Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Opini » Transisi Energi Harus Adil: Jangan Biarkan Rakyat Hanya Jadi Penonton

Transisi Energi Harus Adil: Jangan Biarkan Rakyat Hanya Jadi Penonton

  • account_circle Redaksi
  • calendar_month Kamis, 9 Okt 2025
  • visibility 18
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Oleh : Akril Abdillah*

JAKARTA, CUPLIKAN.CO.ID – Transisi energi kerap dibicarakan dalam forum internasional, konferensi iklim, atau seminar akademis. Namun, sering kali pembicaraan itu berhenti pada ruang elite, tanpa menjelaskan bagaimana rakyat akan terlibat secara nyata. Padahal, energi bukan sekadar komoditas bisnis; energi adalah hak dasar warga negara. Akses terhadap energi bersih dan terjangkau adalah bagian dari keadilan sosial. Jika transisi energi hanya menjadi proyek elite, maka rakyat hanya akan menjadi penonton yang pasif, sementara beban ekonomi mereka tetap sama atau bahkan bertambah. Transisi semacam itu jelas tidak adil dan akan kehilangan legitimasi moral di mata masyarakat.

Persoalan keadilan energi harus ditempatkan di depan, bukan di belakang. Hari ini, masih ada desa-desa yang gelap pada malam hari, sementara di kota-kota besar muncul jargon energi hijau dengan biaya tinggi. Kontradiksi ini menunjukkan adanya jurang akses. Apakah transisi energi akan menyelesaikan masalah ini atau justru memperlebar ketidakadilan? Di sinilah pentingnya kebijakan yang tidak hanya mengejar target bauran energi, tetapi juga memastikan bahwa rakyat kecil merasakan manfaat langsung. Energi terbarukan tidak boleh menjadi barang mewah yang hanya dinikmati kelas menengah kota, tetapi harus menjadi kebutuhan dasar yang dijangkau petani, nelayan, dan komunitas di daerah terpencil.

Jika kita bicara logika politik energi, maka transisi energi sejatinya adalah kontrak sosial baru. Negara tidak sekadar mengalihkan sumber listrik dari batu bara ke surya atau angin, tetapi juga sedang mengubah cara warga berhubungan dengan energi. Dalam kontrak baru itu, rakyat bukan objek, melainkan subjek. Mereka berhak menentukan prioritas, ikut dalam pengambilan keputusan, dan bahkan memiliki peran dalam produksi energi. Skema panel surya atap, mikrohidro desa, hingga koperasi energi adalah bentuk konkret yang bisa memastikan partisipasi warga. Tanpa itu, transisi energi hanya menjadi proyek investor besar yang dipoles dengan narasi lingkungan.

Pertamina, dalam konteks ini, memegang peran strategis. Selama puluhan tahun, Pertamina identik dengan minyak dan gas. Kini, perusahaan negara itu dituntut menjadi motor penggerak energi baru dan terbarukan. Namun, penguatan EBT oleh Pertamina tidak boleh hanya dimaknai sebagai diversifikasi bisnis, melainkan juga sebagai tanggung jawab sosial. Pertamina harus hadir tidak hanya dalam proyek raksasa, tetapi juga di tengah rakyat, membantu desa membangun listrik tenaga surya, memberi akses biogas murah untuk rumah tangga, dan mendukung industri kecil yang ramah lingkungan. Dengan begitu, Pertamina bisa menunjukkan bahwa transisi energi tidak identik dengan liberalisasi, melainkan penguatan kedaulatan energi nasional.

Keadilan energi juga berarti harga yang terjangkau. Jangan sampai transisi energi menghasilkan listrik hijau yang harganya lebih mahal dari listrik fosil, sehingga membebani rakyat. Logikanya sederhana: transisi energi yang benar adalah transisi yang menurunkan biaya hidup masyarakat, bukan menambah. Oleh karena itu, desain insentif, regulasi, dan mekanisme subsidi harus diarahkan agar harga listrik dari energi terbarukan kompetitif. Di sini negara tidak boleh menyerahkan sepenuhnya kepada mekanisme pasar. Negara punya kewajiban konstitusional untuk hadir dan memastikan energi terbarukan tidak eksklusif.

