Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Opini » Ketika Amran Mencari Kebenaran Disebut Pembreidelan

Ketika Amran Mencari Kebenaran Disebut Pembreidelan

  • account_circle Redaksi
  • calendar_month Senin, 3 Nov 2025
  • visibility 21
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Oleh: Septriadi Santoso*

JAKARTA, CUPLIKAN.CO.ID – Dalam ketegangan panjang antara pemerintah dan media, jarang sekali publik melihat dengan jernih apa yang sebenarnya terjadi. Terutama ketika suara yang paling keras justru berasal dari mereka yang paling mahir membentuk opini. Perseteruan antara Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman dan Tempo adalah bukti telanjang betapa kuatnya permainan narasi dapat mengaburkan fakta. Ketika seorang menteri memilih jalur hukum untuk mencari kebenaran, langkah itu justru dibalik seolah-olah sebagai serangan terhadap kebebasan pers. Padahal substansi sesungguhnya jauh lebih sederhana: kebenaran ingin diuji, namun pihak yang diberi kesempatan diuji justru memilih memainkan drama pembreidelan.

Gugatan lebih dari 200 miliar rupiah yang diajukan Mentan Amran bukanlah reaksi emosional, apalagi usaha untuk membungkam kritik. Gugatan itu muncul setelah pihaknya menilai PPR Dewan Pers menunjukkan bahwa pemberitaan Tempo bermasalah. Ketika mekanisme etik sudah ditempuh namun tetap diabaikan, wajar jika jalur hukum menjadi ruang berikutnya. Pengadilan adalah ruang paling terbuka untuk menguji data, dokumen, dan integritas. Tidak ada yang ditutup. Tidak ada yang dilarang. Tidak ada bredel. Namun Tempo dan AJI memilih memutar langkah hukum itu menjadi narasi bahwa pers sedang ditindas.

Sebagai pengamat komunikasi, saya melihat pola yang sangat jelas: Tempo dan AJI sedang memainkan kartu korban. Alih-alih menjawab substansi PPR Dewan Pers, mereka menggeser perdebatan dari soal akurasi menjadi soal kebebasan pers. Mereka memindahkan sorotan dari kewajiban akuntabilitas menjadi dramatisasi penindasan. Dengan satu diksi bernama “pembreidelan”, mereka mencoba menggiring publik agar percaya bahwa mereka sedang dikejar-kejar oleh kekuasaan, padahal tidak ada satu pun hak mereka yang dicabut.

Dan di tengah arus framing itulah muncul luka terdalam, bukan pada pejabat, bukan pada kementerian, tetapi pada 160 juta petani Indonesia dan seluruh pegawai sektor pangan. Luka itu muncul ketika Tempo merilis infografis “poles-poles beras busuk” dengan gambar karung berlubang penuh kecoa. Infografis yang mungkin dimaksudkan sebagai satire itu berubah menjadi penghinaan paling kasar terhadap para petani yang menghabiskan hidupnya untuk memastikan bangsa ini tidak kelaparan.

Untuk para petani, gambar itu bukan sekadar ilustrasi. Itu adalah penyangkalan terhadap martabat mereka. Beras yang mereka hasilkan dari hasil keringat, luka tangan, dan malam-malam panjang menjaga sawah dari hama, digambarkan seolah-olah busuk. Seolah hasil kerja mereka tak layak makan. Seolah apa yang mereka berikan kepada bangsa ini hanyalah sampah dan bangkai. Tidak ada satire yang bisa membenarkan visualisasi yang merendahkan seperti itu.

Di ruang redaksi ber-AC, mungkin infografis itu tampak kreatif. Tetapi di sawah, di gudang gabah, di kantor penyuluh, dan di lorong-lorong kerja pegawai Kementan, infografis itu menjadi tamparan keras. Mereka yang bekerja tanpa sorotan publik, yang bangun lebih pagi dari siapa pun dan pulang paling akhir merasa dilecehkan. Mereka bukan birokrat malas. Mereka bukan petani yang tidak tahu apa-apa. Mereka adalah tulang punggung pangan negeri ini. Ketika mereka digambarkan seolah-olah memoles beras busuk penuh kecoa, itu bukan kritik. Itu penghinaan.

