Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Opini » Pak Harto, Sang Jenderal Besar dan Bapak Pembangunan Nasional

Pak Harto, Sang Jenderal Besar dan Bapak Pembangunan Nasional

  • account_circle Redaksi
  • calendar_month Senin, 10 Nov 2025
  • visibility 21
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Oleh: M Fauzan Irvan*

Sebagai generasi yang lahir tahun 90an, saya mungkin tidak merasakan secara utuh bagaimana kepemimpinan dan kebijakan Presiden Soeharto. Tetapi karena isu ini sudah menjadi wacana publik, rasa ingin tahu membuat saya membaca banyak hal. Dari arsip sejarah, laporan ekonomi, testimoni para pelaku, hingga data Badan Pusat Statistik.

Dari semua itu, saya mulai memahami bahwa Pak Harto bukan hanya seorang presiden,
tetapi juga seorang prajurit, Jenderal, dan Bapak pembangunan yang meninggalkan warisan besar bagi negeri ini.

Menurut saya, perlu kiranya melihat polemik pemberian gelar Pahlawan Nasional ini secara objektif. Tanpa menafikan hal baik dan buruk dari calon penerima gelar pahlawan nasional. Filosofi Jawa yang berbunyi Mikul Dhuwur Mendhem Jero harusnya menjadi patokan bagi setiap anak bangsa dalam menilai dan memandang pemimpinnya. Filosofi ini mengandung arti menjunjung tinggi kehormatan para pemimpin, dan menyimpan kekurangan dan keburukannya. Siapapun dia.

Kiprah Militer: Dari Tempur Lapangan hingga Jenderal Besar

Salah satu peristiwa monumental yang menandai kiprah awal Soeharto sebagai prajurit tangguh adalah persitiwa serangan umum 1 maret 1949. Saat itu, Yogyakarta sebagai ibu kota Republik telah dikuasai oleh Belanda, dan dunia internasional menganggap bahwa Republik Indonesia sudah runtuh.

Letkol Soeharto, yang ketika itu menjabat sebagai Komandan Brigaede Wehrkreise III, memimpin operasi yang dirancang dengan strategi militer yang matang. Dalam waktu enam jam, pasukan TNI berhasil merebut kembali Yogyakarta dan menanamkan bendera Merah Putih di jantung kota.

Aksi heroik tersebut tidak hanya membangkitkan semangat rakyat, tetapi juga membuktikan kepada dunia bahwa Republik Indonesia masih berdiri tegak. Serangan Umum 1 Maret menjadi tonggak penting dalam diplomasi Indonesia di meja perundingan internasional, sekaligus menunjukkan kepemimpinan Soeharto yang cerdas dalam merancang dan menggerakkan kekuatan militer dengan presisi dan disiplin tinggi.

Kemudian selain itu, Pak Harto diangkat menjadi Panglima Komando Mandala pada 11 Januari 1962. Tugas utamanya: memimpin Operasi Trikora untuk membebaskan Irian Barat dari kekuasaan Belanda. Di bawah kepemimpinannya, disusun strategi tiga tahap infiltrasi, eksploitasi, dan konsolidasi yang dijalankan dengan disiplin dan ketepatan militer. Dalam kurun waktu enam bulan, puluhan operasi infiltrasi dilakukan oleh pasukan elite seperti RPKAD dan PGT.

Hasilnya, tekanan militer dan diplomasi Indonesia memaksa Belanda untuk berunding, hingga akhirnya Irian Barat resmi kembali ke pangkuan Ibu Pertiwi melalui Perjanjian New York pada Agustus 1962.

Keberhasilan tersebut mengukuhkan posisi Soeharto sebagai perwira unggulan. Ia kemudian diangkat menjadi Panglima Kostrad (Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat) pada tahun 1963. Setelah itu, saat negara menghadapi ancaman Gerakan 30 September 1965 (G30S/PKI), Dengan ketenangan dan ketegasan khasnya, Letjen Seharto memimpin operasi pemulihan keamanan, menumpas pasukan pemberontak, dan mengembalikan kontrol pemerintahan ke tangan yang sah.

Langkah-langkah taktis Soeharto menjadi titik balik penyelamatan negara dari ancaman disintegrasi dan ideologi komunis yang berpotensi menggantikan Pancasila sebagai dasar negara.

Tindakannya tidak hanya menyelamatkan kedaulatan politik, tetapi juga memastikan ideologi Pancasila tetap menjadi fondasi tunggal kehidupan berbangsa dan bernegara.

