Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Opini » Sound Horeg, Musik Gembira Penggerus Jiwa

Sound Horeg, Musik Gembira Penggerus Jiwa

  • account_circle Redaksi
  • calendar_month Senin, 1 Sep 2025
  • visibility 28
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Oleh: Eva K Sundari*

JAKARTA, CUPLIKAN.CO.ID – Ada satu fenomena hiburan yang memunculkan perdebatan hangat di Jatim: Sound Horeg. Di balik dentuman suara musik yang mengguncang dada, memekakkan telinga, memecahkan kaca, dan merontokkan genteng, tersembunyi ancaman nyata berupa kerusakan sosial, spiritual, dan psikologis yang bersifat seketika yang dialami, baik oleh korban maupun penyelenggara.

Bagi para penyuka, Sound Horeg adalah pesta musik dengan dentuman bass yang memicu euforia. Para perempuan berseragam seksi berbaris menari sambil menerima saweran penonton sepanjang jalan.

Suara yang memekakkan telinga (120 dB) dianggap simbol “kemeriahan”, menunjukkan eksistensi, bahkan sarana ekonomi bagi penyelenggara. Para perempuan dan bayi-bayi mereka kehilangan ruang nyaman sehingga sering para ibu muda memilih menyingkir menjauh untuk menyelamatkan gendang telinga bayi mereka.

Hiburan yang Menjadi Teror

Bagi penikmatnya, dentuman musik dianggap memicu semangat. Tapi bagi warga sekitar, terutama lansia, anak kecil, atau orang yang sedang sakit, ini menjadi sumber stres yang nyata. Gangguan tidur, sakit kepala, kecemasan, hingga tekanan darah tinggi adalah efek langsung yang telah dibuktikan oleh riset kesehatan terkait kebisingan di atas 85 dB.

Lebih dari sekadar polusi suara, Sound Horeg dalam durasi panjang dan tanpa pengaturan waktu adalah pelanggaran hak atas rasa aman. Hak ini adalah bagian dari kemanusiaan yang adil dan beradab, sebagaimana ditekankan dalam Sila Kedua Pancasila.

Fenomena Sound Horeg ini unik karena kerusakan tidak hanya terjadi pada korban, tetapi juga pada pelakunya. Korban mengalami stres, rasa tak berdaya, dan ketegangan sosial. Mereka sering merasa tidak mampu melawan karena penyelenggara yang punya dukungan massa atau otoritas lokal. Lama-kelamaan, muncul learned helplessness—sikap pasrah terhadap ketidakadilan karena merasa protes tidak ada gunanya.

Bagi pelaku/penyelenggara yang tahu dampak tersebut, mereka juga korban dari pola egoisme. Kesenangan pribadi atau kelompok lebih diutamakan daripada kenyamanan orang lain. Empati terhadap penderitaan sekitar terkikis, dan mereka cuek saja melakukan pelanggaran aturan, misalnya melanggar jam malam atau batas kebisingan dianggap wajar.

Kedua belah pihak sebenarnya sama-sama kehilangan sesuatu: korban kehilangan ketenangan, pelaku kehilangan kepekaan hati. Ini adalah kerusakan spiritual dua arah, dan menjadi konyol ketika pemerintah membiarkannya. Meskipun MUI setempat mengharamkan, Gubernur Jatim membolehkan dengan syarat tidak berisik, tetapi tanpa detail pengaturan.

Keretakan Sosial yang Mengintai

Di banyak wilayah, Sound Horeg telah memicu konflik antarwarga. Ada yang sampai saling bermusuhan, bahkan berkelahi. Sumbernya sederhana: hiburan satu pihak menjadi siksaan pihak lain.

Dalam masyarakat yang sehat, gotong royong dan saling menghormati menjadi perekat. Tetapi kebisingan yang berlebihan memutus perekat itu, menciptakan polarisasi “pro” dan “kontra” yang tajam.

Ironisnya, acara yang dimaksudkan untuk membangun kebersamaan justru menjadi sumber perpecahan. Ini jelas bertentangan dengan Sila Persatuan Pancasila.

Dari kacamata Feminisme Pancasila, Sound Horeg memiliki dimensi gender yang sering diabaikan. Banyak acara Sound Horeg disertai dengan pertunjukan joget atau tarian perempuan dengan pakaian minim dan terbuka. Perempuan kerap menjadi objek tontonan, bukan subjek yang berdaulat.

