Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Opini » Ketika Mustasyar Memanggil

Ketika Mustasyar Memanggil

  • account_circle Redaksi
  • calendar_month Senin, 16 Sep 2024
  • visibility 36
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Oleh. Fathorrahman Fadli*

Pagi ini Senin (16/9) pukul 01.49 WIB, saya baru saja selesai mendengar penjelasan Gus Mus soal keributan kecil antara Muhaimin Iskandar selaku Ketua Umum PKB dengan Ketua Umum PBNU, K.H.Yahya Staquf atau akrab dipanggil Gus Yahya.

Keributan ini, jelas Gus Mus,- KH.Mustofa Bisri- beliau sederhanakan sebagai persoalan Muhaimin dan Yahya belaka, bukan persoalan PKB dan NU. Dahulu, dua tokoh ini berteman biasa. Sama-sama mahasiswa Universitas Gajah Mada. Artinya, keduanya anak-anak NU yang pintar. Buktinya mereka lulus tes UMPTN dan lalu diterima kuliah di universitas bergengsi- UGM. Waktu Gus Dur berkuasa, mereka sama-sama berada di sekitar istana. Gus Yahya waktu itu sempat menjadi Juru bicara kepresidenan, sementara Muhaimin sudah menjadi anggota DPR RI di Senayan sana.

Keduanya, sama-sama menyicipi nikmatnya kekuasaan. Walaupun nasib Gus Yahya dalam menikmati kekuasaan itu lebih pendek, seturut dengan pendeknya masa kepemimpinan Gus Dur. Kala itu, Muhaimin, Gus Yahya, dan Adi Massardi yang juga jubir Gus Dur sempat sama-sama umroh berpakaian ihrom. Jadi semua rukun-rukun saja di bawah asuhan Gus Dur.

Waktu Gus Dur menjabat Ketua Umum PBNU, Gus Yahya memang dekat sekali, bahkan setiap hari bersama Gus Dur. Pola-pola pemikiran politik Gus Dur yang atraktif dan sulit dipahami orang, pastilah Gus Yahya dapat serap dengan baik. Namun apakah Gus Yahya sama dan sebangun dengan Gus Dur, rasanya masih jauh sekali. Apalagi dalam perkara kekayaan ilmunya Gus Dur, begitu pun dalam atraksi atau akrobat politiknya Gus Dur. Namun, sedikit-sedikit lagak terobosan dan langkah-langkah politik Gus Yahya punya getaran yang mengagetkan ala Gus Dur.

Bagaimana dengan Muhaimin? Muhaimin ini adalah produk politik dari Gus Dur juga. Dalam politik, Muhaimin atau Cak Imin ini sangat atletis. Dia betul-betul seorang politisi ulung. Mungkin saja bisa dibilang akrobat politiknya lebih lihai dari Gus Dur sekalipun. Dia cepat sekali beradaptasi dengan lingkungan politik yang biasanya berubah sangat dramatis.

Mengapa saya bilang, lebih lihai dari Gus Dur? Orang sehebat Gus Dur saja, bisa dia lipat dalam sekejap. Nalar politik kekuasaan Muhaimin itu bergerak lebih cepat dari dinamika politik yang bakal terjadi.

Lihat bagaimana cara dia memanfaatkan kekuasaan SBY untuk menaklukkan Gus Dur. Meskipun Muhaimin ini adalah produk politik dari Gus Dur sebagaimana juga melahirkan Ali Masykur Musa, Khofifah Indar Parawansa, Gus Yahya, Saifullah Yusuf, AS Hikam, Fajrul Falakh, Slamet Efendi Yusuf, Ulil Abshar Abdallah, dkk.

Namun jangan lupa, Muhaimin selama menjadi Ketua Umum PMII, dia juga belajar politik pada Akbar Tandjung, sang maestro politik santun nan lihai. Kepada saya Bang Akbar berucap, “Kalau ke PKB saya masih bicara dengan Muhaimin, sebab dia sempat saya bina melalui kelompok Cipayung.”

Jadi kalau Muhaimin sangat pandai berpolitik, itu jelas karena dia belajar kemana-mana, termasuk pada Akbar Tandjung.

