Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Opini » Demo atau Rusuh

Demo atau Rusuh

  • account_circle Redaksi
  • calendar_month Kamis, 4 Sep 2025
  • visibility 18
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Oleh : Ahmadie Thaha*

JAKARTA, CUPLIKAN.CO.ID – Indonesia memang negara penuh kreativitas: mulai dari bikin jalan tol sampai bikin kerusuhan, semua ada ahlinya. Bedanya, kalau jalan tol butuh tender resmi, kerusuhan cukup pakai bensin eceran dan narasi elite yang gampang sekali menguap.

Mari kita mulai dengan sebuah klarifikasi sederhana. Tidak semua orang yang turun ke jalan otomatis menjadi perusuh. Demonstrasi (protest) adalah hak konstitusional, sedangkan kerusuhan (riot) adalah kekacauan kriminal.

Sayangnya, di negeri ini dua istilah itu sering disamakan, oleh pemerintah, oleh media, bahkan oleh sebagian masyarakat. Hingga, seolah-olah mahasiswa yang orasi sambil bawa spanduk setara dengan maling yang menjarah minimarket.

Demo adalah arena politik rakyat paling klasik. Sejarah politik penuh kisah demo. Dari teori Charles Tilly hingga Sidney Tarrow, aksi kolektif selalu dipahami sebagai contentious politics politik yang penuh gesekan, tapi sah dan diakui undang-undang.

Di demo selalu ada orasi, ada poster, ada mahasiswa yang merasa dirinya Che Guevara padahal baru semester tiga, tak jarang ada emak-emak yang berteriak garang. Biasanya, demo selesai dengan bubaran tertib, atau kalau agak panas, ya ditemani gas air mata sedikit.

Dalam banyak kasus demontrasi, gesekan memang terjadi. Aparat punya protokol crowd control seperti negosiasi, pembatasan, hingga pembubaran paksa. Di titik ini, kekerasan kadang muncul. Namun, tujuan demo tetap sama: menyampaikan aspirasi, bukan menjarah lapak-lapak mart.

Kerusuhan berbeda. Ia ditandai dengan kekerasan terorganisasi: pembakaran, penjarahan, penghancuran simbol negara. Sosiolog Paul Brass menyebut adanya institutionalized riot system, bahwa kerusuhan jarang benar-benar spontan. Selalu ada yang mengorkestrasi.

Di banyak penelitian konflik Asia Selatan (Tambiah, Varshney, dsb.), muncul istilah riot specialists yaitu orang-orang yang memang ahli memprovokasi. Mereka tahu kapan melempar batu pertama, kapan menyalakan bensin, kapan kabur sebelum polisi datang.

Ironisnya, keahlian ini jarang dimiliki mahasiswa idealis yang kurang baca atau kurang gaul dengan intel. Lebih sering ditemukan di lingkaran intelijen, preman politik, atau jaringan gelap yang punya kepentingan kekuasaan.

Jadi mari jujur bahwa sulit membayangkan mahasiswa jurusan Akuntansi bisa dengan lihai membakar markas Brimob. Wong ngerjain skripsi saja setengah mati. Tengok saja siapa-siapa yang ditangkapi polisi dengan sangkaan melakukan kerusuhan.

Presiden Prabowo Subianto memilih narasi berbeda. Ia menjenguk aparat yang terluka, memberi semangat, tapi absen menengok keluarga-keluarga sipil yang tewas. Simbol politiknya jelas: negara berdiri di belakang tameng kekuasaan, bukan di samping rakyat yang jadi korban.

Belum cukup di situ. Ia meluncurkan operasi “bersih-bersih.” Tapi jangan bayangkan bersih-bersih pakai sapu lidi atau vacuum cleaner. Bersih-bersih ala Prabowo pakai water cannon, barisan Brimob, dan kadang bonus tank baja lewat di jalan raya. Katanya untuk menakut-nakuti massa.

