Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Opini » Tercerabutnya Ahlak Manusia Atas Lingkungan

Tercerabutnya Ahlak Manusia Atas Lingkungan

  • account_circle DDY
  • calendar_month Selasa, 15 Sep 2026
  • visibility 34
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Oleh: Rozi, Dosen Universitas Bangka Belitung dan Mahasiswa S3 Pengkajian Islam UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

“Diajek bekisah, malah ngelawak. Ngelawak e ge  garing. Yuuulah sepradik, same-same kite jage Kelekak. Dak kawe kelak banyek aik sungai kering”

Pangkal Pinang – Ada sesuatu yang perlahan-lahan hilang dari kehidupan kite orang Bangka. Bukan hanya hutan, tanah, dan air, tetapi akhlak kite terhadap lingkungan. Dulu, orang tua dan nenek moyang kite punya cara sederhana untuk menjaga alam. Mereka mungkin tidak mengenal istilah environmental sustainability, tidak pernah bicara tentang climate change atau ecological crisis, tetapi mereka paham satu hal, yaitu alam bukan sekadar tempat mengambil hasil, melainkan tempat kite menitipkan kehidupan. Salah satu warisan penting itu adalah kelekak.

Kelekak adalah hutan yang dijaga sama nenek moyang untuk penghidupan anak cucu kelak. Atau istilah Kelekak ialah kelak kek ikak (baca: nantinya untuk kalian para generani penerus). Biasanya di Kelekak, nenek moyang kite menanam pelbagai jenis buah-buhan yang bermanfaat. Kelekak bukan sekadar kebun. Di dalamnya ada ingatan, ada kehidupan, ada hubungan antara manusia dengan tanah. Di situlah orang tua dahulu menanam berbagai tanaman yang bisa dimanfaatkan untuk kebutuhan keluarga. Ada durian, duku, rambai, manggis, cempedak, dan berbagai tanaman lainnya. Kelekak menjadi semacam tabungan kehidupan yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Orang-orang tua dulu tidak banyak berpikir, “Berapa harga tanah ini kalau dijual?” Mereka lebih sering berpikir, “Ape yang bisa kite tinggalkan untuk anak cucu?” Itulah akhlak terhadap lingkungan.

Namun, hari ini cara pandang itu perlahan berubah. Banyak tanah mulai dilihat sebagai aset ekonomi semata. Hutan dianggap lahan kosong. Kelekak dianggap tidak produktif. Pohon yang dahulu dipelihara bertahun-tahun kini kadang ditebang hanya karena dianggap mengganggu pembangunan atau tidak memberikan keuntungan cepat.

Kite semakin pandai menghitung harga tanah, tetapi semakin lupa menghitung harga kehilangan alam.

Padahal, kalau sebatang pohon ditebang, yang hilang bukan hanya kayunya. Ada udara yang dihasilkan, ada air yang diserap, ada tanah yang dilindungi, ada burung yang kehilangan tempat tinggal, dan ada keseimbangan ekosistem yang mungkin tidak terlihat oleh mata kite.

Di sinilah persoalannya bukan semata-mata persoalan lingkungan. Ini adalah persoalan akhlak.

Dalam pandangan Islam, manusia tidak ditempatkan sebagai penguasa yang bebas memperlakukan alam sesuka hati. Manusia adalah khalifah yang memiliki amanah untuk memelihara kehidupan. Al-Qur’an mengingatkan agar manusia tidak membuat kerusakan di muka bumi setelah Allah memperbaikinya.

Artinya, merusak lingkungan bukan hanya persoalan hukum atau persoalan administrasi. Ia juga menyentuh wilayah moral. Ketika sungai dicemari, hutan dirusak, tanah digali tanpa pemulihan, atau sampah dibuang sembarangan, sesungguhnya ada nilai akhlak yang sedang tercerabut dari diri manusia.

Nenek moyang kite mungkin tidak memiliki teknologi seperti sekarang, tetapi mereka punya rasa malu kepada alam. Mereka tahu kapan harus mengambil dan kapan harus menyisakan. Mereka paham bahwa kalau hari ini semua dihabiskan, besok anak cucu tidak punya ape-ape.

