Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Opini » Outsider dalam Fiskal: Dari Rizal Ramli ke Purbaya Yudhi Sadewa

Outsider dalam Fiskal: Dari Rizal Ramli ke Purbaya Yudhi Sadewa

  • account_circle Redaksi
  • calendar_month Rabu, 10 Sep 2025
  • visibility 25
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Oleh: Mahmud Syaltout *

JAKARTA, CUPLIKAN.CO.ID – Sejenak di Tahun 2001. Ada momen singkat yang sering luput dari ingatan kita. Tahun 2001, kurs rupiah berada di kisaran 11.300 per USD. Indonesia masih goyah setelah krisis 1998, situasi politik pun panas karena Presiden Abdurrahman Wahid terancam lengser. Di tengah suasana itu, seorang anak fisika ITB bernama Rizal Ramli ditunjuk menjadi Menteri Keuangan. Banyak yang skeptis. “Bukan Sarjana Ekonomi,” begitu komentar orang.

Namun hanya dalam waktu dua bulan, dari 12 Juni sampai 9 Agustus 2001, rupiah justru menguat ke bawah 9.000 per USD (OECD, 2001). Angka itu bukan sekadar data di layar komputer. Itu adalah simbol bahwa kepercayaan bisa pulih bahkan di saat paling genting.

Aku masih ingat betul. Sebagai mahasiswa di Surabaya, aku memimpin orasi menolak pelengseran Gus Dur di depan DPRD Jatim. Gus Dur adalah Presiden terbaik dalam bayangan kami. Jalanan penuh teriakan, penuh rasa marah sekaligus harap. Di saat banyak orang panik, sosok Rizal Ramli hadir dan memberi keyakinan. Ia keras pada spekulan, lugas pada publik, dan tiba-tiba pasar merespons. Rupiah menguat, seakan ikut menghirup energi seorang outsider yang percaya diri.

Berikut ini tiga catatanku tentang Menteri Keuangan terbaik di era Presiden terhebat, yang bukan Sarjana Ekonomi, yang kukenal.

Pertama: Confidence Effect Lebih Kuat dari Angka

Orang sering lupa bahwa krisis bukan hanya soal fundamental ekonomi. Radelet dan Sachs (1998) menulis, krisis Asia adalah krisis kepercayaan. Ketika publik panik, angka apa pun bisa jadi tidak relevan. Inilah yang dipahami Rizal Ramli. Ia bukan teknokrat steril yang sibuk bicara defisit atau cadangan devisa. Ia aktivis intelektual yang tahu bahwa pasar butuh cerita, bukan sekadar tabel.

Dengan gaya khasnya, Rizal menegur spekulan, menegaskan kedaulatan fiskal, dan membangun narasi bahwa pemerintah siap melawan. Confidence effect lahir. Pasar berhenti panik. Rupiah menguat.

Latar belakang fisikanya membuat Rizal terbiasa melihat pola sistemik. Aktivismenya membentuk sensitivitas sosial. Doktoralnya di Boston menambahkan teori ekonomi. Kombinasi ini membuatnya berbeda. Ia membaca kurs bukan hanya sebagai supply-demand, tetapi juga sebagai cermin psikologi massa.

Fenomena ini kini relevan dengan Purbaya Yudhi Sadewa. Ia juga outsider, lulusan Teknik Elektro ITB yang kemudian menempuh doktoral ekonomi di Purdue. Sama seperti Rizal dulu, ia diragukan. Namun jika belajar dari pengalaman, outsider justru punya modal untuk menciptakan narasi baru.

Kedua: Tradisi Outsider di Level Global

Fenomena outsider tidak hanya terjadi di Indonesia. Nobel Ekonomi berkali-kali dianugerahkan kepada tokoh non-sarjana ekonomi. Kenneth Arrow dan Leonid Kantorovich dari matematika. Herbert Simon dari ilmu politik. John Nash, Reinhard Selten, dan John Harsanyi dari matematika dan filsafat. Daniel Kahneman dari psikologi. Vernon Smith dari teknik elektro. Thomas Schelling dari ilmu sosial politik. Elinor Ostrom dari ilmu politik (Nobel Prize, 2023).

