Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Sosok » Masykur Isnan (Ketum Pemuda Kaum Betawi); Jakarta Kota Global, Betawi Jangan Tertinggal

Masykur Isnan (Ketum Pemuda Kaum Betawi); Jakarta Kota Global, Betawi Jangan Tertinggal

  • account_circle DDY
  • calendar_month Senin, 18 Mei 2026
  • visibility 96
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Jakarta, editoria.co.id – Jakarta sedang berjalan menuju usia lima abad. Angka itu bukan sekadar penanda waktu, melainkan cermin panjang sejarah yang membentuk kota ini. Dari Sunda Kelapa, Jayakarta, Batavia, hingga Jakarta hari ini, kota ini berkali-kali berganti wajah, penguasa, dan orientasi. Kini Jakarta memasuki babak baru: menjadi kota global, tempat modal, gagasan, dan manusia dari berbagai penjuru dunia bertemu.

Namun di tengah arus transformasi itu, ada satu pertanyaan yang tak boleh tertinggal: ketika Jakarta semakin mendunia, masihkah ia mengenali wajahnya sendiri?

Pertanyaan ini bukan nostalgia. Ini soal kebudayaan, dan pada akhirnya, soal keadilan.

Banyak kota besar dunia justru menjadi kuat karena mampu menjaga akar budayanya. Tokyo tetap hidup dengan etika lokal yang menopangnya. Paris memikat bukan hanya karena menara dan museum, tetapi karena kesetiaannya pada bahasa, cara hidup, dan estetikanya. Istanbul berdiri di persimpangan dunia, tetapi tidak tercerabut dari lapisan sejarahnya sendiri.

Pelajarannya jelas: kota global yang kokoh bukan kota yang meninggalkan identitas lokalnya, melainkan kota yang menjadikan identitas itu sebagai daya tarik sekaligus daya tahan.

Bagi Jakarta, identitas itu bernama Betawi.

Betawi bukan sekadar label etnis. Ia adalah hasil perjumpaan panjang berbagai kebudayaan yang membentuk Jakarta sejak era pelabuhan. Di dalamnya bertemu beragam unsur budaya yang kemudian melebur menjadi karakter khas masyarakat kota: terbuka, cair, sekaligus egaliter. Dalam pengertian itu, kebetawian sesungguhnya telah lama hidup dalam semangat global jauh sebelum istilah “kota global” populer digunakan.

Di tengah modernisasi yang semakin masif, kebetawian kerap berhenti sebagai simbol. Ondel-ondel hadir dalam seremoni, gambang kromong dimainkan saat penyambutan tamu, sementara pakaian adat dikenakan pada hari-hari peringatan. Semua itu penting, tetapi belum cukup.

Sebab di balik perayaan simbolik, ada kenyataan yang lebih sunyi: ruang sosial masyarakat Betawi terus menyempit. Mereka perlahan bergeser dari pusat kota, kehilangan ruang hidup, bahkan kadang kehilangan posisi tawar atas kota yang dibangun oleh sejarah leluhurnya sendiri.

Karena itu, menjaga Betawi tidak cukup hanya dengan melestarikan keseniannya. Yang lebih penting adalah memastikan masyarakat Betawi tetap memiliki suara dalam menentukan arah masa depan Jakarta.

Di titik inilah gagasan bahwa Suku Betawi tidak boleh menjadi penonton di kampungnya sendiri menemukan relevansinya. Menjadi penonton berarti kehilangan ruang dalam percakapan publik, kehilangan posisi dalam pengambilan keputusan, dan perlahan kehilangan rasa memiliki terhadap kota sendiri.

Kebudayaan tanpa kelembagaan akan mudah dipinggirkan. Ia dirayakan, tetapi tidak diperhitungkan.

Keberadaan Majelis Kaum Betawi (MKB) menjadi penting. MKB bukan sekadar organisasi administratif, melainkan ruang konsolidasi kultural tempat berbagai elemen masyarakat Betawi berhimpun, berdialog, dan merumuskan kepentingan bersama. Kehadirannya penting agar aspirasi kebetawian tidak tercerai-berai dan memiliki saluran yang lebih kuat dalam kehidupan kota.

