Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Opini » Demo atau Rusuh

Demo atau Rusuh

  • account_circle Redaksi
  • calendar_month Kamis, 4 Sep 2025
  • visibility 19
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Oleh : Ahmadie Thaha*

JAKARTA, CUPLIKAN.CO.ID – Indonesia memang negara penuh kreativitas: mulai dari bikin jalan tol sampai bikin kerusuhan, semua ada ahlinya. Bedanya, kalau jalan tol butuh tender resmi, kerusuhan cukup pakai bensin eceran dan narasi elite yang gampang sekali menguap.

Mari kita mulai dengan sebuah klarifikasi sederhana. Tidak semua orang yang turun ke jalan otomatis menjadi perusuh. Demonstrasi (protest) adalah hak konstitusional, sedangkan kerusuhan (riot) adalah kekacauan kriminal.

Sayangnya, di negeri ini dua istilah itu sering disamakan, oleh pemerintah, oleh media, bahkan oleh sebagian masyarakat. Hingga, seolah-olah mahasiswa yang orasi sambil bawa spanduk setara dengan maling yang menjarah minimarket.

Demo adalah arena politik rakyat paling klasik. Sejarah politik penuh kisah demo. Dari teori Charles Tilly hingga Sidney Tarrow, aksi kolektif selalu dipahami sebagai contentious politics politik yang penuh gesekan, tapi sah dan diakui undang-undang.

Di demo selalu ada orasi, ada poster, ada mahasiswa yang merasa dirinya Che Guevara padahal baru semester tiga, tak jarang ada emak-emak yang berteriak garang. Biasanya, demo selesai dengan bubaran tertib, atau kalau agak panas, ya ditemani gas air mata sedikit.

Dalam banyak kasus demontrasi, gesekan memang terjadi. Aparat punya protokol crowd control seperti negosiasi, pembatasan, hingga pembubaran paksa. Di titik ini, kekerasan kadang muncul. Namun, tujuan demo tetap sama: menyampaikan aspirasi, bukan menjarah lapak-lapak mart.

Kerusuhan berbeda. Ia ditandai dengan kekerasan terorganisasi: pembakaran, penjarahan, penghancuran simbol negara. Sosiolog Paul Brass menyebut adanya institutionalized riot system, bahwa kerusuhan jarang benar-benar spontan. Selalu ada yang mengorkestrasi.

Di banyak penelitian konflik Asia Selatan (Tambiah, Varshney, dsb.), muncul istilah riot specialists yaitu orang-orang yang memang ahli memprovokasi. Mereka tahu kapan melempar batu pertama, kapan menyalakan bensin, kapan kabur sebelum polisi datang.

Ironisnya, keahlian ini jarang dimiliki mahasiswa idealis yang kurang baca atau kurang gaul dengan intel. Lebih sering ditemukan di lingkaran intelijen, preman politik, atau jaringan gelap yang punya kepentingan kekuasaan.

Jadi mari jujur bahwa sulit membayangkan mahasiswa jurusan Akuntansi bisa dengan lihai membakar markas Brimob. Wong ngerjain skripsi saja setengah mati. Tengok saja siapa-siapa yang ditangkapi polisi dengan sangkaan melakukan kerusuhan.

Presiden Prabowo Subianto memilih narasi berbeda. Ia menjenguk aparat yang terluka, memberi semangat, tapi absen menengok keluarga-keluarga sipil yang tewas. Simbol politiknya jelas: negara berdiri di belakang tameng kekuasaan, bukan di samping rakyat yang jadi korban.

Belum cukup di situ. Ia meluncurkan operasi “bersih-bersih.” Tapi jangan bayangkan bersih-bersih pakai sapu lidi atau vacuum cleaner. Bersih-bersih ala Prabowo pakai water cannon, barisan Brimob, dan kadang bonus tank baja lewat di jalan raya. Katanya untuk menakut-nakuti massa.