Dan penghinaan itu menjadi semakin menyakitkan ketika pihak yang membuatnya tidak bersedia diuji kebenarannya. Ketika PPR Dewan Pers muncul, mereka tidak fokus pada substansi. Ketika gugatan diajukan untuk menguji data secara fair, mereka berteriak “pembreidelan”. Ketika pemerintah membela petani, mereka memutarbalikkannya sebagai ancaman terhadap kebebasan media. Padahal yang paling terancam bukanlah pers, melainkan kebenaran itu sendiri.

Kita harus berani mengatakan hal ini dengan jujur: Tempo dan AJI sedang menempatkan diri di atas kritik. Mereka ingin bebas menyerang, tetapi tidak mau diperiksa. Mereka ingin demokrasi berjalan, tetapi mereka tidak ingin menjalani bagian demokrasi yang paling mendasar—yakni akuntabilitas. Mereka memanfaatkan istilah “kebebasan pers” bukan sebagai prinsip luhur, melainkan sebagai perisai untuk menolak pertanggungjawaban.

Padahal dalam demokrasi sejati, media tidak boleh kebal. Kritik terhadap media bukanlah pembungkaman. Gugatan terhadap pemberitaan bukanlah bredel. Justru itu cara paling elegan untuk meluruskan informasi: bukan dengan membalas tulisan, bukan dengan mengancam, tetapi dengan mempersilakan pengadilan membuka fakta seterang-terangnya.

Di sektor pangan, pemerintah melaksanakan program-program strategis: pompanisasi, optimasi lahan, pencetakan sawah, penurunan harga pupuk, deregulasi distribusi, kenaikan HPP, serta bantuan alsintan dan saprodi. Hasilnya mulai terlihat di lapangan. Namun di tengah upaya ini, disinformasi bekerja seperti hama. Ia masuk pelan, menggigit persepsi, dan mengacaukan opiní publik—lebih merusak dibanding tikus sawah karena yang dihancurkannya bukan tanaman, tetapi kepercayaan.

Dan ketika infografis Tempo memperlihatkan beras penuh kecoa, itulah titik di mana disinformasi berubah menjadi penghinaan moral. Bukan hanya pada pemerintah, tetapi pada seluruh petani Indonesia. Pada titik itu pula langkah Amran menggugat bukan lagi sekadar persoalan hukum—tetapi sebuah sikap moral untuk membela harga diri mereka yang selama ini memberi makan bangsa.

Inilah yang seharusnya dipahami:
Ketika seorang menteri memilih mencari kebenaran, itu bukan pembreidelan. Yang menjadi bredel justru kebenaran itu sendiri ketika narasi diputarbalikkan.

Demokrasi tidak akan runtuh karena sebuah gugatan.Tetapi demokrasi bisa runtuh ketika media menolak diuji, menolak bertanggung jawab, dan menolak menghadapi kebenaran.

Ketika kebohongan berlindung di balik kata “bredel”, di situlah akal sehat bangsa harus berdiri dan berkata: CUKUP.

Dan hari ini, keberanian itu ditunjukkan oleh Mentan Amran—bukan untuk dirinya, tetapi untuk petani, untuk pegawai sektor pangan, dan untuk martabat sebuah bangsa yang hidup dari keringat di sawah.

 *Penulis adalah Jurnalis Independen

  • Penulis: Redaksi

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Aktivis 98 Nilai Reformasi Belum Hadirkan Keadilan Sosial, Soroti Kesejahteraan Rakyat dan Demokrasi

    Aktivis 98 Nilai Reformasi Belum Hadirkan Keadilan Sosial, Soroti Kesejahteraan Rakyat dan Demokrasi

    • calendar_month Jumat, 19 Jun 2026
    • account_circle DDY
    • visibility 87
    • 0Komentar

    Jakarta, editoria.co.id – Sejumlah aktivis Gerakan Reformasi 1998 menilai agenda Reformasi yang telah berjalan lebih dari dua dekade belum sepenuhnya mampu menghadirkan keadilan sosial dan demokrasi yang sehat sebagaimana dicita-citakan saat perjuangan Reformasi bergulir. Penilaian tersebut mengemuka dalam diskusi publik bertajuk “98 Menggugat, Lanjutkan Reformasi!!!” yang digelar di Jakarta, Kamis (18/6/2026). Kegiatan yang dimoderatori Ignatius […]

  • Logo AAI

    Soroti Proyek Buku Sejarah, AAI : Berpotensi Politis

    • calendar_month Jumat, 25 Jul 2025
    • account_circle Redaksi
    • visibility 26
    • 0Komentar

