Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Opini » Jurnalis Korban MBG

Jurnalis Korban MBG

  • account_circle Redaksi
  • calendar_month Senin, 29 Sep 2025
  • visibility 23
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Oleh : Ahmadie Thaha*

JAKARTA, CUPLIKAN.CO.ID – Ada yang lucu sekaligus getir di republik kita tercinta. Seorang jurnalis yang ngepos di Istana, Diana Valencia, tiba-tiba “dieksekusi” secara administratif. Alasannya, hanya gara-gara dia mengajukan pertanyaan ke Presiden untuk meminta konfirmasi soal Makan Bergizi Gratis (MBG) yang belakangan bikin banyak anak bangsa sakit perut berjamaah.

Pesan Diana, jurnalis CNN Indonesia, di grup WhatsApp rekan-rekannya singkat saja, “Selamat malam, kakak². Per malam ini saya bukan wartawan istana lagi, karena ID card sudah diambil oleh Biro Pers, Media dan Informasi karena saya dinilai bertanya di luar konteks acara.” Waduh, BMG bukan cuma bikin keracunan massal, tapi juga bikin jurnalis korban keracunan politik.

Waduh, waduh lagi. Rupanya pertanyaan tentang gizi bisa dianggap out of context di istana, hanya karena Prabowo mungkin dianggap lebih senang bicara soal kunjungannya ke luar negeri atau apalah. Mungkin pula, bagi sebagian pejabat, “konteks acara” itu cuma foto-foto formal, senyum kaku, dan mikrofon yang dipakai bukan untuk bertanya, tapi untuk karaoke protokol.

Padahal, Presiden Prabowo setelah itu bicara juga ihwal keracunan BMG. Dengan wajah serius, dia berkomentar: “Kita harus waspada, jangan sampai keracunan ini dipolitisasi.” Nah, di satu sisi Biro Pers Istana “melarang” jurnalis bertanya, tapi di sisi lain Presiden sendiri bicara soal yang ditanya si wartawan.

Tapi, komentar Presiden justru memunculkan pertanyaan balik: bukankah MBG sendiri lahir dari proses politik, bahkan menjadi janji manis di panggung kampanye Pilpres? Kalau janji politik kemudian bermasalah di lapangan, siapa yang berhak bertanya kalau bukan jurnalis? Atau kita tunggu sampai ayam dapur MBG ikut keracunan juga, barulah itu boleh dibicarakan?

Tak tunggu lama, Dewan Pers langsung menegaskan agar akses liputan Diana dikembalikan, dengan membiarkannya meliput kembali di lingkungan Istana. Ketua Dewan Pers, Komaruddin Hidayat, bahkan mengingatkan bahwa kemerdekaan pers dijamin oleh Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999. Melanggar UU ini, ancamannya adalah pidana.

Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI) juga ikut bersuara, menilai pertanyaan Diana ke Presiden “sepenuhnya sesuai kode etik jurnalistik” dan menyangkut kepentingan publik. AJI Jakarta menambahkan: ini bukan sekadar soal seorang wartawan, tapi soal “hak publik mendapatkan informasi”.

LBH Pers lebih keras lagi: tindakan penyitaan ID wartawan bisa dipandang sebagai penghalangan kerja jurnalistik —dan itu ada ancaman pidananya sampai dua tahun penjara. Jadi yang out of context sebetulnya bukan pertanyaan Diana, melainkan logika Biro Pers yang lebih cepat mencabut kartu wartawan daripada mencabut akar masalah keracunan.

Sungguh ironis. Di negara lain, jurnalis justru dianggap “penjaga pintu demokrasi”. Di Amerika Serikat, wartawan boleh mengajukan pertanyaan pedas bahkan kepada presiden yang temperamen seperti Trump. Di Inggris, jurnalis bisa mengejar Perdana Menteri sampai pintu rumahnya.

Di Korea Selatan, media diberi ruang luas untuk menguliti kebijakan publik —mulai dari subsidi beras sampai skandal politik. Tapi di sini? Baru nanya soal gizi gratis saja yang jelas-jelas bikin keracunan di mana-mana, sudah dianggap mengganggu agenda negara. Jangan-jangan nanti wartawan yang bertanya soal harga cabe dianggap “provokator cabai rawit”.

Mari kita refleksikan sedikit dengan kacamata akademis. Program MBG ini, pada dasarnya, adalah kebijakan sosial berbasis janji politik. Dalam literatur kebijakan publik, ada yang disebut policy feedback effect yaitu ketika program politik menyentuh langsung perut rakyat, ia tidak bisa steril dari kritik.

