Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Opini » Dua Beban, Satu Bangsa: Krisis Gizi Indonesia dan Urgensi Kepemimpinan Kebijakan Yang Berani

Dua Beban, Satu Bangsa: Krisis Gizi Indonesia dan Urgensi Kepemimpinan Kebijakan Yang Berani

  • account_circle Redaksi
  • calendar_month Selasa, 9 Jun 2026
  • visibility 50
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Oleh : Lela Kania Rahsa Puji, SKM., MKM.(Mahasiswi Program Doktoral Kesehatan Masyarakat, Universitas Muhammadiyah Jakarta, Dosen Program Studi S1 Kesehatan Masyarakat, STIKesWidya Dharma Husada Tangerang)

Krisis Yang Tidak Terlihat, Beban Yang Tidak Terangkat

Indonesia tidak sedang berhadapan dengan satu masalah gizi. Negeri ini memanggul tiga beban sekaligus yaitu anak-anak yang kekurangan gizi, orang dewasa yang makin banyak mengalami obesitas, dan masyarakat miskin yang masih dihantui infeksi parasit akibat sanitasi buruk. Tiga masalah itu berjalan beriringan, saling menindih, dan perlahan menjadi krisis kesehatan publik yang tidak bisa lagi hanya ditangani dengan cara biasa.

Selama bertahun-tahun, percakapan tentang gizi di Indonesia nyaris selalu berpusat pada stunting. Hal tersebut tidak keliru, karena stunting memang masih menjadi luka serius dalam pembangunan kesehatan Indonesia. Data Survei Status Gizi Indonesia Tahun 2024 menunjukkan prevalensi stunting nasional berada di angka 21,6 persen pada 2022, turun menjadi 21,5 persen pada 2023, lalu kembali menurun menjadi 19,8 persen pada 2024. Penurunan ini patut dicatat, tetapi belum cukup untuk dirayakan secara berlebihan. Artinya, sekitar satu dari lima balita Indonesia masih tumbuh dalam kondisi tidak optimal.

Bahkan di beberapa wilayah, masalahnya jauh lebih berat. NTT dan sejumlah daerah di Papua masih mencatat angka stunting yang melampaui 35 persen. Ini bukan sekadar statistik. Di balik angka itu ada anak-anak yang kehilangan kesempatan untuk tumbuh maksimal, keluarga yang hidup dalam keterbatasan pangan bergizi, dan negara yang berisiko kehilangan kualitas generasi masa depannya.

Namun stunting hanyalah satu sisi dari persoalan. Pada saat yang sama, Indonesia juga mulai menyaksikan wajah lain dari krisis gizi yaitu kelebihan berat badan sejak usia dini. Dalam SSGI 2024, prevalensi wasting pada balita tercatat 6,2 persen, severely wasting 1,2 persen, dan overweight serta obesitas mencapai 3,4 persen. Dengan kata lain, sebagian anak Indonesia kekurangan gizi akut, sementara sebagian lainnya mulai mengalami kelebihan berat badan. Dua masalah yang tampak berlawanan ini hidup dalam satu ekosistem kesehatan yang sama.

Krisis makin kompleks ketika melihat kondisi orang dewasa. Data Survei Kesehatan Indonesia 2023 menunjukkan prevalensi obesitas pada penduduk usia di atas 18 tahun meningkat dari 21,8 persen pada 2018 menjadi 23,4 persen pada 2023. Hampir satu dari empat orang dewasa Indonesia kini hidup dengan obesitas. DKI Jakarta mencatat prevalensi tertinggi sebesar 31,8 persen, disusul Papua 31,3 persen dan Sulawesi Utara 30,6 persen.lki

Obesitas bukan perkara bentuk tubuh, dia adalah pintu masuk menuju berbagai penyakit tidak menular, seperti hipertensi, diabetes, penyakit jantung, dan gangguan metabolik lainnya. Masalahnya, banyak penyakit itu tidak terdeteksi. SKI 2023 mencatat prevalensi hipertensi berdasarkan diagnosis dokter hanya 8,6 persen, tetapi berdasarkan pengukuran tekanan darah mencapai 30,8 persen. Artinya, banyak orang hidup dengan tekanan darah tinggi tanpa mengetahui kondisi apa yang sebenarnya sedang terjadi di dalam tubunya. Hal serupa terjadi pada diabetes. Prevalensi berdasarkan diagnosis dokter pada penduduk usia 15 tahun ke atas sebesar 2,2 persen, tetapi berdasarkan pemeriksaan gula darah mencapai 11,7 persen.

