Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Opini » Neo Sumitronomics

Neo Sumitronomics

  • account_circle Redaksi
  • calendar_month Selasa, 16 Sep 2025
  • visibility 23
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Oleh : Ahmadie Thaha*

JAKARTA, CUPLIKAN.CO.ID – Presiden Prabowo Subianto sudah memanggil Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa ke Istana untuk membahas stimulus ekonomi. Jelas ini terkait gebrakannya sebelumnya yaitu keputusan menggelontorkan dana Rp 200 triliun ke perbankan umum. Bersama itu, dengan gaya koboi, ia tampil di sejumlah forum offline dan online untuk menjelaskan platform kebijakan ekonominya.

Itu membuat jejak digitalnya makin panjang. Sebelum masuk kabinet, ia sudah fasih bicara tentang mengapa Prabowo menunjuknya. Jejak itu bernama Sumitronomics. Purbaya sejak lama bukan sekadar ekonom birokratis. Kedudukannya di Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) tak membatasinya menjadi “penginjil” Trilogi Pembangunan ala Profesor Sumitro Djojohadikusumo.

Dari seminar ke seminar, termasuk di panggung LPS Financial Festival 2025 yang berlangsung sampai dua hari di Medan, ia menjual satu paket retorika soal pertumbuhan tinggi, pemerataan manfaat pembangunan, dan stabilitas nasional. Tiga mantra itu dibungkus dengan label keren, Sumitronomics.

Di panggung Medan itu, dengan gaya santai yang kadang meledak seperti stand-up comedy, Purbaya berkata: “Kita lebih pintar sedikit dari IMF.” Ucapan ini tentu saja memancing tawa dan tepuk tangan ratusan hadirin, sebagian besar mahasiswa berseragam biru. Ungkapan sama diulanginya di forum-forum lain.

Namun di balik humor itu ada strategi branding, ia sedang menampilkan diri beda dari Menkeu sebelumnya, sekaligus menempatkan Indonesia sebagai murid bandel yang tak mau lagi dikuliahi oleh Washington Consensus. Pesannya jelas, “Kemandirian ekonomi, modal domestik, dan industrialisasi adalah kunci.”

Dan itu selaras dengan ambisi Prabowo yang sejak awal kampanye terobsesi pada “berdikari”, semangat berdiri di atas kaki sendiri. Obsesi ini ia percayakan pada Purbaya, seorang teknisi yang melompat jadi ekonom, yang paham betul bagaimana mengatasi paradoks-paradoks yang sudah jadi kanker di Indonesia.

Tetapi jangan buru-buru tepuk tangan. Purbaya sendiri lihai memainkan paradoks. Ia bisa menyebut ekonomi Indonesia tangguh karena ditopang permintaan domestik 90 persen, sambil meremehkan prediksi ekonom global yang katanya “selalu salah.”

Namun, dalam satu tarikan napas, ia juga menjadi Keynesian yang mengandalkan animal spirits sekaligus monetaris yang menghitung M0 ala Sumitro. Netizen dengan nada sinis menyebutnya “jurus bacot lebar,” tetapi bagi Prabowo justru inilah aset: menteri keuangan yang bisa jadi penghibur sekaligus penyangga fiskal.

Untuk memahami konteks, kita perlu mundur ke masa Orde Baru. Trilogi Pembangunan yang diwariskan Sumitro bukan sekadar jargon. Ia menjadi kitab suci ekonomi rezim Soeharto yaitu pertumbuhan, pemerataan dan stabilitas.

Pertumbuhan dijaga lewat industrialisasi ringan dan eksploitasi sumber daya alam. Pemerataan diwujudkan melalui kredit murah, subsidi pupuk, dan Inpres Desa. Stabilitas ditegakkan lewat pengendalian inflasi, tapi juga represi politik.

Sekilas, hasilnya mengagumkan. Indonesia keluar dari jebakan agraris miskin dan masuk jajaran “macan Asia” kelas menengah. Pertumbuhan rata-rata tujuh persen di era 1970–1990-an membuat kota-kota baru tumbuh, sawah berisi traktor, televisi berwarna masuk kampung.

Pak Harto dengan senyum khasnya bangga betul. Inilah masa ketika jargon trickle down effect digembar-gemborkan bahwa cukup bikin ekonomi tumbuh, manfaatnya akan merembes ke bawah. Sebuah keyakinan yang ternyata rapuh.

Sejarah mencatat, Trilogi Pembangunan menyimpan cacat bawaan. Pertumbuhan tinggi, tetapi rapuh karena ketergantungan pada utang luar negeri dan rente konglomerat. Bung Hatta yang menekankan koperasi terpinggirkan.

