Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Opini » Ketika Mustasyar Memanggil

Ketika Mustasyar Memanggil

  • account_circle Redaksi
  • calendar_month Senin, 16 Sep 2024
  • visibility 34
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Oleh. Fathorrahman Fadli*

Pagi ini Senin (16/9) pukul 01.49 WIB, saya baru saja selesai mendengar penjelasan Gus Mus soal keributan kecil antara Muhaimin Iskandar selaku Ketua Umum PKB dengan Ketua Umum PBNU, K.H.Yahya Staquf atau akrab dipanggil Gus Yahya.

Keributan ini, jelas Gus Mus,- KH.Mustofa Bisri- beliau sederhanakan sebagai persoalan Muhaimin dan Yahya belaka, bukan persoalan PKB dan NU. Dahulu, dua tokoh ini berteman biasa. Sama-sama mahasiswa Universitas Gajah Mada. Artinya, keduanya anak-anak NU yang pintar. Buktinya mereka lulus tes UMPTN dan lalu diterima kuliah di universitas bergengsi- UGM. Waktu Gus Dur berkuasa, mereka sama-sama berada di sekitar istana. Gus Yahya waktu itu sempat menjadi Juru bicara kepresidenan, sementara Muhaimin sudah menjadi anggota DPR RI di Senayan sana.

Keduanya, sama-sama menyicipi nikmatnya kekuasaan. Walaupun nasib Gus Yahya dalam menikmati kekuasaan itu lebih pendek, seturut dengan pendeknya masa kepemimpinan Gus Dur. Kala itu, Muhaimin, Gus Yahya, dan Adi Massardi yang juga jubir Gus Dur sempat sama-sama umroh berpakaian ihrom. Jadi semua rukun-rukun saja di bawah asuhan Gus Dur.

Waktu Gus Dur menjabat Ketua Umum PBNU, Gus Yahya memang dekat sekali, bahkan setiap hari bersama Gus Dur. Pola-pola pemikiran politik Gus Dur yang atraktif dan sulit dipahami orang, pastilah Gus Yahya dapat serap dengan baik. Namun apakah Gus Yahya sama dan sebangun dengan Gus Dur, rasanya masih jauh sekali. Apalagi dalam perkara kekayaan ilmunya Gus Dur, begitu pun dalam atraksi atau akrobat politiknya Gus Dur. Namun, sedikit-sedikit lagak terobosan dan langkah-langkah politik Gus Yahya punya getaran yang mengagetkan ala Gus Dur.

Bagaimana dengan Muhaimin? Muhaimin ini adalah produk politik dari Gus Dur juga. Dalam politik, Muhaimin atau Cak Imin ini sangat atletis. Dia betul-betul seorang politisi ulung. Mungkin saja bisa dibilang akrobat politiknya lebih lihai dari Gus Dur sekalipun. Dia cepat sekali beradaptasi dengan lingkungan politik yang biasanya berubah sangat dramatis.

Mengapa saya bilang, lebih lihai dari Gus Dur? Orang sehebat Gus Dur saja, bisa dia lipat dalam sekejap. Nalar politik kekuasaan Muhaimin itu bergerak lebih cepat dari dinamika politik yang bakal terjadi.

Lihat bagaimana cara dia memanfaatkan kekuasaan SBY untuk menaklukkan Gus Dur. Meskipun Muhaimin ini adalah produk politik dari Gus Dur sebagaimana juga melahirkan Ali Masykur Musa, Khofifah Indar Parawansa, Gus Yahya, Saifullah Yusuf, AS Hikam, Fajrul Falakh, Slamet Efendi Yusuf, Ulil Abshar Abdallah, dkk.

Namun jangan lupa, Muhaimin selama menjadi Ketua Umum PMII, dia juga belajar politik pada Akbar Tandjung, sang maestro politik santun nan lihai. Kepada saya Bang Akbar berucap, “Kalau ke PKB saya masih bicara dengan Muhaimin, sebab dia sempat saya bina melalui kelompok Cipayung.”

Jadi kalau Muhaimin sangat pandai berpolitik, itu jelas karena dia belajar kemana-mana, termasuk pada Akbar Tandjung.