Inilah ironi kesehatan publik Indonesia. Di satu sisi, sebagian anak belum mendapat cukup zat gizi untuk tumbuh. Di sisi lain, pola konsumsi tinggi gula, garam, lemak, serta makanan ultra proses mendorong peningkatan obesitas dan penyakit tidak menular. Tubuh-tubuh Indonesia sedang ditarik oleh dua kutub yaitu kekurangan dan kelebihan yang sama-sama memiliki potensi resiko kesehatan.

Tetapi ada beban ketiga yang sering luput dari pembicaraan nasional yaitu infeksi parasit usus. Masalah ini bekerja diam-diam, terutama di wilayah dengan sanitasi buruk. Infeksi cacing dan protozoa tidak hanya menyebabkan diare. Ia dapat mengganggu penyerapan nutrisi, menurunkan nafsu makan, memicu kehilangan zat besi, serta memperparah kekurangan gizi.

Sebuah studi di Kabupaten Bandung terhadap anak usia 24-59 bulan menemukan 11,5 persen anak terinfeksi soil transmitted helminths atau cacing yang ditularkan melalui tanah. Studi lain di Pulau Sumba menemukan prevalensi infeksi protozoa usus sebesar 20 persen dari 291 sampel anak. Angka ini menunjukkan bahwa infeksi parasit bukan masalah masa lalu. Ia masih hadir di tengah masyarakat, terutama ketika akses air bersih dan sanitasi layak belum merata.

Mengapa Indonesia Membutuhkan Kebijakan yang Berani?

Tiga persoalan undernutrisi, overnutrisi, dan infeksi parasit bukan fenomena yang berdiri sendiri. Kajian Parajuli dan Oldewage-Theron Tahun 2025 dalam jurnal Nutrients menyebutnya sebagai Triple Burden of Malnutrition, yakni beban gizi tiga lapis yang banyak dialami negara berpenghasilan rendah dan menengah di Asia Selatan dan Asia Tenggara, termasuk Indonesia.

Konsep ini penting karena mengubah cara pandang kita terhadap krisis gizi. Malnutrisi tidak lagi bisa dipahami hanya sebagai soal kurang makan, namun terkait juga dengan kualitas pangan, sanitasi, kemiskinan, perilaku konsumsi, akses layanan kesehatan, ketimpangan wilayah, dan perubahan sosial ekonomi. Anak yang diberi makanan tambahan tetap bisa gagal tumbuh bila terus terpapar infeksi. Orang dewasa yang kenyang setiap hari tetap bisa kekurangan gizi mikro bila makanannya didominasi makanan ultra proses. Keluarga yang miskin bukan hanya kekurangan daya beli, tetapi juga sering hidup dalam lingkungan yang membuat penyakit mudah menyebar.

Karena itu, kebijakan gizi Indonesia membutuhkan keberanian baru. Pemerintah tidak cukup hanya mengejar penurunan stunting. Tidak cukup hanya membagikan makanan. Tidak cukup hanya mengampanyekan hidup sehat. Yang dibutuhkan adalah kepemimpinan kebijakan yang berani menyatukan isu gizi, sanitasi, penyakit tidak menular, keamanan pangan, dan ketimpangan sosial dalam satu kerangka besar. Langkah-langkah yang setidaknya dapat dilakukan pemerintah adalah Pertama, menjadikan Triple Burden of Malnutrition sebagai kerangka utama kebijakan gizi nasional. Keberhasilan kebijakan tidak boleh hanya diukur dari turunnya angka stunting, tetapi juga dari penurunan wasting, anemia, obesitas, infeksi parasit usus, konsumsi gula garam lemak berlebih, serta faktor risiko penyakit tidak menular seperti hipertensi dan diabetes.

Langkah kedua, mengakhiri cara kerja sektoral. Program stunting, obesitas, anemia, penyakit tidak menular, sanitasi, dan kecacingan tidak bisa lagi berjalan sendiri-sendiri. Setiap intervensi gizi anak harus disertai skrining kesehatan, pemantauan pertumbuhan, edukasi pangan sehat, imunisasi, pemberian obat cacing sesuai program, serta penyediaan air bersih dan sanitasi layak. Tanpa itu semua, kebijakan gizi hanya akan menambah makanan tanpa menghilangkan penyakit yang mencuri zat gizi dari tubuh anak.

Langkah ketiga, menjadikan Program Makan Bergizi Gratis sebagai instrumen transformasi pangan, bukan sekadar distribusi makanan. Program ini harus secara ketat memastikan standar gizi, rendah gula, garam, lemak, kaya protein dan serat, serta aman secara higienis. Jika tidak, program besar ini berisiko hanya menjadi proyek makan massal tanpa perubahan berarti terhadap kualitas gizi masyarakat. Di saat yang sama, pemerintah harus berani mengatur lingkungan pangan. Label peringatan pada produk tinggi gula, garam, dan lemak perlu diperkuat. Iklan makanan tidak sehat kepada anak perlu dibatasi. Minuman berpemanis di sekolah harus dikendalikan. Reformulasi produk pangan perlu didorong. Cukai minuman berpemanis pun tidak boleh terus ditunda bila pemerintah serius menekan risiko obesitas dan diabetes.