Selain harga, partisipasi warga dalam pengambilan keputusan menjadi kunci. Kebijakan energi tidak boleh lahir di ruang tertutup, hanya ditentukan oleh teknokrat, investor, dan regulator. Rakyat harus punya ruang deliberasi, misalnya melalui konsultasi publik yang nyata, bukan sekadar formalitas. Jika masyarakat dilibatkan sejak awal, maka mereka akan merasa memiliki transisi energi itu. Sebaliknya, jika mereka merasa hanya diberi keputusan sepihak, resistensi sosial akan muncul. Transisi energi bukan hanya soal teknologi, melainkan juga soal demokrasi.

Kita juga harus berpikir lebih luas: transisi energi bukan sekadar memenuhi komitmen internasional, melainkan kesempatan untuk membangun ekonomi baru. Jika rakyat dilibatkan, mereka tidak hanya menjadi konsumen, tetapi juga produsen energi. Desa bisa menjual listrik ke PLN, koperasi bisa mengelola bioenergi, komunitas bisa mengembangkan usaha panel surya. Dengan begitu, transisi energi menjadi motor pemerataan ekonomi, bukan sekadar ladang investasi segelintir kelompok. Logika ini harus dihidupkan agar keadilan energi tidak berhenti sebagai jargon.

Pada akhirnya, transisi energi yang adil adalah transisi yang menempatkan rakyat sebagai pusat. Pertamina dan negara harus memastikan energi baru dan terbarukan hadir di seluruh lapisan masyarakat, dengan harga terjangkau, akses merata, dan ruang partisipasi terbuka. Jangan biarkan rakyat hanya jadi penonton dari panggung besar yang dimainkan elite. Sebab, energi adalah hak, bukan hadiah. Transisi energi yang adil akan memperkuat kedaulatan bangsa, sekaligus memperlihatkan bahwa Indonesia tidak hanya mampu mengikuti arus global, tetapi juga menciptakan model sendiri: transisi yang demokratis, partisipatif, dan berkeadilan.

*Penulis adalah Sekjen Visioner Indonesia

  • Penulis: Redaksi

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Mensesneg Prasetyo Hadi (Kanan)

    Presiden Minta Penataan Arsip Wilayah Demi Cegah Sengketa

    • calendar_month Rabu, 18 Jun 2025
    • account_circle Redaksi
    • visibility 19
    • 0Komentar

    JAKARTA, CUPLIKAN.CO.ID – Juru Bicara Presiden RI, Prasetyo Hadi, menekankan pentingnya penataan ulang arsip-arsip kewilayahan di berbagai kementerian dan lembaga negara untuk mencegah sengketa batas wilayah antarprovinsi. Hal ini disampaikan menyusul konflik administratif antara Pemerintah Provinsi Aceh dan Sumatera Utara atas empat pulau di wilayah perbatasan. “Ke depan harus kita rapikan semua arsip kita ini,” […]

  • Gambar adalah ilustrasi

    Penarikan Kartu Pers CNN Dinilai Ancaman Kebebasan Pers

    • calendar_month Minggu, 28 Sep 2025
    • account_circle Redaksi
    • visibility 23
    • 0Komentar

    JAKARTA, CUPLIKAN.CO.ID – Penarikan kartu pers Istana atas nama jurnalis CNN Indonesia, Diana Valencia, oleh Biro Pers Media Istana (BPMI) menuai sorotan tajam. Forum Pemimpin Redaksi (Forum Pemred) menilai langkah tersebut berpotensi mengancam kebebasan pers yang dijamin undang-undang di Indonesia. Dalam keterangan resminya, Forum Pemred menekankan bahwa negara berkewajiban melindungi kerja jurnalistik tanpa pengecualian, termasuk […]

  • Anggota DPR RI Fraksi PKS Dapil Jawa Timur 1 (Surabaya-Sidoarjo), Reni Astuti.