Mereka semua memperluas horizon ekonomi. Arrow memperkenalkan teori pilihan sosial. Simon mengenalkan bounded rationality. Kahneman melahirkan behavioral economics. Ostrom membongkar mitos bahwa sumber daya bersama pasti gagal. Semua terobosan ini lahir dari luar pagar.

Hal serupa juga terjadi di IMF dan Bank Dunia. Christine Lagarde memimpin IMF dengan latar hukum. James Wolfensohn adalah pengacara. Paul Wolfowitz ilmuwan politik. Robert McNamara manajer yang sebelumnya dikenal sebagai Menteri Pertahanan AS. Woods (2006) mencatat, lembaga global ini memang sering dipimpin non-ekonom, karena yang paling dibutuhkan adalah negosiasi, persuasi, dan leadership.

Indonesia pun ikut dalam pola ini. Dari Nobel hingga IMF, outsider terbukti berperan penting. Rizal Ramli adalah contoh nyata di tanah air, dan Purbaya Yudhi Sadewa kini berada di jalur yang sama.

Ketiga: Politik, Gus Dur, dan Pelajaran untuk Hari Ini

Rizal Ramli menjabat di saat transisi politik paling genting. Gus Dur yang dianggap Presiden terbaik dilengserkan, Megawati naik menggantikan. Dalam suasana rawan itu, rupiah justru menguat. Momentum itu kemudian diwariskan pada Boediono yang melanjutkan stabilisasi (Haggard, 2000).

Aku sendiri merasakan suasana itu dari jalanan Surabaya. Sebagai Presiden LAM (Lembaga Aspirasi Mahasiswa) Fakultas Hukum Universitas Airlangga – yang dalam kajian perbandingan hukum tata negara bentuknya yang pernah kupelajari LAM FH Unair ini seperti “Supreme Soviet” yang gabungkan kekuasaan eksekutif dan legislatif – di mana kekuatan perwakilan langsung dan perwakilan komunitas berada dalam satu lembaga, aku menolak pelengseran Gus Dur. Bagi kami, Gus Dur adalah simbol demokrasi dan keberanian menabrak tabu. Rizal Ramli hadir sebagai bagian dari energi itu, memberi percikan optimisme di tengah pesimisme.

Bertahun kemudian, setelah kembali dari Paris sebagai doktor anyaran, aku duduk satu meja dengan Rizal Ramli dan Luhut Binsar Panjaitan dalam forum Gusdurian di Jakarta. Dua loyalis Gus Dur dengan gaya berbeda, tetapi bertemu dalam satu titik: warisan Gus Dur. Dari situ aku sadar, ekonomi Indonesia tidak pernah steril dari politik. Menteri Keuangan bukan hanya soal fiskal, tetapi juga soal narasi, sejarah, dan manusia.

Pengalaman pribadiku juga bersinggungan dengan Purbaya walaupun sangat singkat. Saat aku “nyasar” bekerja sebentar di bawah koordinasi Opung Luhut, aku berkantor di ruangan yang sama dengan Purbaya. Kami sering makan siang bareng di kaki lima seberang gedung Kemenko Marves. Dari situ aku melihat sosok sederhana dan terbuka. Ia bukan pejabat yang menjaga jarak. Ia apa adanya. Dan di situ aku merasa, ada energi outsider yang mengingatkanku pada Rizal Ramli.

Namun ada catatan kritis. Purbaya harus benar-benar belajar dari pengalaman Rizal Ramli. Ia kemarin menyebut dirinya “Menteri Kagetan” saat serah terima jabatan sebagai Menkeu. Ucapan itu mungkin terasa ringan, bahkan lucu. Tapi jangan sampai ekonomi Indonesia juga ikut kagetan. Karena kalau kebijakan fiskal dan keuangan Indonesia kagetan, yang kena jantungan bukan hanya para taipan dan investor besar, tetapi juga pengusaha sektor riil, pemilik saham ritel yang tabungan sahamnya gak seberapa sepertiku, petani, nelayan, driver ojol, buruh. Semua bisa ikut jantungan, dan semoga tidak mati kemudian.