Problemnya, pameran kekuatan seperti ini lebih cocok untuk military parade ketimbang respons demokratis. Secara psikologis, efek ketakutan memang ada, tapi riset konflik menunjukkan bahwa represi berlebihan sering jadi bahan bakar baru. Tarrow (1998) menyebutnya repertoires of contention yang makin ditekan, makin kreatif perlawanan.

Lalu siapa sebenarnya yang bikin rusuh? Rakyat biasa? Rasanya tidak. Teori sederhana: rakyat marah bisa bakar ban, tapi membakar gedung DPRD atau markas polisi jelas level berbeda. Sejarah pun mengajarkan.

Dalam peristiwa Malari 1974, ada faksionalisme militer. Pada kerusuhan Mei 1998, keterlibatan jaringan kekuasaan jelas, meski tak pernah tuntas diusut. Di tahun 2025? Nah, pola lama muncul lagi, hanya para pemainnya, kata Ferry Irwandi, berada di dalam kekuasaan.

Maka wajar jika tuduhan “ada aktor asing” terdengar basi. CIA, Soros, USAID, semua jadi kambing hitam langganan. Padahal, pelaku lokal jauh lebih mungkin. Seperti pepatah bahwa kalau ada sapi masuk sawah, jangan buru-buru nuduh alien dari Mars; periksa dulu pagar tetangga.

Membedakan demo dan rusuh itu penting. Demo adalah koreksi rakyat, rusuh adalah sabotase. Menyebut semua demo sebagai kerusuhan sama saja dengan menyebut semua kritik sebagai makar. Itu gejala authoritarian reflex, refleks otoriter yang, kata para ilmuwan politik, merupakan tanda rezim yang takut kehilangan legitimasi.

Pemerintah seharusnya tidak buru-buru memakai narasi “bersih-bersih” untuk semua. Kalau ingin bersih sungguhan, mulailah dari korupsi, kolusi, nepotisme, mafia hukum, dan serakahnomic. Sapu lidi itu efektif kalau diarahkan ke sampah yang benar, bukan ke mahasiswa yang bawa spanduk.

Jadi, siapa ahli rusuh sesungguhnya? Jelas bukan mahasiswa yang lapar idealisme, dan memperjuangkan keadilan. Jelas bukan buruh yang menolak upah murah. Melainkan mereka yang punya kuasa, akses, dan jaringan senjata.

Dan jika pemerintah tetap menyapu demo dengan tank, maka sejarah akan mencatat: yang dirusak bukan hanya gedung atau jalanan, tapi juga nalar publik dan demokrasi yang sedang tipis-tipis dijaga.

*Penulis adalah Wartawan Senior

  • Penulis: Redaksi

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Logo Muhammadiyah

    Muhammadiyah Ingatkan Elit Politik, “Jangan Sakiti Rakyat!”

    • calendar_month Jumat, 29 Agt 2025
    • account_circle Redaksi
    • visibility 13
    • 0Komentar

    JAKARTA, CUPLIKAN.CO.ID – Gelombang aksi massa yang memanas di Jakarta dan sejumlah daerah beberapa hari terakhir, ikut mendapat perhatian serius dari Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah. Dalam pernyataan resminya, Muhammadiyah tidak hanya menyoroti korban jiwa, tetapi juga memberikan kritik keras kepada elit politik dan pejabat negara. “Semua pihak hendaknya menahan diri, menghentikan kekerasan, dan mengutamakan kepentingan […]

  • Anggota Komisi III DPR RI Fraksi Partai Nasdem, Rudianto Lallo

    Demi Stabilitas Pemerintahan Prabowo, Rudianto Lallo Serukan Fokus pada Kasus Korupsi Baru

    • calendar_month Rabu, 30 Okt 2024
    • account_circle Redaksi
    • visibility 16
    • 0Komentar

    JAKARTA, CUPLIKAN.CO.ID – Anggota Komisi III DPR RI dari Fraksi Partai Nasdem, Rudianto Lallo, menyerukan agar aparat penegak hukum memprioritaskan penanganan kasus korupsi yang baru muncul, untuk mendukung pemerintahan Presiden Prabowo Subianto yang baru berjalan. Ia mengingatkan agar Kejaksaan, KPK, dan Polri lebih berfokus pada penegakan hukum yang segar dan relevan bagi stabilitas bangsa, alih-alih […]

  • Momen Warga Kecamatan Ijen Bondowoso Diskusi aparat TNI-Polri dalam kasus kericuhan di Bondowos.