Langkah Muhaimin mendongkel Gus Dur dari PKB-istilah Yenny Wahid, anak Gus Dur sebagai dosa politik terberat Muhaimin- namun jika dipotret dari kepentingan karir politik Muhaimin, langkah mendongkel Gus Dur dari PKB itu adalah langkah strategis belaka secara politik. Jika tidak, maka PKB akan identik dengan Gus Dur atau Dinasti Hasyim. Di sini NU memiliki dua keuntungan, Gus Dur tetap besar, sedangkan Muhaimin muncul sebagai tokoh politik yang tidak tertandingi hingga kini.

Muhaimin vs Gus Yahya

Kedua tokoh NU yang sudah tidak muda lagi ini, dan secara struktur sudah berada dipucuk pimpinan nasional itu jelas bukan orang biasa. Keduanya sangat memberi andil yang besar dalam pertumbuhan NU, baik sebagai Jam’iyah maupun sebagai Jamaah.

Perjalanan politik Muhaimin di PKB tentu saja, bukan tanpa hambatan. Namun keterampilan Muhaimin menyelesaikan konflik internalnya bisa dibilang ciamik, meskipun tetap menyisakan sakit hati yang dalam di hati para pembangkangnya. Namun secara umum, kekuasaan Muhaimin di PKB masih sulit tergoyahkan.

Nah, mengapa Muhaimin dan Gus Yahya lantas berselisih? Kalau dilihat dari perjalanan karir politik keduanya, Muhaimin lebih banyak mendapat pematangan politik di lapangan ketimbang Gus Yahya. Oleh sebab itu langkah-langkah politik Cak Imin terlihat lebih sat-set ketimbang Gus Yahya. Langkah Imin yang Sat-Set itu jelas pada titik tertentu kerapkali bertubrukan dengan anasir kekuatan politik tertentu di PKB dan pada saat yang sama juga memiliki jaringan dalam tubuh PBNU.

Orang-orang yang sakit hati di PKB ini kemudian mencari jalan untuk memanfaatkan kekuasaan demi kepentingan kelompok mereka. Hal seperti ini adalah wajar sekali dalam politik kekuasaan, di manapun dan sampai kapan pun. Kelompok ini, yang sekarang di wakili oleh Gus Yahya dan Gus Ipul mencoba mencari jalan berbeda dengan apa yang dilakukan Muhaimin pada Pemilu 2024 lalu. Jadi, konflik Muhaimin dan Gus Yahya ini rasanya akan lebih bijaksana jika dirunut sebagai persaingan politik antar aktor (politics among actors) di antara santri politik didikan Kiai Abdurrahman Wahid alias Gus Dur.

Lalu bagaimana cara agar konflik keduanya itu didamaikan. Pakai mekanisme apa? Rasa-rasanya saran Gus Mus tadi menjadi sangat relevan. Sebagai sama-sama anak didikan Gus Dur mereka hendaknya sadar bahwa mereka bukan lagi mahasiswa UGM yang lagi bertarung memperebutkan Ketua Umum Senat Mahasiswa sebagai media latihan memimpin, namun mereka sudah menjadi tokoh-tokoh nasional yang akan sangat menentukan Nahdlatul Ulama sebagai jam’iyah dan jamaah NU serta wajah Indonesia di masa depan.

Jalan dan solusinya, kata Gus Mus, secara Jam’iyah (organisasi), seharusnya Dewan Kiai Sepuh yang ada dalam Mustasyar PBNU, segera memanggil Muhaimin dan Yahya Staquf untuk duduk bersama mendengar nasihat-nasihat bening dari para Kiai. Jika mereka tidak mau, kata Gus Mus, Yo wis….!

*Penulis adalah Direktur Eksekutif Indonesia Development Research-IDR

  • Penulis: Redaksi

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Forum Silaturahmi Calon Dewan Kota ketika melakukan kunjungan ke Fraksi PKB DPRD DKI Jakarta.

    Forum Komunikasi Calon Dewan Kota Jakarta Gugat SK Gubernur ke PTUN

    • calendar_month Selasa, 7 Jan 2025
    • account_circle Redaksi
    • visibility 14
    • 0Komentar

    JAKARTA, CUPLIKAN.CO.ID – Forum Komunikasi Calon Dewan Kota Jakarta periode 2024-2029 berencana melayangkan gugatan ke Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN). Gugatan ini terkait Surat Keputusan (SK) Gubernur No. 854 tentang pengangkatan Dewan Kota, yang mereka nilai cacat prosedural dan administrasi. Menurut H. Nurhasan, juru bicara Forum Komunikasi, proses penetapan calon terpilih tidak sesuai dengan regulasi. […]