Atas dedikasi dan kontribusinya di dunia militer, Soeharto akhirnya dianugerahi pangkat Jenderal Besar TNI (Bintang Lima) gelar kehormatan tertinggi di jajaran militer Indonesia, sejajar dengan Panglima Besar Jenderal Sudirman danJenderal A.H Nasution.

Pembangunan Nasional: Dari Swasembada Pangan hingga Stabilitas Ekonomi

Sebagai Presiden, Soeharto membawa disiplin militer ke dalam manajemen pemerintahan. Ia mewarisi negara dengan inflasi mencapai 635% pada tahun 1966, kondisi ekonomi kacau, dan infrastruktur terbatas. Namun hanya dalam tiga tahun, kebijakan ekonomi yang fokus pada stabilitas dan efisiensi berhasil menurunkan inflasi menjadi 9,9% pada tahun 1969.

Selama tiga dekade kepemimpinannya, Indonesia mengalami pertumbuhan ekonomi rata-rata 7–8% per tahun, bahkan mencapai 10,9% pada 1968 dan 9,9% pada 1980 (data BPS dan Katadata, 2024). Pendapatan per kapita naik tajam, jutaan keluarga keluar dari kemiskinan, dan Indonesia diakui dunia sebagai salah satu negara berkembang dengan pertumbuhan tercepat di Asia.

Di sektor pertanian, Soeharto meluncurkan program revolusi hijau dan Gerakan Swasembada Pangan. Pada 1984, Indonesia resmi dinyatakan berhasil swasembada beras oleh FAO, dan Soeharto menerima penghargaan langsung dari lembaga tersebut di Roma. Program pembangunan infrastruktur seperti Inpres Desa, pembangunan jalan dan irigasi, pembangunan sekolah dasar dan puskesmas menjadi tonggak pemerataan hasil pembangunan ke seluruh pelosok tanah air.

Tidak hanya di bidang ekonomi, era Soeharto juga dikenal sebagai masa di mana Indonesia mulai memperkuat posisinya di kancah internasional. Indonesia menjadi tuan rumah KTT Non-Blok 1992, aktif dalam ASEAN, dan mampu menjaga stabilitas politik di tengah dinamika global.

Menilai dari Jasa, Bukan Dosa

Seperti halnya pemimpin lain di dunia, Soeharto bukanlah manusia tanpa kekurangan. Namun jika berbicara tentang pahlawan, yang menjadi ukuran adalah seberapa besar jasa dan kontribusinya bagi bangsa. Kesalahan atau dosa seorang pemimpin adalah bagian dari kompleksitas kekuasaan, tetapi jasa besar dalam mempertahankan dan membangun negeri tak bisa dihapus dari catatan sejarah.

Soeharto telah memberikan pengabdian terbaiknya dari prajurit tempur di medan perang, hingga pemimpin nasional yang membawa bangsa keluar dari keterpurukan ekonomi. Ia membangun fondasi ketahanan pangan, infrastruktur, dan stabilitas nasional yang masih dirasakan hingga kini.

Menilai Soeharto secara utuh berarti menimbang bukan hanya masa kontroversialnya, tetapi juga masa pengabdian panjangnya terhadap bangsa. Dalam konteks jasa dan kontribusi nyata, Soeharto layak dikenang sebagai salah satu tokoh besar dan pahlawan pembangunan Indonesia.

*Wakil Ketua DPD Golkar Jakarta Bidang Pemuda dan Olahraga / Ketua AMPG DKI

  • Penulis: Redaksi

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Pramono Bahas Kota, Iklim, dan Ekonomi di Forum U20

    Pramono Bahas Kota, Iklim, dan Ekonomi di Forum U20

    • calendar_month Jumat, 18 Sep 2026
    • account_circle MA
    • visibility 16
    • 0Komentar

    Jakarta — Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung bertolak ke New York, Amerika Serikat, untuk memenuhi undangan Wali Kota New York City Zohran Mamdani dalam Urban 20 (U20) Mayors Summit 2026. Forum tersebut menjadi ajang bagi para pemimpin kota dunia untuk membahas berbagai tantangan dan solusi perkotaan. Pramono mengatakan keikutsertaan Jakarta dalam forum U20 menjadi kesempatan […]

  • Rektor Universitas Insan Cita Indonesia, Prof. La Ode M.Kamaluddin saat berpose bersama awak media dalam acara silaturahmi UICI dan Awak Media di Meeting Point UICI di bilangan Kuningan Jakarta pada Selasa (18/02/2025).

