Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Sosok » Masykur Isnan (Ketum Pemuda Kaum Betawi); Jakarta Kota Global, Betawi Jangan Tertinggal

Masykur Isnan (Ketum Pemuda Kaum Betawi); Jakarta Kota Global, Betawi Jangan Tertinggal

  • account_circle DDY
  • calendar_month Senin, 18 Mei 2026
  • visibility 93
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Jakarta, editoria.co.id – Jakarta sedang berjalan menuju usia lima abad. Angka itu bukan sekadar penanda waktu, melainkan cermin panjang sejarah yang membentuk kota ini. Dari Sunda Kelapa, Jayakarta, Batavia, hingga Jakarta hari ini, kota ini berkali-kali berganti wajah, penguasa, dan orientasi. Kini Jakarta memasuki babak baru: menjadi kota global, tempat modal, gagasan, dan manusia dari berbagai penjuru dunia bertemu.

Namun di tengah arus transformasi itu, ada satu pertanyaan yang tak boleh tertinggal: ketika Jakarta semakin mendunia, masihkah ia mengenali wajahnya sendiri?

Pertanyaan ini bukan nostalgia. Ini soal kebudayaan, dan pada akhirnya, soal keadilan.

Banyak kota besar dunia justru menjadi kuat karena mampu menjaga akar budayanya. Tokyo tetap hidup dengan etika lokal yang menopangnya. Paris memikat bukan hanya karena menara dan museum, tetapi karena kesetiaannya pada bahasa, cara hidup, dan estetikanya. Istanbul berdiri di persimpangan dunia, tetapi tidak tercerabut dari lapisan sejarahnya sendiri.

Pelajarannya jelas: kota global yang kokoh bukan kota yang meninggalkan identitas lokalnya, melainkan kota yang menjadikan identitas itu sebagai daya tarik sekaligus daya tahan.

Bagi Jakarta, identitas itu bernama Betawi.

Betawi bukan sekadar label etnis. Ia adalah hasil perjumpaan panjang berbagai kebudayaan yang membentuk Jakarta sejak era pelabuhan. Di dalamnya bertemu beragam unsur budaya yang kemudian melebur menjadi karakter khas masyarakat kota: terbuka, cair, sekaligus egaliter. Dalam pengertian itu, kebetawian sesungguhnya telah lama hidup dalam semangat global jauh sebelum istilah “kota global” populer digunakan.

Di tengah modernisasi yang semakin masif, kebetawian kerap berhenti sebagai simbol. Ondel-ondel hadir dalam seremoni, gambang kromong dimainkan saat penyambutan tamu, sementara pakaian adat dikenakan pada hari-hari peringatan. Semua itu penting, tetapi belum cukup.

Sebab di balik perayaan simbolik, ada kenyataan yang lebih sunyi: ruang sosial masyarakat Betawi terus menyempit. Mereka perlahan bergeser dari pusat kota, kehilangan ruang hidup, bahkan kadang kehilangan posisi tawar atas kota yang dibangun oleh sejarah leluhurnya sendiri.

Karena itu, menjaga Betawi tidak cukup hanya dengan melestarikan keseniannya. Yang lebih penting adalah memastikan masyarakat Betawi tetap memiliki suara dalam menentukan arah masa depan Jakarta.

Di titik inilah gagasan bahwa Suku Betawi tidak boleh menjadi penonton di kampungnya sendiri menemukan relevansinya. Menjadi penonton berarti kehilangan ruang dalam percakapan publik, kehilangan posisi dalam pengambilan keputusan, dan perlahan kehilangan rasa memiliki terhadap kota sendiri.

Kebudayaan tanpa kelembagaan akan mudah dipinggirkan. Ia dirayakan, tetapi tidak diperhitungkan.

Keberadaan Majelis Kaum Betawi (MKB) menjadi penting. MKB bukan sekadar organisasi administratif, melainkan ruang konsolidasi kultural tempat berbagai elemen masyarakat Betawi berhimpun, berdialog, dan merumuskan kepentingan bersama. Kehadirannya penting agar aspirasi kebetawian tidak tercerai-berai dan memiliki saluran yang lebih kuat dalam kehidupan kota.

