa

    • calendar_month Kamis, 16 Jul 2026
    • account_circle MA
    • visibility 14
    • 0Komentar

    Jakarta – Komisi X DPR RI menegaskan bahwa tata kelola serta pengelolaan anggaran di sektor kebudayaan harus menghasilkan manfaat yang dapat dirasakan secara langsung oleh masyarakat. Melalui fungsi pengawasannya, Komisi X meminta Kementerian Kebudayaan memastikan setiap program yang dijalankan tidak hanya berorientasi pada pencapaian target administratif, tetapi juga mampu memperkuat karakter bangsa, meningkatkan kesejahteraan pelaku […]

expand_less