    Reni Astuti: Sinergi Penting untuk Keberlanjutan Pembangunan

    • calendar_month Kamis, 28 Nov 2024
    • account_circle Redaksi
    • visibility 11
    • 0Komentar

    SURABAYA – Anggota DPR RI dari Fraksi PKS Dapil Jawa Timur 1, Reni Astuti, optimistis bahwa hasil Pilkada 2024 yang mengunggulkan pasangan Khofifah Indar Parawansa-Emil Dardak di Jawa Timur serta Eri Cahyadi-Armuji di Surabaya akan menjamin keberlanjutan pembangunan di kedua wilayah tersebut. Reni menilai rekam jejak Khofifah-Emil sebagai pemimpin di tingkat provinsi sudah terbukti membawa […]

  • Demo Agustus

    Negara Dinilai Langgar HAM Berat, PJI Soroti Penahanan Aktivis

    • calendar_month Selasa, 23 Sep 2025
    • account_circle Redaksi
    • visibility 15
    • 0Komentar

    JAKARTA, CUPLIKAN.CO.ID – Perempuan Jaga Indonesia (PJI) menuding negara telah melakukan pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) berat dalam penanganan demonstrasi pro demokrasi Agustus 2025. Dari penangkapan sewenang-wenang hingga pembatasan hak menyusui bagi tahanan perempuan, deretan temuan PJI menyoroti praktik represif aparat yang dinilai mencederai prinsip keadilan. Menurut PJI, unjuk rasa yang menewaskan 10 orang dan […]

  • Pembacaan Manifesto Perempuan Partai Golkar oleh Noviyanti ( Bidang Pemberdayaan Perempuan Partai Golkar) dalam acara Silaturahmi Perempuan Partai Golkar sekaligus Peringatan Hari Ibu di Aula DPP Partai Golkar Slipi, Jakarta pada Jum'at (20/12/2024).

    Perempuan Golkar Deklarasikan Manifesto untuk Indonesia Inklusif dan Maju

    • calendar_month Jumat, 20 Des 2024
    • account_circle Redaksi
    • visibility 23
    • 0Komentar

    JAKARTA, CUPLIKAN.CO.ID – Perempuan Partai Golkar menegaskan komitmennya untuk berkontribusi dalam pembangunan Indonesia melalui pembacaan manifesto dalam Peringatan Hari Ibu 2024. Acara ini berlangsung di Aula DPP Partai Golkar, Slipi, Jakarta, pada Jumat (20/12/2024), yang juga dirangkaikan dengan bedah buku Memahat Jejak Merawat Asa karya Sri Suparni Bahlil. Novianti, yang membacakan manifesto, menegaskan bahwa perempuan […]

  • Pembina BAKUMHAM ALPEKSI, Dr.David Khan, SH.MH.

    Bakumham ALPEKSI Siapkan Bantuan Hukum Gratis dan Pelatihan Paralegal

    • calendar_month Kamis, 16 Jan 2025
    • account_circle Redaksi
    • visibility 21
    • 0Komentar

    JAKARTA, CUPLIKAN.CO.ID – Bakumham Asosiasi Lembaga Peningkatan Kapasitas SDM Indonesia (ALPEKSI) sebuah organisasi bantuan hukum yang telah terakreditasi, berkomitmen untuk memberikan bantuan hukum gratis kepada masyarakat yang membutuhkan. Hal ini disampaikan oleh Dr. David Khan, SH, MH, Pembina Bakumham Alpeksi, di Jakarta pada Kamis (16/1/2025)/ Ia  menegaskan bahwa organisasi ini akan mengikuti ketentuan yang tertuang […]

expand_less