Lebih dari itu, MKB berpotensi menjadi jembatan antara masyarakat Betawi dengan ruang-ruang pengambilan kebijakan di Jakarta. Sebab pembangunan kota tidak pernah berlangsung di ruang kosong. Setiap kebijakan tata ruang, pembangunan kawasan, hingga agenda kebudayaan selalu bersentuhan langsung dengan ruang hidup masyarakat Betawi.

Karena itu, menjadikan MKB sebagai mitra strategis Pemerintah Jakarta bukanlah bentuk keistimewaan bagi satu kelompok, melainkan bagian dari upaya menghadirkan pembangunan yang memiliki legitimasi sosial dan akar kebudayaan yang kuat.

Menuju lima abad Jakarta, barangkali hadiah terbesar bukan sekadar perayaan seremonial atau capaian ekonomi yang mudah dilupakan waktu. Hadiah terbesar itu adalah keberpihakan nyata terhadap Suku Betawi sebagai akar kebudayaan kota ini.

Jakarta sudah tumbuh menjadi rumah bagi banyak orang, dan itulah kebesarannya. Namun kebesaran sebuah kota baru benar-benar sempurna ketika ia tetap memberi tempat terhormat kepada mereka yang telah merawat tanahnya jauh sebelum gedung-gedung pencakar langit berdiri.

Jakarta boleh terus menatap dunia. Ia boleh bercita-cita menjadi pusat keuangan, pusat budaya, dan pusat inovasi. Tetapi sejauh apa pun ia melangkah, kota ini tidak boleh lupa pada akar yang menumbuhkannya.

Dan akar itu bernama Betawi.

Di titik itulah, kemitraan strategis antara Pemerintah Provinsi Jakarta dan Majelis Kaum Betawi menemukan maknanya. Sebab kota global yang kuat tidak dibangun dengan melupakan akar budayanya, melainkan dengan merangkul dan memperkuatnya sebagai fondasi masa depan.

Sejarah kelak bisa mencatat bahwa di era Pramono Anung, Jakarta berhasil mengambil langkah penting: mempersatukan dan memperkuat masyarakat Betawi dalam satu wadah bersama bernama MKB. Sebuah langkah yang bukan hanya penting bagi Suku Betawi, tetapi juga bagi arah kebudayaan Jakarta sebagai kota global yang tetap berakar pada identitasnya sendiri.

Pada akhirnya, kota global yang sejati bukan kota yang lupa pada asal-usulnya, melainkan kota yang cukup percaya diri untuk tetap menjadi tuan rumah di rumahnya sendiri. (dd)

  • Penulis: DDY

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Lembaga Manajemen Kolektif Nasional

    LMKN Perkuat Tata Kelola Royalti Musik Digital Indonesia

    • calendar_month Jumat, 19 Sep 2025
    • account_circle Redaksi
    • visibility 13
    • 0Komentar

    JAKARTA, CUPLIKAN.CO.ID – Lembaga Manajemen Kolektif Nasional (LMKN) resmi memperkuat tata kelola distribusi royalti musik, khususnya pada platform digital. Langkah ini diambil untuk memastikan hak ekonomi para pencipta dan pemilik karya terdistribusi lebih adil, transparan, serta sesuai regulasi terbaru. Sebagai lembaga bantu pemerintah non-APBN, LMKN memegang mandat dari UU Hak Cipta Nomor 28 Tahun 2014, […]

  • Direktur Jenderal Badan Energi Atom Internasional (IAEA), Rafael Grossi

    Iran Tuduh Rafael Grossi Rusak Program Nuklir Damai

    • calendar_month Jumat, 20 Jun 2025
    • account_circle Redaksi
    • visibility 18
    • 0Komentar