Langkah Muhaimin mendongkel Gus Dur dari PKB-istilah Yenny Wahid, anak Gus Dur sebagai dosa politik terberat Muhaimin- namun jika dipotret dari kepentingan karir politik Muhaimin, langkah mendongkel Gus Dur dari PKB itu adalah langkah strategis belaka secara politik. Jika tidak, maka PKB akan identik dengan Gus Dur atau Dinasti Hasyim. Di sini NU memiliki dua keuntungan, Gus Dur tetap besar, sedangkan Muhaimin muncul sebagai tokoh politik yang tidak tertandingi hingga kini.

Muhaimin vs Gus Yahya

Kedua tokoh NU yang sudah tidak muda lagi ini, dan secara struktur sudah berada dipucuk pimpinan nasional itu jelas bukan orang biasa. Keduanya sangat memberi andil yang besar dalam pertumbuhan NU, baik sebagai Jam’iyah maupun sebagai Jamaah.

Perjalanan politik Muhaimin di PKB tentu saja, bukan tanpa hambatan. Namun keterampilan Muhaimin menyelesaikan konflik internalnya bisa dibilang ciamik, meskipun tetap menyisakan sakit hati yang dalam di hati para pembangkangnya. Namun secara umum, kekuasaan Muhaimin di PKB masih sulit tergoyahkan.

Nah, mengapa Muhaimin dan Gus Yahya lantas berselisih? Kalau dilihat dari perjalanan karir politik keduanya, Muhaimin lebih banyak mendapat pematangan politik di lapangan ketimbang Gus Yahya. Oleh sebab itu langkah-langkah politik Cak Imin terlihat lebih sat-set ketimbang Gus Yahya. Langkah Imin yang Sat-Set itu jelas pada titik tertentu kerapkali bertubrukan dengan anasir kekuatan politik tertentu di PKB dan pada saat yang sama juga memiliki jaringan dalam tubuh PBNU.

Orang-orang yang sakit hati di PKB ini kemudian mencari jalan untuk memanfaatkan kekuasaan demi kepentingan kelompok mereka. Hal seperti ini adalah wajar sekali dalam politik kekuasaan, di manapun dan sampai kapan pun. Kelompok ini, yang sekarang di wakili oleh Gus Yahya dan Gus Ipul mencoba mencari jalan berbeda dengan apa yang dilakukan Muhaimin pada Pemilu 2024 lalu. Jadi, konflik Muhaimin dan Gus Yahya ini rasanya akan lebih bijaksana jika dirunut sebagai persaingan politik antar aktor (politics among actors) di antara santri politik didikan Kiai Abdurrahman Wahid alias Gus Dur.

Lalu bagaimana cara agar konflik keduanya itu didamaikan. Pakai mekanisme apa? Rasa-rasanya saran Gus Mus tadi menjadi sangat relevan. Sebagai sama-sama anak didikan Gus Dur mereka hendaknya sadar bahwa mereka bukan lagi mahasiswa UGM yang lagi bertarung memperebutkan Ketua Umum Senat Mahasiswa sebagai media latihan memimpin, namun mereka sudah menjadi tokoh-tokoh nasional yang akan sangat menentukan Nahdlatul Ulama sebagai jam’iyah dan jamaah NU serta wajah Indonesia di masa depan.

Jalan dan solusinya, kata Gus Mus, secara Jam’iyah (organisasi), seharusnya Dewan Kiai Sepuh yang ada dalam Mustasyar PBNU, segera memanggil Muhaimin dan Yahya Staquf untuk duduk bersama mendengar nasihat-nasihat bening dari para Kiai. Jika mereka tidak mau, kata Gus Mus, Yo wis….!

*Penulis adalah Direktur Eksekutif Indonesia Development Research-IDR

  • Penulis: Redaksi

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Sekretaris Jenderal DPP Partai Persatuan Pembangunan, Arwani Thomafi.

    Ulama Sepakat PPP Butuh Transformasi dan Kepemimpinan Baru

    • calendar_month Senin, 12 Mei 2025
    • account_circle Redaksi
    • visibility 14
    • 0Komentar

    SURABAYA, CUPLIKAN.CO.ID – Jelang Muktamar Partai Persatuan Pembangunan (PPP) 2025, suara perubahan menggema kuat dari wilayah Jawa Timur. Dalam agenda halal bihalal dan konsolidasi DPW PPP Jawa Timur, ulama dan seluruh kader serta pengurus dari 38 DPC kabupaten/kota menyatakan dukungan penuh terhadap agenda transformasi partai, termasuk pergantian Ketua Umum. Hadir dalam kegiatan tersebut Sekjen DPP […]