Lebih dari itu, MKB berpotensi menjadi jembatan antara masyarakat Betawi dengan ruang-ruang pengambilan kebijakan di Jakarta. Sebab pembangunan kota tidak pernah berlangsung di ruang kosong. Setiap kebijakan tata ruang, pembangunan kawasan, hingga agenda kebudayaan selalu bersentuhan langsung dengan ruang hidup masyarakat Betawi.

Karena itu, menjadikan MKB sebagai mitra strategis Pemerintah Jakarta bukanlah bentuk keistimewaan bagi satu kelompok, melainkan bagian dari upaya menghadirkan pembangunan yang memiliki legitimasi sosial dan akar kebudayaan yang kuat.

Menuju lima abad Jakarta, barangkali hadiah terbesar bukan sekadar perayaan seremonial atau capaian ekonomi yang mudah dilupakan waktu. Hadiah terbesar itu adalah keberpihakan nyata terhadap Suku Betawi sebagai akar kebudayaan kota ini.

Jakarta sudah tumbuh menjadi rumah bagi banyak orang, dan itulah kebesarannya. Namun kebesaran sebuah kota baru benar-benar sempurna ketika ia tetap memberi tempat terhormat kepada mereka yang telah merawat tanahnya jauh sebelum gedung-gedung pencakar langit berdiri.

Jakarta boleh terus menatap dunia. Ia boleh bercita-cita menjadi pusat keuangan, pusat budaya, dan pusat inovasi. Tetapi sejauh apa pun ia melangkah, kota ini tidak boleh lupa pada akar yang menumbuhkannya.

Dan akar itu bernama Betawi.

Di titik itulah, kemitraan strategis antara Pemerintah Provinsi Jakarta dan Majelis Kaum Betawi menemukan maknanya. Sebab kota global yang kuat tidak dibangun dengan melupakan akar budayanya, melainkan dengan merangkul dan memperkuatnya sebagai fondasi masa depan.

Sejarah kelak bisa mencatat bahwa di era Pramono Anung, Jakarta berhasil mengambil langkah penting: mempersatukan dan memperkuat masyarakat Betawi dalam satu wadah bersama bernama MKB. Sebuah langkah yang bukan hanya penting bagi Suku Betawi, tetapi juga bagi arah kebudayaan Jakarta sebagai kota global yang tetap berakar pada identitasnya sendiri.

Pada akhirnya, kota global yang sejati bukan kota yang lupa pada asal-usulnya, melainkan kota yang cukup percaya diri untuk tetap menjadi tuan rumah di rumahnya sendiri. (dd)

  • Penulis: DDY

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Para pengunjuk rasa Muslim melaksanakan salat di luar kampus utama Universitas Columbia saat demonstrasi untuk mengecam penangkapan imigrasi terhadap Mahmoud Khalil, seorang aktivis pro-Palestina yang turut memimpin aksi protes menentang Israel di universitas tersebut, di New York City, Amerika Serikat, 14 Maret 2025. REUTERS/David Dee Delgado.

    Kebebasan Bersuara Dipertaruhkan dalam Kasus Deportasi Khalil

    • calendar_month Sabtu, 12 Apr 2025
    • account_circle Redaksi
    • visibility 17
    • 0Komentar

    JENA, LOUISIANA, CUPLIKAN.CO.ID  – Sidang imigrasi terhadap Mahmoud Khalil, mahasiswa Universitas Columbia yang juga aktivis pro-Palestina, menuai sorotan luas setelah seorang hakim AS memutuskan bahwa ia dapat dideportasi, meskipun belum pernah didakwa melakukan kejahatan apapun. Putusan ini menandai babak baru dalam kebijakan imigrasi era Presiden Donald Trump yang dituding menggunakan hukum untuk membungkam suara-suara kritis […]

  • Ketua Umum DPP PPP, M. Mardiono

    Usai Dualisme Berakhir, Mardiono Siapkan Mukernas Rekonsiliasi PPP

    • calendar_month Senin, 6 Okt 2025
    • account_circle Redaksi
    • visibility 18
    • 0Komentar