    TEHERAN, CUPLIKAN.CO.ID – Kepala Organisasi Energi Atom Iran (AEOI), Mohammad Eslami, menuding Direktur Jenderal Badan Energi Atom Internasional (IAEA), Rafael Grossi, memainkan peran destruktif terhadap program nuklir damai Republik Islam Iran. Dalam pernyataannya pada Rabu (19/6), Eslami menegaskan bahwa Grossi gagal menjalankan tanggung jawabnya secara profesional dalam menangani isu nuklir Iran. Ia menyebut peran destruktif […]

  • Ketum PPJI, Minerva Taran

    Ketum PPJI Minerva Taran Desak Reformasi Total Program MBG Nasional

    • calendar_month Kamis, 25 Sep 2025
    • account_circle Redaksi
    • visibility 20
    • 0Komentar

    JAKARTA, CUPLIKAN.CO.ID – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digadang-gadang pemerintah sebagai solusi peningkatan gizi anak bangsa dinilai rapuh dan berbahaya. Ketua Umum Perkumpulan Penyelenggara Jasa Boga (PPJI), Minerva Taran, menegaskan bahwa sistem MBG saat ini harus segera diubah dengan melibatkan tenaga profesional, bukan pemula yang hanya kursus singkat. “Sudah ada ribuan korban, puluhan ribu […]

  • Sekjen DPP Partai Golkar, M.Sarmuji (kiri) dalam sebuah konferensi pers bersama jajaran Pengurus DPP Partai Golkar di Jakarta.

    Sekjen Golkar : Kepala PCO Harus Bisa Baca Pikiran dan Gesture Presiden

    • calendar_month Rabu, 30 Apr 2025
    • account_circle Redaksi
    • visibility 20
    • 0Komentar

    JAKARTA, CUPLIKAN.CO.ID – Mundurnya Hasan Nasbi dari posisi Kepala Kantor Komunikasi Kepresidenan (PCO) mendapat respons dari Partai Golkar. Sekjen Partai Golkar, Sarmuji, menilai posisi strategis itu memang membutuhkan sosok yang bukan hanya kompeten secara teknis, tetapi juga memiliki kedekatan personal dan pemahaman mendalam terhadap Presiden Prabowo Subianto. “Kami menghargai sikap yang diambil Kepala PCO. Kita […]

  • Menko Perekonomian Airlangga Hartarto. Sumber foto : instagram @airlanggahartarto_official.

    Airlangga Bungkam, Spekulasi Jadi Dubes AS Makin Menguat!

    • calendar_month Jumat, 23 Mei 2025
    • account_circle Redaksi
    • visibility 15
    • 0Komentar

    JAKARTA, CUPLIKAN.CO.ID – Isu reshuffle Kabinet Merah Putih kian liar setelah nama Airlangga Hartarto santer disebut akan dipindahkan menjadi Duta Besar Indonesia untuk Amerika Serikat. Namun, saat ditanya langsung oleh awak media, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian itu memilih irit bicara. Di Kompleks Istana Kepresidenan, Kamis (22/5), Airlangga hanya tersenyum saat dikonfirmasi soal posisinya sebagai calon […]

  • Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un mengunjungi pangkalan pelatihan pasukan operasi khusus Angkatan Bersenjata Korea di lokasi yang dirahasiakan, di Korea Utara, dalam gambar yang dirilis oleh Kantor Berita Pusat Korea (KCNA) pada 4 Oktober 2024. KCNA via REUTERS.

    Kim Jong Un : Jika Kedaulatan Kami Dilanggar, Kami Respon Pakai Nuklir

    • calendar_month Jumat, 4 Okt 2024
    • account_circle Redaksi
    • visibility 10
    • 0Komentar

    SEOUL, CUPLIKAN.CO.ID – Pemimpin Korea Utara, Kim Jong Un, menyatakan negaranya tidak akan ragu untuk menggunakan semua kekuatan ofensif yang dimiliki, termasuk senjata nuklir, jika musuh mencoba menggunakan kekerasan untuk melanggar kedaulatannya. Pernyataan ini dilaporkan oleh kantor berita negara KCNA pada Jumat. “Jika kedaulatan kami dilanggar, kami akan meresponnya dengan nuklir,”kata Kim pada kantor berita […]

expand_less