Tercerabutnya Ahlak Manusia Atas Lingkungan
- account_circle DDY
- calendar_month Selasa, 15 Sep 2026
- visibility 36
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Oleh: Rozi, Dosen Universitas Bangka Belitung dan Mahasiswa S3 Pengkajian Islam UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
“Diajek bekisah, malah ngelawak. Ngelawak e ge garing. Yuuulah sepradik, same-same kite jage Kelekak. Dak kawe kelak banyek aik sungai kering”
Pangkal Pinang – Ada sesuatu yang perlahan-lahan hilang dari kehidupan kite orang Bangka. Bukan hanya hutan, tanah, dan air, tetapi akhlak kite terhadap lingkungan. Dulu, orang tua dan nenek moyang kite punya cara sederhana untuk menjaga alam. Mereka mungkin tidak mengenal istilah environmental sustainability, tidak pernah bicara tentang climate change atau ecological crisis, tetapi mereka paham satu hal, yaitu alam bukan sekadar tempat mengambil hasil, melainkan tempat kite menitipkan kehidupan. Salah satu warisan penting itu adalah kelekak.
Kelekak adalah hutan yang dijaga sama nenek moyang untuk penghidupan anak cucu kelak. Atau istilah Kelekak ialah kelak kek ikak (baca: nantinya untuk kalian para generani penerus). Biasanya di Kelekak, nenek moyang kite menanam pelbagai jenis buah-buhan yang bermanfaat. Kelekak bukan sekadar kebun. Di dalamnya ada ingatan, ada kehidupan, ada hubungan antara manusia dengan tanah. Di situlah orang tua dahulu menanam berbagai tanaman yang bisa dimanfaatkan untuk kebutuhan keluarga. Ada durian, duku, rambai, manggis, cempedak, dan berbagai tanaman lainnya. Kelekak menjadi semacam tabungan kehidupan yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Orang-orang tua dulu tidak banyak berpikir, “Berapa harga tanah ini kalau dijual?” Mereka lebih sering berpikir, “Ape yang bisa kite tinggalkan untuk anak cucu?” Itulah akhlak terhadap lingkungan.
Namun, hari ini cara pandang itu perlahan berubah. Banyak tanah mulai dilihat sebagai aset ekonomi semata. Hutan dianggap lahan kosong. Kelekak dianggap tidak produktif. Pohon yang dahulu dipelihara bertahun-tahun kini kadang ditebang hanya karena dianggap mengganggu pembangunan atau tidak memberikan keuntungan cepat.
Kite semakin pandai menghitung harga tanah, tetapi semakin lupa menghitung harga kehilangan alam.
Padahal, kalau sebatang pohon ditebang, yang hilang bukan hanya kayunya. Ada udara yang dihasilkan, ada air yang diserap, ada tanah yang dilindungi, ada burung yang kehilangan tempat tinggal, dan ada keseimbangan ekosistem yang mungkin tidak terlihat oleh mata kite.
Di sinilah persoalannya bukan semata-mata persoalan lingkungan. Ini adalah persoalan akhlak.
Dalam pandangan Islam, manusia tidak ditempatkan sebagai penguasa yang bebas memperlakukan alam sesuka hati. Manusia adalah khalifah yang memiliki amanah untuk memelihara kehidupan. Al-Qur’an mengingatkan agar manusia tidak membuat kerusakan di muka bumi setelah Allah memperbaikinya.
Artinya, merusak lingkungan bukan hanya persoalan hukum atau persoalan administrasi. Ia juga menyentuh wilayah moral. Ketika sungai dicemari, hutan dirusak, tanah digali tanpa pemulihan, atau sampah dibuang sembarangan, sesungguhnya ada nilai akhlak yang sedang tercerabut dari diri manusia.
Nenek moyang kite mungkin tidak memiliki teknologi seperti sekarang, tetapi mereka punya rasa malu kepada alam. Mereka tahu kapan harus mengambil dan kapan harus menyisakan. Mereka paham bahwa kalau hari ini semua dihabiskan, besok anak cucu tidak punya ape-ape.
Sekarang, justru ketika ilmu pengetahuan semakin maju, kesadaran itu kadang semakin mundur.
Kite memiliki alat berat, teknologi pertambangan, kendaraan, mesin, dan berbagai fasilitas modern. Tetapi pertanyaannya sederhana, apakah akhlak kite ikut maju?
Sebab kemajuan tanpa akhlak dapat menjadi ancaman. Alam akhirnya hanya dipandang sebagai objek ekonomi. Hutan dihitung dalam kubik kayu, tanah dihitung dalam hektare, hasil tambang dihitung dalam ton, sementara nilai kehidupan di dalamnya sering tidak ikut dihitung.
Kelekak mengajarkan sesuatu yang sangat sederhana, menanam hari ini untuk orang yang mungkin tidak pernah kite temui. Bukankah itu bentuk akhlak yang luar biasa?
Orang yang menanam durian puluhan tahun lalu mungkin tidak pernah menikmati seluruh hasilnya. Bisa jadi ia hanya menikmati beberapa kali musim buah. Tetapi ia tetap menanam karena tahu suatu hari anak cucunya akan memetiknya.
Di zaman sekarang, kita justru sering ingin semuanya serba cepat. Menanam harus cepat menghasilkan. Tanah harus cepat bernilai. Hasil harus cepat dinikmati. Akhirnya, kesabaran ekologis yang dahulu dimiliki nenek moyang perlahan hilang. Kelekak jangan sampai tinggal nama dalam cerita orang-orang tua kite.
Kalau generasi muda tidak lagi mengenal nilai kelekak, maka yang hilang bukan hanya kebun dan pohon-pohonnya. Yang hilang adalah cara pandang, kearifan, dan akhlak ekologis masyarakat Bangka.
Maka menjaga lingkungan tidak harus dimulai dengan sesuatu yang besar. Mulailah dengan menanam satu pohon, menjaga satu sumber air, tidak membuang sampah sembarangan, merawat kebun, dan menghidupkan kembali kelekak yang mulai ditinggalkan.
Sebab alam tidak membutuhkan manusia yang hanya pandai berbicara tentang kelestarian. Alam membutuhkan manusia yang berakhlak dalam memperlakukannya.
Jangan sampai suatu hari anak cucu kite bertanya, “Atok, dulu di Bangka banyak kelekak, kenape sekarang tinggal cerite?” Dan kite tidak mampu menjawabnya.
Karena pada saat itu, yang sebenarnya telah hilang bukan hanya kelekak. Yang telah tercerabut adalah akhlak manusia terhadap lingkungan.
- Penulis: DDY

Saat ini belum ada komentar