Pemerataan justru melahirkan kesenjangan: elit menikmati rente, petani dan buruh tetap gigit jari. Stabilitas ternyata semu, ditegakkan dengan pembatasan politik. Begitu krisis moneter 1997 datang, semua retak: pertumbuhan ambruk, pemerataan hilang, stabilitas berubah jadi kerusuhan.

Kini, lewat Purbaya, warisan itu bangkit lagi dengan label baru yakni Sumitronomics. Bedanya, kali ini dijual dalam suasana demokrasi terbuka, dengan modal domestik yang lebih besar, serta pasar kelas menengah yang sudah terbentuk.

Bukti kebangkitan terlihat dari cara Purbaya menampilkan data-data rinci yang membandingkan era SBY dan Jokowi. Meski SBY mencatat pertumbuhan lebih tinggi, katanya, kepercayaan publik justru lebih rendah dibanding Jokowi.

Orang bertanya, kenapa? Ia jawab, karena Jokowi rajin bagi-bagi program langsung ke rakyat. Inilah tafsir baru Trilogi: pemerataan tak cukup dengan teori trickle down, harus ada transfer fiskal langsung.

Analisis ini dalam kerangka akademis tidak salah. Literatur politik-ekonomi membuktikan legitimasi fiskal lebih kokoh bila rakyat merasakan manfaat konkret. Namun gaya Purbaya membuat teori serius terdengar enteng.

Meyakinkan mahasiswa, tanpa sungkan, ia bilang, “Kalau saya ngomong pasti benar, dengerin aja. Ha ha ha.” Di titik ini ia menjelma jadi hibrida: ekonom, politisi, dan pelawak panggung. Cocok untuk kabinet Prabowo yang doyan retorika heroik bercampur guyonan warung kopi.

Bagi Prabowo, pilihan pada Purbaya tak lepas dari garis darah. Ayahnya, Sumitro, bermimpi membangun industrialisasi dengan modal domestik, bukan hutang. Sebuah mimpi yang tak pernah jadi kenyataan. Kini, Prabowo ingin mewarisi mimpi itu lewat seorang menteri yang bisa menjualnya sebagai paket politik baru: kemandirian ekonomi ala Sumitronomics.

Apakah strategi ini ilmiah? Ya dan tidak.

Ya, karena data tentang konsumsi domestik 62 persen PDB plus investasi 27 persen memang benar adanya. Itu pondasi yang membuat Indonesia relatif tahan guncangan eksternal.

Tidak, karena optimisme berlebihan bisa menutupi masalah struktural: produktivitas rendah, ketergantungan impor pangan, dan beban utang BUMN yang berat.

Maka publik berhak sinis: jangan-jangan Sumitronomics hanyalah nama keren untuk politik bagi-bagi. Tetapi Prabowo tahu: Purbaya bukan sekadar penghafal teori. Ia piawai menenangkan pasar saat pandemi, dan mampu menghibur audiens dengan menyebut Sumitro sebagai “ekonom pintar yang kesepian di zaman bambu runcing.”

Mungkin inilah alasan yang tak pernah diucapkan Prabowo dengan gamblang bahwa memilih Purbaya bukan sekadar soal teknokrasi, melainkan juga soal komunikasi. Bahwa Sumitronomics bukan sekadar warisan Sumitro, melainkan bahasa politik yang merakyat.

Pertanyaannya kini adalah, apakah Purbaya akan menulis bab baru dari Trilogi Pembangunan yang lebih adil, dengan koreksi atas berbagai kesalahan Pak Harto, jadi Neo Sumitronomics. Atau, justru ia akan mengulang cacat lama, pertumbuhan tanpa pemerataan, stabilitas semu yang rapuh?

Jawaban itu masih menunggu. Untuk sementara, rakyat cukup mengamati sambil senyum miris: ekonomi memang bukan hanya angka, tetapi juga panggung retorika. Dan, seperti biasa, diskusi panjang diakhiri komentar sederhana “lihat saja nanti!”

*Penulis adalah Wartawan Senior

  • Penulis: Redaksi

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Anggota DPR RI FPKB, Usman Husin

    Usman Minta Program Kereta Petani Dievaluasi agar Manfaat Maksimal

    • calendar_month Senin, 1 Des 2025
    • account_circle Redaksi
    • visibility 20
    • 0Komentar

    JAKARTA, CUPLIKAN.CO.ID – Anggota Komisi IV DPR RI Fraksi PKB, Usman Husin, meminta pemerintah dan KAI Commuter melakukan evaluasi berkelanjutan terhadap pengoperasian Kereta Petani–Pedagang rute Merak–Rangkasbitung yang resmi berjalan sejak Senin (1/12/2025). Menurutnya, program ini sangat bermanfaat, namun perlu penataan lebih lanjut agar tidak kehilangan efektivitas. Usman menilai kehadiran kereta khusus tersebut telah membuka akses […]

  • Workshop Pendidikan bertema “Pendidikan untuk Semua: Peran Perempuan dalam Meningkatkan Mutu Pendidikan” yang digelar oleh Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah RI bersama DPP Pengajian Al-Hidayah di Hotel Pullman, Jakarta pada Minggu (4/5/2025).