Selain itu, perempuan terutama ibu rumah tangga, sering menjadi pihak yang paling menderita akibat kebisingan. Mereka harus menenangkan anak yang menangis, merawat anggota keluarga yang sakit, atau tetap bekerja di tengah polusi suara. Hanya saja, pertunjukan hiburan yang patriarkal ini mengabaikan kepentingan para ibu, anak-anak, dan lansia ini.

Sepatutnya ada kesetaraan partisipasi dalam menentukan bentuk hiburan yang layak, aman, dan menghormati martabat semua pihak. Aspirasi para ibu sepatutnya dijadikan pertimbangan dalam menyikapi keberadaan pertunjukan Sound Horeg.

Para perempuan, sebagai madrasah keluarga, memprihatinkan kerusakan spiritual sebagai dampak Sound Horeg. Bukan sekadar soal agama, melainkan hilangnya kesadaran akan nilai-nilai luhur yang menjadi pondasi kehidupan bersama.

Bagi korban, marah dan benci yang berlarut mengikis kemampuan untuk sabar dan memaafkan. Bagi pelaku, kebiasaan mengabaikan kenyamanan orang lain mengikis empati dan menguatkan nafsu untuk berkuasa atas ruang publik.

Dalam bahasa sederhana, Sound Horeg mengikis “rasa” termasuk rasa malu, rasa hormat, rasa peduli. Ketika rasa-rasa ini hilang, masyarakat menjadi kering, meski musiknya menggelegar. Hilangnya “rasa” ini ibarat Orang Jawa kehilangan Jawanya kata Joyoboyo.

Solusi: Mengubah, Bukan Memusnahkan

Sound Horeg tidak harus dihapuskan sepenuhnya. Musik adalah bagian penting dari budaya dan kebahagiaan. Yang dibutuhkan adalah pengaturan dan transformasi oleh pemerintah.

Batasi Volume & Waktu Pelaksanaan – Buat aturan tegas soal jam dan desibel, disertai sanksi yang adil. Desain Partisipasi Warga  yang inklusif. Libatkan semua lapisan masyarakat, terutama perempuan dan kelompok rentan, dalam merancang aturan maupun menentukan bentuk hiburan.

Aspek yang penting lainnya adalah Pendidikan Empati – Kampanye kesadaran bahwa hiburan tidak boleh mengorbankan hak orang lain. Beri peran perempuan yang signifikan, jangan membangun kesan perempuan sebagai objek seksual. Bawahan kebaya batik super mini, atau belahan hingga mendekati pangkal paha, malah menghilangkan keindahan baju kebaya kebanggaan kita.

Alihkan Sound Horeg menjadi ajang kreatif yang menonjolkan seni lokal, lomba musik, atau format panggung yang lebih ramah telinga. Kembangkan Inovasi Budaya – yang bersandar pada kreativitas dan pertambahan nilai ekonomi dan seni, serta menghentikan eksploitasi tubuh untuk membangkitkan sensasi seksualitas perempuan.

Kegembiraan sejati adalah ketika semua pihak bisa tersenyum tanpa ada yang harus menutup telinga atau menahan amarah. Dentuman bass yang memecah malam mungkin memberi sensasi euforia sesaat, tapi damai yang terjaga akan memberi kebahagiaan yang jauh lebih lama karena memberi energi/frekuensi tubuh yang tinggi.

Fenomena Sound Horeg adalah cermin bagaimana kita mengelola kebebasan. Pancasila mendukung bentuk kesenangan yang mulia sehingga membangun kebahagiaan, bukan kegembiraan yang merusak psikologis bahkan jiwa. Mari bermusik yang disertai empati, aturan, dan kesadaran sehingga bisa menjadi penyembuh luka kolektif kita semua.

*Penulis adalah Direktur Institut Sarinah

 

  • Penulis: Redaksi

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Ketua DPR RI, Puan Maharani

    Puan Minta Evaluasi Total Program Makan Bergizi Gratis Nasional

    • calendar_month Selasa, 23 Sep 2025
    • account_circle Redaksi
    • visibility 22
    • 0Komentar

    JAKARTA, CUPLIKAN.CO.ID – Ketua DPR RI Puan Maharani meminta pemerintah melakukan evaluasi menyeluruh terhadap program Makan Bergizi Gratis (MBG) menyusul lonjakan kasus keracunan siswa di sejumlah daerah. Ia menegaskan evaluasi harus dilakukan bersama-sama tanpa saling menyalahkan. “Evaluasinya harus total, jangan saling menyalahkan. Kita evaluasi bersama agar kasus serupa tidak terulang,” kata Puan usai memimpin rapat […]