Problemnya, pameran kekuatan seperti ini lebih cocok untuk military parade ketimbang respons demokratis. Secara psikologis, efek ketakutan memang ada, tapi riset konflik menunjukkan bahwa represi berlebihan sering jadi bahan bakar baru. Tarrow (1998) menyebutnya repertoires of contention yang makin ditekan, makin kreatif perlawanan.

Lalu siapa sebenarnya yang bikin rusuh? Rakyat biasa? Rasanya tidak. Teori sederhana: rakyat marah bisa bakar ban, tapi membakar gedung DPRD atau markas polisi jelas level berbeda. Sejarah pun mengajarkan.

Dalam peristiwa Malari 1974, ada faksionalisme militer. Pada kerusuhan Mei 1998, keterlibatan jaringan kekuasaan jelas, meski tak pernah tuntas diusut. Di tahun 2025? Nah, pola lama muncul lagi, hanya para pemainnya, kata Ferry Irwandi, berada di dalam kekuasaan.

Maka wajar jika tuduhan “ada aktor asing” terdengar basi. CIA, Soros, USAID, semua jadi kambing hitam langganan. Padahal, pelaku lokal jauh lebih mungkin. Seperti pepatah bahwa kalau ada sapi masuk sawah, jangan buru-buru nuduh alien dari Mars; periksa dulu pagar tetangga.

Membedakan demo dan rusuh itu penting. Demo adalah koreksi rakyat, rusuh adalah sabotase. Menyebut semua demo sebagai kerusuhan sama saja dengan menyebut semua kritik sebagai makar. Itu gejala authoritarian reflex, refleks otoriter yang, kata para ilmuwan politik, merupakan tanda rezim yang takut kehilangan legitimasi.

Pemerintah seharusnya tidak buru-buru memakai narasi “bersih-bersih” untuk semua. Kalau ingin bersih sungguhan, mulailah dari korupsi, kolusi, nepotisme, mafia hukum, dan serakahnomic. Sapu lidi itu efektif kalau diarahkan ke sampah yang benar, bukan ke mahasiswa yang bawa spanduk.

Jadi, siapa ahli rusuh sesungguhnya? Jelas bukan mahasiswa yang lapar idealisme, dan memperjuangkan keadilan. Jelas bukan buruh yang menolak upah murah. Melainkan mereka yang punya kuasa, akses, dan jaringan senjata.

Dan jika pemerintah tetap menyapu demo dengan tank, maka sejarah akan mencatat: yang dirusak bukan hanya gedung atau jalanan, tapi juga nalar publik dan demokrasi yang sedang tipis-tipis dijaga.

*Penulis adalah Wartawan Senior

  • Penulis: Redaksi

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Pansus DPR Targetkan RUU Daerah Kepulauan Tuntas pada 2026

    Pansus DPR Targetkan RUU Daerah Kepulauan Tuntas pada 2026

    • calendar_month Selasa, 21 Jul 2026
    • account_circle MA
    • visibility 23
    • 0Komentar

    Jakarta – Anggota Panitia Khusus (Pansus) Rancangan Undang-Undang (RUU) Daerah Kepulauan DPR RI, Hendry Munief, optimistis pembahasan RUU Daerah Kepulauan dapat dirampungkan pada 2026. Menurutnya, kehadiran regulasi tersebut menjadi langkah strategis untuk memperkuat kewenangan daerah kepulauan, sekaligus mendorong pemerataan pembangunan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat di wilayah kepulauan. Hendry mengungkapkan, kunjungan kerja Pansus ke Provinsi Kepulauan […]

  • Lebanon

    Israel Tegaskan Serangan Terhadap Hezbollah Akan Terus Berlanjut

    • calendar_month Minggu, 29 Sep 2024
    • account_circle Redaksi
    • visibility 20
    • 0Komentar