    Pengajian Al-Hidayah Tegaskan Peran Strategis Perempuan dalam Pendidikan Nasional

    • calendar_month Minggu, 4 Mei 2025
    • account_circle Redaksi
    • visibility 25
    • 0Komentar

    Perempuan memiliki peran kunci dalam mendorong kemajuan pendidikan di Indonesia, baik sebagai ibu, pendidik, maupun pengambil kebijakan. Isu ini menjadi pokok pembahasan dalam Workshop Pendidikan bertema “Pendidikan untuk Semua: Peran Perempuan dalam Meningkatkan Mutu Pendidikan” yang digelar oleh Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah RI bersama DPP Pengajian Al-Hidayah di Hotel Pullman, Jakarta. Acara ini mempertemukan […]

  • Imas Aan Ubudiyah, Anggota Komisi VI DPR RI Fraksi PKB

    Imas Aan Desak Pemerintah Tegas Hentikan Impor Pakaian Bekas

    • calendar_month Jumat, 24 Okt 2025
    • account_circle Redaksi
    • visibility 17
    • 0Komentar

    JAKARTA, CUPLIKAN.CO.ID – Anggota Komisi VI DPR RI Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Imas Aan Ubudiyah, mendesak pemerintah bertindak tegas menghentikan impor pakaian bekas yang dinilai merusak ekosistem industri tekstil nasional. Ia menegaskan, penghentian tidak boleh sebatas di tingkat distribusi, tetapi harus dilakukan sejak sumber impor di luar negeri. Menurut Imas, rencana Menteri Keuangan (Menkeu) […]

  • Pengurus DPP Partai Golkar yang dipimpin Bahlil Lahadalia melakukan silaturahmi ke Sri Sultan Hamengkubowono X di Yogyakarta, Minggu (18/5/2025).

    Demokrasi Terlalu Mahal,Golkar Siapkan Sistem Politik Baru

    • calendar_month Senin, 19 Mei 2025
    • account_circle Redaksi
    • visibility 19
    • 0Komentar

    YOGYAKARTA, CUPLIKAN.CO.ID – Ketua Umum Partai Golkar Bahlil Lahadalia mengungkapkan partainya tengah menggagas sistem politik baru yang akan ditawarkan kepada pemerintah. Hal ini disampaikan dalam Musyawarah Daerah (Musda) XI Partai Golkar di Yogyakarta pada Minggu (18/5/2025). “Saat ini kami sedang mendorong adanya pemikiran-pemikiran terkait sistem politik yang akan dibangun di Indonesia,” ujar Bahlil dalam sambutannya. […]

  • Cak Imin, Ketua Umum DPP PKB

    Cak Imin Santai Tanggapi Kisruh Dualisme Kepemimpinan PPP

    • calendar_month Minggu, 28 Sep 2025
    • account_circle Redaksi
    • visibility 22
    • 0Komentar

    JAKARTA, CUPLIKAN.CO.ID – Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Muhaimin Iskandar atau Cak Imin melontarkan candaan menanggapi kisruh dualisme kepemimpinan Partai Persatuan Pembangunan (PPP). Gurauan itu disampaikan saat ia berpidato dalam Musyawarah Nasional (Munas) VI Partai Keadilan Sejahtera (PKS) di Hotel Sultan, Jakarta, Minggu (28/9/2025) malam. “Yang terhormat para menteri Kabinet Menteri Putih yang hadir, […]

  • Kepala BPOM, dr.Taruna Ikrar

    BPOM Raih Predikat Lembaga Paling Informatif di KIP

    • calendar_month Kamis, 19 Des 2024
    • account_circle Redaksi
    • visibility 18
    • 0Komentar

    JAKARTA, CUPLIKAN.CO.ID – Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI kembali mencetak prestasi dengan meraih predikat sebagai ‘Lembaga Paling Informatif’ dari Komisi Informasi Pusat (KIP). Penghargaan ini diberikan untuk kategori Lembaga Pemerintah Non Kementerian, dengan skor tertinggi “96,63” dalam evaluasi keterbukaan informasi publik. Kepala BPOM RI, Taruna Ikrar, menyampaikan kebanggaannya atas pencapaian ini. “Alhamdulillah BPOM […]

expand_less