Jika program MBG gagal —misalnya memicu keracunan massal— maka kritik bukan sekadar wajar, tapi “kewajiban etis” bagi jurnalis. Data awal menunjukkan beberapa dapur MBG memang belum memenuhi standar higiene dan sanitasi. Pemerintah buru-buru mewajibkan sertifikasi dapur MBG. Bagus sih, tapi mengapa harus menunggu korban?

Lihat perbandingannya. Di Jepang: program makan siang sekolah (kyuushoku) dijalankan sejak 1950-an. Dikelola oleh ahli gizi profesional, dapurnya diaudit ketat, dan menunya ditentukan berdasarkan standar kesehatan nasional. Anak-anak bahkan belajar nutrisi di kelas, jadi ada aspek edukasi.

Kemudian di India, program Midday Meal Scheme melayani lebih dari 120 juta anak tiap hari. Walau pernah ada kasus keracunan, pemerintah merespons dengan standar kualitas makanan yang lebih ketat, sistem pengawasan masyarakat, dan transparansi distribusi bahan pangan. Masyarakat dilibatkan penuh.

Pemerintah Brasil, melalui Programa Nacional de Alimentação Escolar (PNAE), mensyarakatkan minimal 30 persen bahan makanan harus dibeli dari petani lokal. Sehingga, dengan demikian, progman makan siang gratis bagi jutaan siswa bukan hanya soal gizi, tapi juga pemberdayaan ekonomi rakyat.

Tetangga dekat Malaysia memiliki Rancangan Makanan Tambahan untuk anak sekolah dasar sejak 1979. Sudah lama banget ya, sementara kita baru memulainya dengan penuh tragedi. Program ini diawasi langsung oleh Kementerian Pendidikan dan Kementerian Kesehatan, dengan syarat pemasok makanan wajib tersertifikasi.

Kembali ke pencabutan kartu liputan Diana Valencia di Istana, itu sebetulnya bukan sekadar kasus wartawan diusir. Ia memunculkan gejala serius: “demokrasi kita sedang sakit perut.” Kalau jurnalis tidak boleh bertanya soal gizi, lalu publik akan mendapat informasi dari siapa? Dari baliho? Dari akun medsos buzzer yang lebih sibuk membagikan pantun politik?

Kalau benar pemerintah takut bahwa kasus keracunan MBG akan dipolitisasi, seharusnya jawab dengan data, dengan transparansi, dengan evaluasi terbuka. Bukan malah membungkam pertanyaan. Karena dalam demokrasi, membungkam pertanyaan sama saja dengan menutup mulut rakyat. Dan rakyat yang lapar, apalagi keracunan, mulutnya jangan ditutup —itu bisa bahaya.

Mungkin benar kata seorang akademisi gizi politik (kalau ada istilah itu): kita ini bangsa yang lebih mudah kenyang oleh janji politik ketimbang kenyang oleh makan bergizi. Dan ketika perut rakyat benar-benar bermasalah karena program politik yang tergesa-gesa, wartawanlah yang pertama kali jadi sasaran.

Padahal, bukankah kritik itu sejenis vitamin demokrasi? Kalau vitamin ini disita bersama ID Card wartawan, jangan-jangan nanti yang keracunan bukan hanya anak-anak penerima MBG, tapi juga sistem demokrasi kita sendiri.

Jadi, kalau ada pejabat bilang, “keracunan BMG jangan dipolitisasi”, mungkin kita perlu balik bertanya: “Lha, siapa dulu yang menjanjikan MBG dalam kampanye-kampanye politiknya?”

Kalau wartawan dilarang bertanya, ya biarlah rakyat yang menjawab dengan cara mereka sendiri. Dan itu biasanya jauh lebih pedas daripada pertanyaan wartawan mana pun.

*Penulis adalah Wartawan Senior

  • Penulis: Redaksi

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Kendaraan taktis Brimob jenis barracuda saat melindas seorang driver ojek online dan melukai satu orang lainnya.