    3 TNI Disandera Warga, Dua Rumah Dibakar di Bondowoso

    • calendar_month Jumat, 16 Mei 2025
    • account_circle Redaksi
    • visibility 14
    • 0Komentar

    BONDOWOSO, CUPLIKAN.CO.ID – Kericuhan besar pecah di Desa Kaligedang, Kecamatan Ijen, Kabupaten Bondowoso, Jawa Timur. Tiga personel TNI dilaporkan sempat disandera warga pada Kamis (15/5), dalam konflik panas yang juga memicu pembakaran dua rumah dan penutupan akses jalan desa. Kapolres Bondowoso AKBP Agung Harto Cahyono membenarkan bahwa peristiwa tersebut terjadi akibat kesalahpahaman antara warga dan […]

  • Mayor Jenderal Abdolrahim Mousavi, Ketua Staf Gabungan Angkatan Bersenjata Iran.

    Iran: AS dan Israel Kini Dalam Pengawasan Ketat

    • calendar_month Sabtu, 28 Jun 2025
    • account_circle Redaksi
    • visibility 24
    • 0Komentar

    TEHERAN, CUPLIKAN.CO.ID – Ketua Staf Angkatan Bersenjata Iran, Jenderal Besar Abdolrahim Mousavi, menyatakan bahwa Iran telah berhasil memaksakan kehendaknya kepada Amerika Serikat dan Israel, sekaligus memberikan peringatan bahwa kedua negara kini berada dalam pengawasan penuh oleh kekuatan militer dan intelijen Republik Islam. Dalam pernyataan resmi yang disampaikan pada Kamis (26/6), Mousavi menyebut bahwa agresi militer […]

  • Pemain skateboard cilik asal Bali yang tergabung dalam Galskate Bali menyambut perayaan Hari Kartini dengan berseluncur di atas skateboard dengan menggunakan kebaya. Sumber foto : ANTARA.

    Lawan Stereotip, Skater Perempuan Bali Meluncur Anggun Berkebaya

    • calendar_month Minggu, 20 Apr 2025
    • account_circle Redaksi
    • visibility 12
    • 0Komentar

    DENPASAR, CUPLIKAN.CO.ID – Pemandangan tak biasa tampak di Skatepark Lumintang, Denpasar, Minggu (20/4/2025). Puluhan perempuan berselendang dan berkebaya tampak lincah menaklukkan lintasan skateboard dalam rangka memperingati Hari Kartini. Aksi ini digagas komunitas GalsSkate Bali, yang ingin menunjukkan bahwa kebaya tak menghalangi gerak bebas perempuan, bahkan di olahraga ekstrem seperti skateboard. “Kartini memperjuangkan hak perempuan agar […]

  • Ari Sutrisno, Kedua Dari Kiri. Sumber foto : AMPI Media Centre.

    AMPI Roadshow Jawa, Ari Sutrisno Dorong Aktivis Muda Log In Golkar

    • calendar_month Jumat, 8 Agt 2025
    • account_circle Redaksi
    • visibility 13
    • 0Komentar

    JAKARTA, CUPLIKAN.CO.ID – Kader muda Partai Golkar, Ari Sutrisno, memberikan pandangan terkait agenda Silaturahmi dan Roadshow AMPI ke tiga provinsi di Pulau Jawa: Jawa Tengah, Yogyakarta, dan Jawa Timur. Rangkaian kegiatan yang berlangsung dari Sabtu hingga Rabu (2–6/8) ini diikuti para kader muda Golkar dan aktivis daerah. Bagi Ari, roadshow ini bukan sekadar perjalanan fisik […]

expand_less