    UICI Siap Cetak Lulusan Berkualitas di Era Digital

    • calendar_month Rabu, 19 Feb 2025
    • account_circle Redaksi
    • visibility 20
    • 0Komentar

    JAKARTA, CUPLIKAN.CO.ID – Universitas Insan Cita Indonesia (UICI) semakin memperkokoh posisinya sebagai institusi pendidikan berbasis digital. Dalam acara Silaturahmi UICI dengan awak media di Meeting Point UICI di bilangan Kuningan Jakarta, Selasa (18/02/2025), Rektor UICI Prof. Laode Kamaluddin menegaskan bahwa universitas ini berkomitmen mencetak lulusan yang siap menghadapi tantangan global di era digital. “UICI bukan […]

  • Ketua Komisi II DPR RI, Rifqinizamy Karsayuda

    DPR Soroti KPU Rahasiakan Dokumen Capres, Transparansi Pemilu Dipertanyakan

    • calendar_month Selasa, 16 Sep 2025
    • account_circle Redaksi
    • visibility 16
    • 0Komentar

    JAKARTA, CUPLIKAN.CO.ID – Polemik aturan Komisi Pemilihan Umum (KPU) yang sempat menetapkan 16 dokumen pendaftaran calon presiden (capres) dan calon wakil presiden (cawapres) sebagai informasi tertutup menuai sorotan tajam dari DPR. Ketua Komisi II DPR, Rifqinizami Karsayuda, mempertanyakan dasar hukum hingga waktu pengambilan keputusan KPU yang dianggap janggal. Menurut Rifqi, dalih KPU yang merujuk pada […]

  • Menteri Perhubungan, Dudy Purwaghandi

    Menhub Dudy Perintahkan Percepatan Evakuasi Korban KMP Tunu

    • calendar_month Kamis, 3 Jul 2025
    • account_circle Redaksi
    • visibility 12
    • 0Komentar

    JAKARTA, CUPLIKAN.CO.ID – Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi menginstruksikan percepatan proses pencarian dan pertolongan terhadap korban kecelakaan kapal KMP Tunu Pratama Jaya yang tenggelam di perairan Selat Bali pada Rabu malam (2/7). Instruksi tersebut disampaikan Menhub di Jakarta, Kamis (3/7), sebagai bentuk tanggapan cepat atas tragedi pelayaran yang menyita perhatian publik. “Saya turut prihatin atas kejadian […]

  • Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Kepala BKKBN, Wihaji, saat menyampaikan pemaparan dalam Webinar Refleksi Akhir Tahun bertema "Ketahanan Keluarga Menuju Indonesia Emas" yang diadakan oleh Universitas Insan Cita Indonesia pada Senin (30/12/2024).

    Menteri Wihaji: Ketahanan Keluarga Kunci Masa Depan Indonesia Emas

    • calendar_month Senin, 30 Des 2024
    • account_circle Redaksi
    • visibility 16
    • 0Komentar

    JAKARTA, CUPLIKAN.CO.ID – Dalam Webinar Refleksi Akhir Tahun bertajuk “Ketahanan Keluarga Menuju Indonesia Emas”, yang diselenggarakan Universitas Insan Cita Indonesia (UICI) pada Senin (30/12/2024), Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Kepala BKKBN, Wihaji, menekankan pentingnya ketahanan keluarga sebagai langkah strategis menghadapi tantangan masa depan. “Institusi keluarga adalah fondasi paling dasar yang menentukan kualitas sumber daya manusia. Investasi […]

  • Sekjen Partai Gerindra, Ahmad Muzani.

    Prabowo Sering Beri Vitamin untuk Tokoh Bangsa, Bukti Kepedulian Kesehatan

    • calendar_month Sabtu, 25 Jan 2025
    • account_circle Redaksi
    • visibility 16
    • 0Komentar

    JAKARTA, CUPLIKAN.CO.ID – Sekretaris Jenderal Partai Gerindra, Ahmad Muzani, mengungkapkan kebiasaan Presiden RI Prabowo Subianto yang kerap memberikan vitamin kepada para tokoh nasional, termasuk Presiden ke-5 Megawati Soekarnoputri dan Presiden ke-7 Joko Widodo. Hal ini, menurut Muzani, menjadi bagian dari perhatian Prabowo terhadap kesehatan para pemimpin bangsa. “Ya, itu benar. Pak Prabowo memang sering memberikan […]

expand_less