    PB HMI Desak Kapolri Mundur Usai Insiden Brutal Polisi Lindas Ojol

    • calendar_month Jumat, 29 Agt 2025
    • account_circle Redaksi
    • visibility 15
    • 0Komentar

    JAKARTA, CUPLIKAN.CO.ID – Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam (PB HMI) mengecam keras tindakan brutal aparat kepolisian dalam penanganan aksi demonstrasi di Jakarta pada Kamis (28/8/2025). Insiden tabrak lari menggunakan kendaraan taktis Brimob jenis barracuda menewaskan seorang driver ojek online dan melukai satu orang lainnya. Ratusan massa aksi juga ditangkap secara sewenang-wenang oleh aparat. Ketua Bidang […]

  • Calon Gubernur Bali nomor urut 01 Made Muliawan Arya alias De Gadjah di atas helikopter untuk kampanye. Sumber foto : Radar Bali

    De Gadjah Gunakan Helikopter Prabowo: Demi Rakyat, Bukan Pencitraan

    • calendar_month Sabtu, 16 Nov 2024
    • account_circle Redaksi
    • visibility 16
    • 0Komentar

    DENPASAR – Calon Gubernur Bali nomor urut 1, Made Muliawan Arya alias De Gadjah, menjelaskan alasan menggunakan helikopter selama kampanye Pilgub Bali 2024. Ia menekankan bahwa fasilitas tersebut diberikan langsung oleh Presiden Prabowo Subianto untuk menunjang mobilitasnya di lapangan. “Karena fasilitas sudah disiapkan, pakai lah helikopter,” ujar De Gadjah dalam keterangannya, Jumat (15/11/2024) kemarin. Menurut […]

  • Jajaran DPP PSI saat bertemu Presiden Jokowi. Sumber Foto: Raja Juli Antoni

    Jokowi Tegaskan Tak Campuri Keputusan Politikus Masuk PSI

    • calendar_month Senin, 13 Okt 2025
    • account_circle Redaksi
    • visibility 22
    • 0Komentar

    SOLO, CUPLIKAN.CO.ID – Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) menegaskan dirinya tidak ikut campur dalam keputusan sejumlah politikus yang kini bergabung dengan Partai Solidaritas Indonesia (PSI). Ia menepis tudingan bahwa perpindahan sejumlah tokoh politik ke PSI terjadi karena pengaruh atau dorongan dari dirinya. “Tidak ada paksaan, tidak ada ajakan,” kata Jokowi kepada wartawan usai menghadiri […]

  • Beberapa buku Delpedro Marhaen yang disita pihak aparat kepolisian

    Polisi Kembalikan 16 Buku Delpedro Usai Disita Kasus Demo

    • calendar_month Jumat, 3 Okt 2025
    • account_circle Redaksi
    • visibility 15
    • 0Komentar

    JAKARTA, CUPLIKAN.CO.ID – Polda Metro Jaya mengembalikan 16 buku milik Direktur Eksekutif Lokataru Foundation Delpedro Marhaen, tersangka kasus dugaan penghasutan dalam demonstrasi Agustus lalu. Manajer Penelitian dan Pengetahuan Lokataru Foundation, Hasnu Ibrahim, menyebut buku-buku tersebut dikembalikan dua hari lalu, sebelum pihaknya mendaftarkan permohonan praperadilan Delpedro dan kawan-kawan di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Jumat (3/10/2025). “Patut […]

  • Komandan TKN Fanta, Arief Rosyid Hasan

    Politisi Muda Golkar Nilai Arief Rosyid Hasan Layak Jadi Menteri Pemuda dan Olahraga

    • calendar_month Sabtu, 13 Sep 2025
    • account_circle Redaksi
    • visibility 16
    • 0Komentar

    JAKARTA, CUPLIKAN.CO.ID – Politisi muda Partai Golkar, M. Fauzan Irvan, menilai tokoh pemuda nasional Arief Rosyid Hasan merupakan figur yang tepat untuk menduduki jabatan Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) di kabinet mendatang. Menurut Fauzan, rekam jejak Arief Rosyid dalam dunia kepemudaan dan olahraga sudah terbukti sejak lama. Sebagai mantan Ketua Umum PB HMI, anggota Steering […]

  • Menteri Kehutanan, Raja Juli Antoni bersama Presiden ke-7 RI, Joko Widodo kemarin di Solo, Senin (26/5/2025).

    Lagi! Menteri-Menteri Sambangi Rumah Jokowi, Ada Agenda Politik Apa?

    • calendar_month Selasa, 27 Mei 2025
    • account_circle Redaksi
    • visibility 15
    • 0Komentar

    SOLO, CUPLIKAN.CO.ID – Sejumlah menteri dari Kabinet Indonesia Maju kembali terlihat mendatangi kediaman Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) di Sumber, Solo, Jawa Tengah memicu spekulasi publik soal matahari kembar dan kongres beberapa partai politik. Salah satu yang hadir adalah Menteri Kehutanan sekaligus Sekjen PSI, Raja Juli Antoni. Ia tiba sekitar pukul 16.07 WIB dan […]

expand_less