  • Dugaan Kekerasan Siswa di Parimo, NSL Dorong Perlindungan Anak

    Dugaan Kekerasan Siswa di Parimo, NSL Dorong Perlindungan Anak

    • calendar_month Sabtu, 26 Sep 2026
    • account_circle MA
    • visibility 20
    • 0Komentar

    Jakarta – Dugaan kekerasan terhadap seorang siswa sekolah dasar (SD) di Kabupaten Parigi Moutong (Parimo), mendapat perhatian dari Ketua DPW NasDem Sulawesi Tengah (Sulteng) yang juga merupakan anggota Komisi X DPR RI, Nilam Sari Lawira (NSL). “Setiap anak berhak mendapatkan pendidikan dalam lingkungan yang aman, nyaman, dan bebas dari kekerasan. Karena itu, dugaan kekerasan di […]

  • Ketua Umum Partai Kebangkitan Nusantara (PKN) sekaligus Ketua Umum PB HMI Periode 1997-1999, Anas Urbaningrum, saat menyampaikan testimoni pada Peringatan 7 Hari Almarhum Kholis Malik di Jakarta, pada Minggu (24/11/2024)

    Anas Urbaningrum : Kholis Malik Sosok Teguh Pendirian dan Setia Kawan

    • calendar_month Senin, 25 Nov 2024
    • account_circle Redaksi
    • visibility 18
    • 0Komentar

    JAKARTA, CUPLIKAN.CO.ID – Ketua Umum Partai Kebangkitan Nusantara (PKN) sekaligus Ketua Umum PB HMI periode 1997-1999 memberikan testimoni dalam peringatan tujuh hari wafatnya Kholis Malik (Ketua Umum PB HMI periode 2002-2004) di Jakarta, pada Minggu, (24/11/2024) malam. Acara ini dihadiri oleh keluarga, sahabat, dan berbagai elemen aktivis. Baik dari HMI, JARI, GMNI dan dihadiri politisi […]

  • Yusuf Rio Wahyu Prayogo

    Kasus Korupsi Petahana Jadi Faktor Penentu Pilkada Situbondo

    • calendar_month Kamis, 28 Nov 2024
    • account_circle Redaksi
    • visibility 22
    • 0Komentar

    SITUBONDO,RADIANTVOICE.ID – Pilkada Situbondo 2024 mencatatkan pasangan Yusuf Rio Wahyu Prayogo dan Ulfiyah sebagai pemenang dengan perolehan suara 204.133 (51,8%), mengungguli pasangan petahana Karna Suswandi-Khoirani yang hanya meraih 190.140 suara (48,2%). Kekalahan pasangan petahana tidak terlepas dari kasus hukum yang menjerat Karna Suswandi, Bupati Situbondo, yang menjadi tersangka dugaan korupsi dana Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) […]

  • Voicers Chamad Hojin

    Aksi Massa & Krisis Komunikasi Para Pejabat Publik Kita

    • calendar_month Rabu, 27 Agt 2025
    • account_circle Redaksi
    • visibility 28
    • 0Komentar

    Oleh : Chamad Hojin* Aksi massa beberapa minggu terakhir yang terjadi di Pati, Bone, dan Gedung DPR dipicu oleh pernyataan para pejabat yang dinilai arogan, sombong, sinis dan cenderung menantang rakyat. Para pejabat menggunakan standar ukuran orang lain atau masyarakat dengan ukuran dan standar dirinya sendiri. Akibatnya apa yang diucapkan mendapat reaksi dan tanggapan yang […]

  • Kim Jong Un

    Kim Jong Un Pimpin Uji Coba Rudal Balistik dan Jelajah Baru

    • calendar_month Kamis, 19 Sep 2024
    • account_circle Redaksi
    • visibility 53
    • 0Komentar

    SEOUL, CUPLIKAN.CO.ID – Pemimpin Korea Utara, Kim Jong Un, memimpin uji coba rudal balistik taktis dan rudal jelajah yang telah dimodifikasi pada Rabu (19/9/2024). Demikian yang dilaporkan kantor berita negara tersebut, KCNA. Uji coba ini dilakukan sebagai bagian dari upaya Korea Utara untuk memperkuat kemampuan senjata konvensional dan nuklirnya. KCNA melaporkan bahwa Kim Jong Un […]

expand_less