  • Habib Syarief Muhammad

    Menempatkan Guru sebagai Pilar Martabat Bangsa Melalui Revisi Komprehensif RUU Sisdiknas

    • calendar_month Selasa, 25 Nov 2025
    • account_circle Redaksi
    • visibility 16
    • 0Komentar

    Oleh : Habib Syarief Muhammad* JAKARTA, CUPLIKAN.CO.ID – Dalam momentum Hari Guru Nasional yang sakral ini, segenap bangsa Indonesia senantiasa diingatkan akan esensi fundamental dari profesi guru, yang adalah pilar utama kemajuan peradaban. Saya Habib Syarief, Anggota Komisi X Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia, menegaskan komitmen penuh terhadap peningkatan harkat dan martabat para pendidik di […]

  • Evaluasi Pembatasan Angkutan Barang Nataru Perlu Diimbangi Mitigasi Dampak Logistik

    Evaluasi Pembatasan Angkutan Barang Nataru Perlu Diimbangi Mitigasi Dampak Logistik

    • calendar_month Rabu, 24 Des 2025
    • account_circle Redaksi
    • visibility 60
    • 0Komentar

    Jakarta, CUPLIKAN.CO.ID – Kebijakan pembatasan angkutan barang pada masa angkutan Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2025-2026 yang dievaluasi oleh Kementerian Perhubungan bersama Kementerian Pekerjaan Umum dan Korlantas Polri patut diapresiasi sebagai langkah antisipatif menghadapi lonjakan mobilitas masyarakat pada akhir tahun. Berdasarkan hasil evaluasi yang dikutip dari situs resmi Kementerian Perhubungan, pembatasan angkutan barang di ruas jalan […]

  • Ketua Umum PBNU Yahya Cholil Staquf

    Prabowo Bicara Palestina-Israel, Ini Respons PBNU!

    • calendar_month Sabtu, 31 Mei 2025
    • account_circle Redaksi
    • visibility 18
    • 0Komentar

    JAKARTA, CUPLIKAN.CO.ID – Presiden RI Prabowo Subianto menyatakan Indonesia siap membuka hubungan diplomatik dengan Israel, asal negara itu terlebih dahulu mengakui kemerdekaan Palestina. Pernyataan ini menuai respons luas, termasuk dari Ketua Umum PBNU Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya yang menyebut Prabowo tetap konsisten dengan garis politik luar negeri Indonesia. “Presiden Prabowo konsisten,” kata Gus […]

  • Anggota Komisi X DPR RI, Agung Widiyantoro.

    Sentralisasi Pendidikan Picu Ketimpangan, Agung Widyantoro Angkat Suara

    • calendar_month Rabu, 2 Jul 2025
    • account_circle Redaksi
    • visibility 17
    • 0Komentar

    JAKARTA, CUPLIKAN.CO.ID – Legislator Komisi X DPR RI, Agung Widyantoro, mengkritisi sistem sentralisasi pengelolaan pendidikan menengah yang berada di tangan pemerintah provinsi. Menurutnya, kebijakan tersebut telah menciptakan ketimpangan serius dalam pemerataan akses dan fasilitas pendidikan, terutama di daerah-daerah pinggiran. “Banyak kepala sekolah dan orang tua siswa mengeluhkan lambatnya penanganan kebutuhan sekolah karena birokrasi provinsi yang […]

  • Tangkapan layar video salah seorang pengurus DPC GRIB Jaya Tabanan usai pertemuan di Balai Banjar Sanggulan, Desa Banjar Anyar, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Provinsi Bali.(Instagram @tabanan.viral)

    GRIB Jaya Tabanan Bubar Total, Bali Tolak Hercules!

    • calendar_month Kamis, 15 Mei 2025
    • account_circle Redaksi
    • visibility 20
    • 0Komentar

    TABANAN, CUPLIKAN.CO.ID – Organisasi masyarakat Gerakan Rakyat Indonesia Bersatu (GRIB) Jaya di Kabupaten Tabanan, Bali, resmi membubarkan diri. Keputusan itu diambil setelah pertemuan antara pengurus GRIB Jaya Tabanan dengan aparat desa adat Sanggulan dan perwakilan pemerintah setempat. Aksi pembubaran ini terekam dalam video yang viral di media sosial, memperlihatkan pernyataan “lockdown selamanya” dari pengurus GRIB […]

expand_less