Langkah keempat, memperkuat tata kelola dan surveilans. Krisis gizi berlapis tidak bisa ditangani oleh Kementerian Kesehatan saja melainkan dibutuhkan kerja bersama lintas sektor seperti, Bappenas, Kemendikdasmen, Kemendagri, Kementerian PU, BPOM, Badan Gizi Nasional, pemerintah daerah, sekolah, Posyandu, Puskesmas, desa, hingga masyarakat sipil. Data juga harus diperkuat, bukan hanya untuk stunting, tetapi juga anemia, obesitas, penyakit tidak menular, konsumsi pangan, sanitasi, dan infeksi parasit.

Indonesia sudah memiliki banyak data namun yang kurang adalah keberanian untuk membaca data itu sebagai tanda bahaya yang saling terhubung. Selama krisis gizi diperlakukan sebagai program terpisah, kebijakan akan selalu tertinggal dari kenyataan. Anak-anak yang stunting, orang dewasa yang obesitas, dan keluarga yang hidup di lingkungan penuh parasit adalah bagian dari cerita yang sama yaitu ketimpangan kesehatan yang belum diselesaikan dari akarnya.

Krisis gizi Indonesia bukan lagi soal kurang makan semata, namun cermin dari cara negara mengatur pangan, lingkungan, layanan kesehatan, dan perlindungan sosial. Karena itu, kebijakan yang dibutuhkan bukan sekadar kebijakan teknis, melainkan kebijakan yang berani yaitu berani melampaui sektoral, berani mengatur industri pangan, berani memperkuat sanitasi, dan berani menempatkan gizi sebagai agenda utama pembangunan bangsa. (*)

Daftar Pustaka 

Hafidz, A. Z., Adrizain, R., & Setiabudi, D. (2025). Factors Associated with Soil-Transmitted Helminths Infections in Children Aged 24-59 Months in Bandung District, Indonesia. Majalah Kedokteran Bandung, 57(2), 156–164. https://doi.org/10.15395/mkb.v57.4135

Kemenkes. (2023). Hasil Utama SKI 2023. https://www.badankebijakan.kemkes.go.id/daftar-frequently-asked-question-seputar-hasil-utama-ski-2023/hasil-utama-ski-2023/

Kemenkes. (2025). SSGI 2024 Dalam Angka.

Kemenkes. (2026). Kemenkes Terbitkan Aturan Untuk Cegah Konsumsi Gula Berlebih. https://kemkes.go.id/id/kemenkes-terbitkan-aturan-untuk-cegah-konsumsi-gula-berlebih?utm_source=chatgpt.com

Parajuli, R., & Oldewage T, W. (2025). A Growing Triple Burden of Malnutrition in South Asia Due to the Cumulative Effect of Double Burden of Malnutrition and Parasitic Infections in South Asian Low- and Middle-Income Countries: A Scoping Review. Nutrients, 17(21), 3494. https://doi.org/10.3390/NU17213494/S1

Wahdini, S., Putra, V. P., & Sungkar, S. (2021). The Prevalence of Intestinal Protozoan Infections among Children in Southwest Sumba Based on the Type of Water Sources. Infection & Chemotherapy, 53(3), 519. https://doi.org/10.3947/IC.2021.0067

WHO. (2025). Noncommunicable diseases. https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/noncommunicable-diseases

  • Penulis: Redaksi

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Konpers DPP PKB terkait pernyataan Fadli Zon tentang Tragedi Mei 1998.

    PKB Tegaskan Negara Harus Bela Korban Kekerasan Seksual

    • calendar_month Selasa, 17 Jun 2025
    • account_circle Redaksi
    • visibility 16
    • 0Komentar

    JAKARTA, CUPLIKAN.CO.ID – Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) menegaskan pentingnya negara hadir membela para korban kekerasan seksual, termasuk mereka yang menjadi korban dalam tragedi kerusuhan Mei 1998. Pernyataan ini merespons pernyataan Menteri Kebudayaan Fadli Zon yang meragukan keberadaan pemerkosaan massal pada peristiwa tersebut. Wakil Sekretaris Dewan Syuro PKB, Maman Imanulhaq, dalam konferensi pers, Selasa (17/6), menyampaikan […]

  • Laras Faizati

    Pegawai Lembaga Internasional Ditangkap Usai Hasut Bakar Mabes Polri

    • calendar_month Kamis, 4 Sep 2025
    • account_circle Redaksi
    • visibility 16
    • 0Komentar