Sekarang, justru ketika ilmu pengetahuan semakin maju, kesadaran itu kadang semakin mundur.

Kite memiliki alat berat, teknologi pertambangan, kendaraan, mesin, dan berbagai fasilitas modern. Tetapi pertanyaannya sederhana, apakah akhlak kite ikut maju?

Sebab kemajuan tanpa akhlak dapat menjadi ancaman. Alam akhirnya hanya dipandang sebagai objek ekonomi. Hutan dihitung dalam kubik kayu, tanah dihitung dalam hektare, hasil tambang dihitung dalam ton, sementara nilai kehidupan di dalamnya sering tidak ikut dihitung.

Kelekak mengajarkan sesuatu yang sangat sederhana, menanam hari ini untuk orang yang mungkin tidak pernah kite temui. Bukankah itu bentuk akhlak yang luar biasa?

Orang yang menanam durian puluhan tahun lalu mungkin tidak pernah menikmati seluruh hasilnya. Bisa jadi ia hanya menikmati beberapa kali musim buah. Tetapi ia tetap menanam karena tahu suatu hari anak cucunya akan memetiknya.

Di zaman sekarang, kita justru sering ingin semuanya serba cepat. Menanam harus cepat menghasilkan. Tanah harus cepat bernilai. Hasil harus cepat dinikmati. Akhirnya, kesabaran ekologis yang dahulu dimiliki nenek moyang perlahan hilang. Kelekak jangan sampai tinggal nama dalam cerita orang-orang tua kite.

Kalau generasi muda tidak lagi mengenal nilai kelekak, maka yang hilang bukan hanya kebun dan pohon-pohonnya. Yang hilang adalah cara pandang, kearifan, dan akhlak ekologis masyarakat Bangka.

Maka menjaga lingkungan tidak harus dimulai dengan sesuatu yang besar. Mulailah dengan menanam satu pohon, menjaga satu sumber air, tidak membuang sampah sembarangan, merawat kebun, dan menghidupkan kembali kelekak yang mulai ditinggalkan.

Sebab alam tidak membutuhkan manusia yang hanya pandai berbicara tentang kelestarian. Alam membutuhkan manusia yang berakhlak dalam memperlakukannya.

Jangan sampai suatu hari anak cucu kite bertanya, “Atok, dulu di Bangka banyak kelekak, kenape sekarang tinggal cerite?” Dan kite tidak mampu menjawabnya.

Karena pada saat itu, yang sebenarnya telah hilang bukan hanya kelekak. Yang telah tercerabut adalah akhlak manusia terhadap lingkungan.

 

  • Penulis: DDY

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Ketua Umum LPPI, Harianto Minda

    LPPI Kritik Integritas Pajak dan Dorong Reformasi Kebijakan Nasional

    • calendar_month Selasa, 9 Sep 2025
    • account_circle Redaksi
    • visibility 12
    • 0Komentar

    JAKARTA, CUPLIKAN.CO.ID – Lembaga Pemerhati Pajak Indonesia (LPPI) resmi berdiri pada Selasa (9/9/2025) dengan komitmen mengawasi kebijakan serta praktik perpajakan secara independen, transparan, dan berintegritas. Deklarasi ini sekaligus menjadi sinyal kuat atas kegelisahan publik terhadap rendahnya kualitas tata kelola pajak di Tanah Air. Ketua Umum LPPI, Harianto Minda, menyoroti masih banyaknya kasus yang mencederai integritas […]

  • Salah satu Kepala Daerah yang tersangkut kasus korupsi

    Ari Ginanjar Tekankan Kaderisasi Partai Cegah Korupsi Kepala Daerah

    • calendar_month Sabtu, 13 Des 2025
    • account_circle Redaksi
    • visibility 16
    • 0Komentar