    JAKARTA, CUPLIKAN.CO.ID – Asosiasi Antropologi Indonesia (AAI) menyampaikan keprihatinan serius atas proses penyusunan Buku Sejarah Indonesia Tahun 2025 yang dianggap tidak transparan, terburu-buru, dan mengarah pada bentuk penulisan sejarah yang rawan dijadikan alat politik. Hal ini disampaikan AAI sebagai tanggapan atas undangan “Diskusi Publik” yang akan diselenggarakan pada 25 Juli 2025 di Fakultas Ilmu Pengetahuan […]

  • Anggota Komisi IX DPR RI Fraksi Partai Golkar, Ranny Fahd Arafiq

    Ranny Fahd Dukung Penghapusan Rujukan BPJS Kesehatan

    • calendar_month Sabtu, 13 Des 2025
    • account_circle Redaksi
    • visibility 23
    • 0Komentar

    JAKARTA, CUPLIKAN.CO.ID – Anggota Komisi IX DPR RI dari Fraksi Partai Golkar, Ranny Fahd Arafiq, menyatakan dukungan penuh terhadap rencana penghapusan sistem rujukan BPJS Kesehatan. Kebijakan tersebut dinilai sebagai langkah strategis untuk menghadirkan layanan kesehatan yang lebih cepat, sederhana, dan ramah bagi masyarakat. Menurut Ranny, penghapusan sistem rujukan merupakan terobosan progresif pemerintah bersama Komisi IX […]

  • Ketua MPR RI, Bambang Soesatyo, saat memimpin Sidang Paripurna Terakhir MPR RI Periode 2019-2024. Sumber foto : Setjen DPR/MPR

    MPR Sahkan Perubahan Tata Tertib, Bentuk Mahkamah Kehormatan Baru

    • calendar_month Rabu, 25 Sep 2024
    • account_circle Redaksi
    • visibility 18
    • 0Komentar

    JAKARTA, CUPLIKAN.CO.ID – Sidang Paripurna Akhir Masa Jabatan MPR 2019-2024 mengesahkan Peraturan MPR Nomor I/MPR/2024 tentang Tata Tertib Majelis Permusyawaratan Rakyat. Salah satu perubahan signifikan adalah pembentukan Mahkamah Kehormatan yang bersifat ad hoc, yang akan bertugas menangani pengaduan pelanggaran kode etik oleh anggota MPR. Keputusan ini diambil untuk meningkatkan integritas dan kredibilitas lembaga MPR dalam menjalankan […]

  • Pembacaan Manifesto Perempuan Partai Golkar oleh Noviyanti ( Bidang Pemberdayaan Perempuan Partai Golkar) dalam acara Silaturahmi Perempuan Partai Golkar sekaligus Peringatan Hari Ibu di Aula DPP Partai Golkar Slipi, Jakarta pada Jum'at (20/12/2024).

    Perempuan Golkar Deklarasikan Manifesto untuk Indonesia Inklusif dan Maju

    • calendar_month Jumat, 20 Des 2024
    • account_circle Redaksi
    • visibility 22
    • 0Komentar

    JAKARTA, CUPLIKAN.CO.ID – Perempuan Partai Golkar menegaskan komitmennya untuk berkontribusi dalam pembangunan Indonesia melalui pembacaan manifesto dalam Peringatan Hari Ibu 2024. Acara ini berlangsung di Aula DPP Partai Golkar, Slipi, Jakarta, pada Jumat (20/12/2024), yang juga dirangkaikan dengan bedah buku Memahat Jejak Merawat Asa karya Sri Suparni Bahlil. Novianti, yang membacakan manifesto, menegaskan bahwa perempuan […]

  • Bank Indonesia

    BI Siap Turunkan Suku Bunga, FORMASI Keuangan: Apakah UMKM Kebagian ?

    • calendar_month Jumat, 4 Jul 2025
    • account_circle Redaksi
    • visibility 13
    • 0Komentar

    JAKARTA, CUPLIKAN.CO.ID – Bank Indonesia kembali memberi sinyal pelonggaran moneter. Dalam Rapat Kerja bersama Komisi XI DPR RI, Jumat, 4 Juli 2025, Gubernur BI Perry Warjiyo menyatakan masih ada ruang untuk menurunkan suku bunga acuan demi mendorong pertumbuhan ekonomi. Namun, Forum Rakyat dan Masyarakat untuk Reformasi Keuangan (FORMASI Keuangan) mengingatkan: jangan sampai pelaku UMKM dan […]

expand_less