    JAKARTA, CUPLIKAN.CO.ID – Polisi menangkap pegawai kontrak lembaga internasional, Laras Faizati (26), yang diduga menghasut massa aksi untuk membakar Gedung Mabes Polri saat unjuk rasa pada Jumat (29/8). Direktur Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri Brigjen Himawan Bayu Aji mengatakan Laras ditangkap pada Senin (1/9) setelah penyidik menelusuri akun Instagram @Larasfaizati yang digunakan untuk menyebarkan konten […]

  • Rektor UICI Prof. Dr. Laode M. Kamaluddin, MSc., Meng., bersama Wakil Rektor Lely Pelitasari Soebekty, berfoto bersama dengan Wamentrans Viva Yoga Mauladi di Ruang Kerja Wamen Trans, Jakarta, Jumat (22/11/2024).

    Wamen Transmigrasi Viva Yoga Dorong Ekosistem Digital di Transmigrasi

    • calendar_month Jumat, 22 Nov 2024
    • account_circle Redaksi
    • visibility 13
    • 0Komentar

    JAKARTA, CUPLIKAN.CO.ID – Wakil Menteri Transmigrasi (Wamen Trans) Viva Yoga Mauladi menyambut baik gagasan Universitas Insan Cita Indonesia (UICI) untuk membangun ekosistem digital di kawasan transmigrasi. Gagasan tersebut disampaikan saat audiensi Rektor UICI Prof. Dr. Laode M. Kamaluddin, MSc., Meng., bersama Wakil Rektor Lely Pelitasari Soebekty, di Ruang Kerja Wamen Trans, Jakarta, Jumat (22/11). Viva […]

  • PT Pelindo Terminal Petikemas (SPTP)

    SPTP Tingkatkan Kualitas Operator QCC Lewat Program Refreshment

    • calendar_month Senin, 7 Okt 2024
    • account_circle Redaksi
    • visibility 19
    • 0Komentar

    MAKASSAR, RADAIANTVOICE.ID – PT Pelindo Terminal Petikemas (SPTP) melaksanakan Program Refreshment untuk operator Quay Container Crane (QCC) selama tiga hari, dari 28 September hingga 1 Oktober 2024, di Terminal Petikemas New Makassar. Kegiatan ini merupakan bagian dari upaya perusahaan untuk meningkatkan keselamatan, efisiensi, dan keunggulan operasional dalam proses bongkar muat petikemas. Seiring dengan kemajuan teknologi […]

  • Anggota Komisi II dan Badan Legislasi DPR RI Fraksi Partai Golkar, Ahmad Irawan (tengah) saat menyampaikan pemaparan dalam Dialog Publik bertajuk "Mencari Format Pemilu Terbaik 2029 Melalui Revisi Paket UU Politik: Menakar Tantangan Partai Politik Non-Parlemen", yang diadakan oleh DPP KNPI di Gedung Joeang, Cikini, Jakarta, Jumat (17/1/2025).

    Ahmad Irawan Dorong Revisi UU Pemilu 2025 dengan Metode Omnibus Law

    • calendar_month Jumat, 17 Jan 2025
    • account_circle Redaksi
    • visibility 14
    • 0Komentar

    JAKARTA, CUPLIKAN.CO.ID – Anggota Komisi II dan Badan Legislasi DPR RI dari Fraksi Partai Golkar, Ahmad Irawan, menegaskan pentingnya revisi Undang-Undang Pemilu melalui pendekatan Omnibus Law. Hal ini ia sampaikan dalam diskusi publik bertajuk “Mencari Format Pemilu Terbaik 2029 Melalui Revisi Paket UU Politik: Menakar Tantangan Partai Politik Non-Parlemen”, yang diadakan oleh DPP KNPI di […]

  • Teresa Mendoza (Putih) yang diperankan Alice Braga dalam salah satu adegan pada Film Queen of The South

    Dari Meksiko ke Amerika: Jalan Panjang Seorang Wanita Menjadi Ratu Kartel

    • calendar_month Rabu, 30 Okt 2024
    • account_circle Redaksi
    • visibility 18
    • 0Komentar

    JAKARTA, CUPLIKAN.CO.ID – “Queen of the South” adalah sebuah serial televisi drama kriminal Amerika yang menceritakan perjalanan seorang wanita, Teresa Mendoza, dalam dunia narkoba yang penuh kekerasan dan manipulasi. Dibintangi oleh Alice Braga sebagai Teresa, serial ini menyajikan kisah tentang perjuangan untuk bertahan hidup, membangun kekuatan, dan akhirnya merebut kekuasaan dalam dunia kartel narkoba yang biasanya […]

expand_less