  • Juru bicara Kementerian Pertahanan, Brigadir Jenderal Reza Talaei-Nik

    Iran Klaim Serang Markas Intelijen Israel dengan Rudal Baru

    • calendar_month Selasa, 17 Jun 2025
    • account_circle Redaksi
    • visibility 41
    • 0Komentar

    TEHERAN, RDAIANTVOICE.ID – Kementerian Pertahanan Iran mengumumkan bahwa pihaknya telah menggunakan rudal jenis baru yang tidak terdeteksi dalam serangan terhadap fasilitas intelijen Israel, dan menyatakan bahwa serangan tersebut berhasil menembus lapisan pertahanan udara yang didukung oleh Amerika Serikat. Juru bicara Kementerian Pertahanan, Brigadir Jenderal Reza Talaei-Nik, pada Selasa (17/6), menyebut bahwa rudal yang digunakan dalam […]

  • Ketua KPID DKI, Puji Hartoyo

    KPID DKI Imbau Media Jaga Etika Liput Aksi Unjuk Rasa

    • calendar_month Jumat, 29 Agt 2025
    • account_circle Redaksi
    • visibility 20
    • 0Komentar

    JAKARTA, CUPLIKAN.CO.ID – Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) DKI Jakarta mengeluarkan imbauan resmi kepada seluruh lembaga penyiaran agar menjaga profesionalitas dan mematuhi kode etik jurnalistik dalam meliput aksi unjuk rasa terkait isu tunjangan rumah anggota DPR RI. Surat bernomor 309/KPID-DKI/VIII/2025 itu ditandatangani Ketua KPID DKI, Puji Hartono, pada Kamis (28/8/2025). Dalam surat tersebut, KPID DKI […]

  • Rektor terpilih UI, Heri Hermansyah

    Heri Hermansyah Terpilih Memimpin Universitas Indonesia Hingga 2029

    • calendar_month Senin, 23 Sep 2024
    • account_circle Redaksi
    • visibility 289
    • 0Komentar

    JAKARTA, CUPLIKAN.CO.ID – Heri Hermansyah resmi terpilih sebagai Rektor Universitas Indonesia (UI) periode 2024-2029 setelah memenangkan pemungutan suara yang dilakukan oleh Majelis Wali Amanat UI (MWA UI) di Balai Sidang UI, Kampus Depok, pada Senin (23/9). Heri unggul dengan meraih 18 suara, mengalahkan dua kandidat lainnya, Teguh Dartanto yang memperoleh 4 suara dan Ari Fahrial […]

  • Anggota Komisi XII DPR RI, Meitri Citra Wardani dalam acara Rapat Dengar Pendapat dengan Kepala BPH Migas untuk membahas progres dan evaluasi pelaksanaan program hingga Triwulan III 2024, serta program strategis tahun 2025 di Gedung Parlemen, Jakarta pada Senin (18/11/2024) kemarin.

    Meitri Minta BPH Migas Tingkatkan Pengawasan Subsidi BBM

    • calendar_month Selasa, 19 Nov 2024
    • account_circle Redaksi
    • visibility 14
    • 0Komentar

    JAKARTA, CUPLIKAN.CO.ID – Anggota Komisi XII DPR RI, Meitri Citra Wardani, mengkritik maraknya penyelewengan BBM bersubsidi yang terjadi di daerah pemilihannya, Mojokerto, Jawa Timur. Meski aparat pernah menindak kasus tersebut, praktik penyelewengan kembali terulang, diduga oleh pelaku yang sama. “Berulangnya kasus penyelewengan BBM bersubsidi ini menyebabkan subsidi tidak tepat sasaran. Masyarakat kecil yang seharusnya dapat […]

  • Hari Buruh 2026: Dari Palu ke Layar Ponsel

    Hari Buruh 2026: Dari Palu ke Layar Ponsel

    • calendar_month Sabtu, 2 Mei 2026
    • account_circle Redaksi
    • visibility 97
    • 0Komentar

    JAKARTA, EDITORIA.CO.ID – Oleh Bayu Angga Saputra S.E., M.M. (Aktivis dan Penggiat Media Sosial) Indonesia kembali memperingati Hari Buruh Internasional. Di negeri ini 1 Mei bukan sekadar tanggal merah biasa, tetapi ia sudah ditetapkan sebagai hari libur sejak Keppres No. 24 Tahun 2013, dan tetap tercantum dalam daftar libur nasional 2026. Secara sejarah, May Day […]

expand_less