    JAKARTA, CUPLIKAN.CO.ID – Pakar Ilmu Politik Universitas Padjadjaran (Unpad), Ari Ginanjar Herdiansah, menegaskan urgensi perbaikan sistem kaderisasi partai politik sebagai langkah strategis mencegah korupsi kepala daerah. Menurutnya, maraknya kasus korupsi yang melibatkan kepala daerah menunjukkan lemahnya proses rekrutmen dan pembinaan kader di internal partai. Ari menilai partai politik perlu mengevaluasi ulang pola rekrutmen kandidat, khususnya […]

  • Sekjen MN Kahmi, Samsul Qomar, dalam diskusi bertajuk “Mendorong Pertumbuhan Ekonomi 8 Persen melalui Asta Cita Kemandirian Pangan dan Pencapaian SDGs” di Jakarta, Rabu (18/6)

    Bahas Ketahanan Pangan, KAHMI Tawarkan Jalan Baru Pembangunan

    • calendar_month Kamis, 19 Jun 2025
    • account_circle Redaksi
    • visibility 20
    • 0Komentar

    JAKARTA, CUPLIKAN.CO.ID – Di tengah tantangan global yang kian kompleks, Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (KAHMI) menyerukan perlunya arah baru pembangunan nasional yang bertumpu pada kemandirian pangan sebagai fondasi. Dalam diskusi publik bertajuk “Mendorong Pertumbuhan Ekonomi 8 Persen melalui Asta Cita Kemandirian Pangan dan Pencapaian SDGs” yang digelar di Jakarta, Rabu (18/6), KAHMI menawarkan gagasan […]

  • Logo AJI

    AJI Peringatkan Ancaman Demokrasi dari Pembungkaman Media

    • calendar_month Senin, 1 Sep 2025
    • account_circle Redaksi
    • visibility 19
    • 0Komentar

    JAKARTA, CUPLIKAN.CO.ID – Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia menilai maraknya kekerasan dan pembatasan kerja jurnalis belakangan ini bukan sekadar masalah profesi, melainkan sudah menyentuh jantung demokrasi Indonesia. Dalam catatan AJI, hingga akhir Agustus 2025 terdapat 60 kasus kekerasan terhadap jurnalis, dengan puncaknya terjadi saat aksi demonstrasi 25–30 Agustus. Ketua Umum AJI Indonesia, Nany Afrida, menegaskan […]

  • Inayah Wahid, Putri Bungsu Gus Dur yang Menyuarakan Kemanusiaan Lewat Seni dan Aktivisme

    Inayah Wahid, Putri Bungsu Gus Dur yang Menyuarakan Kemanusiaan Lewat Seni dan Aktivisme

    • calendar_month Sabtu, 4 Jul 2026
    • account_circle DDY
    • visibility 169
    • 0Komentar

    Jakarta, editoria.co.id – Nama Inayah Wahid mungkin tidak sepopuler sejumlah tokoh politik yang berasal dari keluarga besar Presiden keempat Republik Indonesia, KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur. Namun, perempuan yang akrab disapa Inayah ini memiliki jalan pengabdian yang berbeda. Ia memilih menyampaikan pesan kemanusiaan, toleransi, dan keadilan sosial melalui dunia seni dan gerakan sosial. Lahir […]

  • Okky Madasari

    Dalam Dialog Peradaban, Okky Madasari Kritik Politisasi, Korupsi, dan Kekerasan di Kepolisian

    • calendar_month Rabu, 2 Okt 2024
    • account_circle Redaksi
    • visibility 17
    • 0Komentar

    JAKARTA, RADIANVOICE.ID – Institute Peradaban menggelar Dialog Peradaban dengan tema “Polisi dan Peradaban” di Perpustakaan Nasional, Jakarta, pada Rabu (2/10/2024). Diskusi ini menghadirkan Irjen. Pol (Purn) Bekto Suprapto sebagai pembicara utama, dengan penanggap dari berbagai kalangan, seperti Irjen. Pol. Chrisnanda Dwilaksana (Kasespim Lemdiklat Polri), Fahmi Wibawa dari LP3ES, sastrawan sekaligus kritikus sosial Okky Madasari, dan […]

expand_less