    JAKARTA, CUPLIKAN.CO.ID – Setelah melalui dinamika panjang dan perbedaan tajam, Partai Persatuan Pembangunan (PPP) akhirnya kembali bersatu. Kementerian Hukum dan HAM (Kemenkumham) resmi menerbitkan revisi Surat Keputusan (SK) kepengurusan PPP periode 2025–2030, menandai berakhirnya dualisme yang sempat membelah partai berlambang Kakbah itu. Dalam SK terbaru, Muhammad Mardiono ditetapkan sebagai Ketua Umum, sedangkan Agus Suparmanto menduduki […]

  • Salah satu adegan dalam film Roman Empire

    Review Film Roman Empire: Kekuasaan, Pengkhianatan, dan Kejatuhan dalam Balutan Sejarah

    • calendar_month Sabtu, 2 Nov 2024
    • account_circle Redaksi
    • visibility 20
    • 0Komentar

    JAKARTA, CUPLIKAN.CO.ID – Roman Empire, serial dokumenter-dramatis yang diproduksi oleh Netflix, menawarkan perspektif unik dalam menggambarkan kisah-kisah kekaisaran Romawi yang penuh intrik. Serial ini menggabungkan narasi historis dengan drama aksi langsung, memberikan pengalaman yang tidak hanya informatif tetapi juga menghibur. Dengan alur yang berfokus pada tokoh-tokoh penting dalam sejarah Romawi, seperti Commodus, Julius Caesar, dan […]

  • Bahlil Lahadalia, Ketua Satgas Hilirisasi dan Ketahanan Energi. Sumber foto : TEMPO

    Satgas Hilirisasi Dibentuk, Bahlil Ditugaskan Optimalkan Sumber Daya Alam

    • calendar_month Sabtu, 11 Jan 2025
    • account_circle Redaksi
    • visibility 19
    • 0Komentar

    JAKARTA, CUPLIKAN.CO.ID – Presiden Prabowo Subianto menunjuk Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, sebagai Ketua Satuan Tugas (Satgas) Percepatan Hilirisasi dan Ketahanan Energi Nasional. Satgas ini dibentuk melalui Keputusan Presiden Nomor 1 Tahun 2025 yang ditandatangani pada 3 Januari 2025. Satgas ini memiliki dua tujuan utama. Pertama, mempercepat hilirisasi di sektor mineral, […]

  • Ketika Logika Formal Bertemu Sutra Hati

    Ketika Logika Formal Bertemu Sutra Hati

    • calendar_month Sabtu, 26 Sep 2026
    • account_circle DDY
    • visibility 48
    • 0Komentar

    Oleh: Agustian Hutriady Jakarta – Saya pernah membaca kalimat “kosong adalah isi, isi adalah kosong” dan langsung mengernyitkan dahi. Bukan karena terkesan, tapi karena terganggu. Dalam logika formal, kalimat itu terasa seperti kesalahan mendasar: kosong adalah kosong itu sendiri, isi adalah isi itu sendiri. Menyamakan dua hal yang justru didefinisikan sebagai lawan satu sama lain […]

  • Malut United Resmi Berganti Nama Jadi Jateng United, Home Base Pindah ke Stadion Jatidiri Semarang

    Malut United Resmi Berganti Nama Jadi Jateng United, Home Base Pindah ke Stadion Jatidiri Semarang

    • calendar_month Jumat, 19 Jun 2026
    • account_circle DDY
    • visibility 33
    • 0Komentar

    Jakarta, editoria.co.id – Klub peserta Indonesia Super League, Malut United FC, resmi berganti nama menjadi Jateng United FC dan memindahkan markasnya dari Provinsi Maluku Utara ke Provinsi Jawa Tengah untuk menghadapi musim kompetisi 2026–2027. Keputusan tersebut tertuang dalam surat resmi PT Malut Maju Sejahtera selaku badan hukum klub bernomor 25/MMS-MUtd/VI/2026 yang ditujukan kepada Persatuan Sepak […]

expand_less