Catatan Akhir: Menyeberangi Batas Disiplin

Pelajaran besar dari semua ini sederhana. Ekonomi terlalu penting jika hanya diserahkan kepada ekonom. Nobel Ekonomi membuktikan itu. IMF dan Bank Dunia juga membuktikan itu. Indonesia punya buktinya sendiri melalui Rizal Ramli di 2001, dan mungkin melalui Purbaya Yudhi Sadewa hari ini.

Rizal hanya sebentar, tetapi cukup untuk memperlihatkan bahwa outsider bisa memberi keyakinan dan menenangkan pasar. Purbaya kini menghadapi keraguan yang sama, tetapi juga peluang yang sama. Jika ia mampu membalikkan keraguan menjadi keyakinan, maka ia bisa menulis kisahnya sendiri, sebagai bagian dari tradisi panjang outsider yang justru memberi arah baru bagi Republik.

Bagi aku pribadi, ini bukan sekadar catatan akademik, melainkan bagian dari perjalanan hidup. Dari jalanan Surabaya bersama Gus Dur, sampai forum Gusdurian dengan Allahu Yarham Pak Rizal dan Opung Luhut, hingga berbagi ruangan dan makan siang dengan Mas Purbaya, aku melihat sendiri bahwa ekonomi Indonesia ditentukan bukan hanya oleh angka, tetapi juga oleh narasi, kepercayaan, dan keberanian manusia.

Dan mungkin, di situlah letak harapan kita hari ini. Bahwa di tengah segala keraguan, selalu ada ruang bagi outsider untuk membuat perbedaan.

Wallahu ‘alam bish showab.

*Penulis adalah Santri Ndhéso, yang pernah belajar Kimia di Jurusan Kimia FMIPA ITS, dan kemudian “tersesat” belajar Hukum Internasional, Geopolitik, Sejarah Hubungan Internasional, Manajemen dan Kajian Intelijen Ekonomi dari Master hingga Doktoral di Universitas Sorbonne, Paris.

  • Penulis: Redaksi

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/BKKBN, Wihaji, seusai menyampaikan materi dalam acara Talk Show & StandUp Comedy DPP Partai Golkar bertajuk Membangun Sumberdaya Manusia Dan Kependudukan Bangsa Menuju Indonesia Emas 2045 bertempat di DPP Partai Golkar, Slipi Jakarta pada Kamis, (15/5/2025)

    Wihaji: Bangun SDM Butuh Kolaborasi Antar Kementerian Strategis

    • calendar_month Jumat, 16 Mei 2025
    • account_circle Redaksi
    • visibility 16
    • 0Komentar

    JAKARTA, CUPLIKAN.CO.ID – Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga, Wihaji, menegaskan pentingnya sinergi lintas sektor dalam membangun sumber daya manusia (SDM) menuju Indonesia Emas 2045. Hal ini disampaikan dalam sambutan kuncinya pada acara Talk Show & Stand-Up Comedy yang diselenggarakan DPP Partai Golkar di Jakarta, Kamis (15/5/2025). Wihaji hadir mewakili kementerian dalam kapasitasnya sebagai narasumber utama […]

  • Anggota Komisi II dan Badan Legislasi DPR RI Fraksi Partai Golkar, Ahmad Irawan (tengah) saat menyampaikan pemaparan dalam Dialog Publik bertajuk "Mencari Format Pemilu Terbaik 2029 Melalui Revisi Paket UU Politik: Menakar Tantangan Partai Politik Non-Parlemen", yang diadakan oleh DPP KNPI di Gedung Joeang, Cikini, Jakarta, Jumat (17/1/2025).