    BEIRUT/JERUSALEM, CUPLIKAN.CO.ID – Israel menyatakan serangannya terhadap Hezbollah belum akan berakhir, meskipun kematian Hassan Nasrallah telah membuat banyak warga Israel merayakan momen tersebut. Militer Israel menegaskan bahwa perjuangan melawan Hezbollah masih jauh dari selesai, dan mereka akan terus menargetkan para pemimpin kelompok tersebut. “Hezbollah masih memiliki roket dan misil, serta kemampuan untuk meluncurkannya secara bersamaan,” […]

  • Romy Sukarno

    Romy Soekarno Gantikan Sri Rahayu dan Arteria Dahlan di DPR

    • calendar_month Selasa, 1 Okt 2024
    • account_circle Redaksi
    • visibility 19
    • 0Komentar

    JAKARTA, CUPLIKAN.CO.ID  – Romy Soekarno, cucu Presiden pertama RI Soekarno, resmi dilantik sebagai anggota DPR periode 2024-2029. Romy berhasil melenggang ke Senayan setelah dua caleg PDIP, Sri Rahayu dan Arteria Dahlan, memilih mundur sebagai caleg terpilih dari daerah pemilihan Jawa Timur VI. Keputusan mundurnya dua tokoh PDIP ini membuat Romy mendapatkan kesempatan untuk duduk di […]

  • Hasbiallah Ilyas, Fraksi PKB

    PKB Tekankan Penguatan HAM dalam RUU Penyesuaian Pidana Baru

    • calendar_month Senin, 8 Des 2025
    • account_circle Redaksi
    • visibility 17
    • 0Komentar

    JAKARTA, CUPLIKAN.CO.ID – Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) menegaskan pentingnya pendekatan Hak Asasi Manusia (HAM) dalam penyusunan Rancangan Undang-Undang tentang Penyesuaian Pidana (RUU Penyesuaian Pidana). PKB menyetujui RUU tersebut dengan sejumlah catatan yang berfokus pada perlindungan korban dan lingkungan hidup. Juru Bicara Fraksi PKB, Hasbiallah Ilyas, dalam rapat paripurna di Jakarta, Senin (8/12/2025), menyatakan bahwa […]

  • Foto bersama MD KAHMI Sukabumi dengan Sekjen MN KAHMI Syamsul Qomar

    MD KAHMI Sukabumi Resmi Dilantik, Siap Dukung Pembangunan Daerah

    • calendar_month Minggu, 28 Sep 2025
    • account_circle Redaksi
    • visibility 14
    • 0Komentar

    SUKABUMI, CUPLIKAN.CO.ID – Majelis Daerah Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (MD KAHMI) Kota Sukabumi resmi dilantik dalam acara yang berlangsung di Pusat Kajian Islam (Puski), Sukabumi, Minggu (28/9/2025). Pelantikan disertai rapat kerja ini menjadi momentum penting untuk memperkuat kontribusi KAHMI dalam pembangunan daerah. Prosesi pelantikan dilakukan oleh Presidium Majelis Wilayah (MW) KAHMI Jawa Barat, Dodi […]

  • Hetifah Sjaifudian, Ketua Umum DPP Pengajian Al Hidayah terpilih.

    Muktamar Al Hidayah Kukuhkan Hetifah Sjaifudian Sebagai Ketua Umum

    • calendar_month Selasa, 21 Okt 2025
    • account_circle Redaksi
    • visibility 19
    • 0Komentar

    JAKARTA, CUPLIKAN.CO.ID – Dr. Ir. Hetifah Sjaifudian, MPP resmi dikukuhkan sebagai Ketua Umum DPP Pengajian Al Hidayah periode 2025–2030 dalam Muktamar ke-IX Pengajian Al Hidayah yang diselenggarakan di Hotel Sultan, Jakarta, pada 20–22 Oktober 2025. Keputusan ini menjadi sorotan publik, terutama karena kiprah Hetifah dikenal luas dalam pemberdayaan perempuan dan pendidikan masyarakat. Melalui akun Instagram […]

expand_less