    Ahmad Irawan Dorong Revisi UU Pemilu 2025 dengan Metode Omnibus Law

    • calendar_month Jumat, 17 Jan 2025
    • account_circle Redaksi
    • visibility 14
    • 0Komentar

    JAKARTA, CUPLIKAN.CO.ID – Anggota Komisi II dan Badan Legislasi DPR RI dari Fraksi Partai Golkar, Ahmad Irawan, menegaskan pentingnya revisi Undang-Undang Pemilu melalui pendekatan Omnibus Law. Hal ini ia sampaikan dalam diskusi publik bertajuk “Mencari Format Pemilu Terbaik 2029 Melalui Revisi Paket UU Politik: Menakar Tantangan Partai Politik Non-Parlemen”, yang diadakan oleh DPP KNPI di […]

  • Dukung Petani Lokal, Ketua Umum SPKS Fokus Peningkatan Produktivitas Petani Sawit di Sultra

    Dukung Petani Lokal, Ketua Umum SPKS Fokus Peningkatan Produktivitas Petani Sawit di Sultra

    • calendar_month Minggu, 3 Nov 2024
    • account_circle Redaksi
    • visibility 21
    • 0Komentar

    KENDARI, CUPLIKAN.CO.ID– Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) merupakan penghasil perkebunan sawit terbesar ke-3 di wilayah sulawesi dengan luas sekitar 59 ribu hektar berdasarkan data Dinas Perkebunan Provinsi Sultra 2023, perkebunan sawit tersebut tersebar di beberapa Kabupaten antara lain yaitu Kabupaten 1) Konawe, 2) Kolaka, 3) Muna, 3) Konawe Utara, 4) Muna Barat, 5) Bombana, 6) Kolaka […]

  • Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Pengajian Al-Hidayah bersama DKM Masjid Ainul Hikmah DPP Partai Golkar menggelar kegiatan sosial bertajuk "Berbagi Kebahagiaan Bersama Ibu Sri Suparni Bahlil" yang digelar di Masjid Ainul Hikmah DPP Partai Golkar di Slipi Jakarta pada Sabtu (15/3/2025)

    DPP Pengajian Al-Hidayah Berbagi Kebahagiaan di Ramadan, Santuni Yatim dan Dhuafa

    • calendar_month Minggu, 16 Mar 2025
    • account_circle Redaksi
    • visibility 11
    • 0Komentar

    JAKARTA, CUPLIKAN.CO.ID – Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Pengajian Al-Hidayah bersama DKM Masjid Ainul Hikmah DPP Partai Golkar menggelar kegiatan sosial bertajuk “Berbagi Kebahagiaan Bersama Ibu Sri Suparni Bahlil” di Masjid Ainul Hikmah, DPP Partai Golkar di Slipi Jakarta pada Sabtu (15/3/2025) kemarin. Acara ini menjadi momentum berbagi kepada anak yatim, dhuafa, serta masyarakat yang membutuhkan, […]

  • Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araqchi

    Iran Buka Semua Opsi Balasan atas Serangan AS ke Fasilitas Nuklir

    • calendar_month Minggu, 22 Jun 2025
    • account_circle Redaksi
    • visibility 15
    • 0Komentar

    TEHERAN, CUPLIKAN.CO.ID – Iran menyatakan akan menggunakan semua opsi yang dimilikinya untuk membela diri menyusul serangan Amerika Serikat terhadap fasilitas nuklirnya. Pernyataan itu disampaikan Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araqchi, pada Minggu (22/6) melalui platform X. Araqchi mengecam keras serangan tersebut, menyebutnya sebagai “tindakan keji yang akan membawa konsekuensi abadi.” “Serangan terhadap fasilitas nuklir kami sangat […]

  • Pemerintah Klaim Efisiensi APBN Hemat Rp300 Triliun, Jawab Kritik Mahasiswa Soal Pemborosan Anggaran

    Pemerintah Klaim Efisiensi APBN Hemat Rp300 Triliun, Jawab Kritik Mahasiswa Soal Pemborosan Anggaran

    • calendar_month Sabtu, 13 Jun 2026
    • account_circle DDY
    • visibility 117
    • 0Komentar

    Jakarta, editoria.co.id – Pemerintah menegaskan langkah efisiensi yang dilakukan terhadap Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) merupakan upaya untuk memastikan belanja negara lebih tepat sasaran sekaligus mengurangi pemborosan anggaran. Kepala Badan Komunikasi Pemerintah (Kabakom) RI, Muhammad Qodari, mengatakan kebijakan yang dijalankan Presiden Prabowo Subianto sejak awal masa pemerintahannya justru berfokus pada penghematan anggaran dan penutupan […]

expand_less