Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Opini » Bukan Sekedar Bubarkan DPR

Bukan Sekedar Bubarkan DPR

  • account_circle Redaksi
  • calendar_month Selasa, 2 Sep 2025
  • visibility 18
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Oleh : Ahmadie Thaha (Cak AT)

Seorang anak bangsa bernama Affan Kurniawan, ojek online yang sehari-hari mengais rezeki di jalanan, akhirnya ditelan aspal Senayan, dilindas mobil rantis seberat 12 ton. Tragis, heroik, sekaligus ironis.

Ia bukan mati di medan perang lawan penjajah, melainkan di depan Gedung DPR, gedung yang katanya rumah rakyat, tapi entah rakyat yang mana. Dari sanalah slogan demonstrasi paling populer lahir: “Bubarkan DPR!”

Namun, seperti kata Mahfud MD, mantan Menko Polhukam yang hobi bicara normatif, tuntutan seperti itu mustahil. Parlemen adalah roh demokrasi. “Terlalu berisiko dan mengada-ada kalau sampai minta DPR dibubarkan,” katanya seraya menegaskan dirinya sedang bicara serius.

Betul, tapi mungkin massa yang tumpah di Senayan itu tidak sedang bicara soal roh. Mereka bicara soal hantu. Hantu DPR yang gentayangan di ruang rapat, menyedot anggaran, lalu menakut-nakuti rakyat dengan undang-undang yang tiba-tiba lahir tengah malam.

Bagi akademisi, “Bubarkan DPR” tentu hanya hiperbola politik. Sebuah ekspresi frustrasi massal. Dalam kajian komunikasi politik, itu disebut seruan delegitimasi simbolik, semacam teriakan ventilasi kolektif ketika ruang formal tak lagi dipercaya.

Data survei LSI bahkan menunjukkan titik nadir legitimasi rakyat pada Parlemen. Hanya sekitar seperempat rakyat Indonesia yang percaya DPR bekerja untuk kepentingan publik. Sisanya mungkin lebih percaya dukun kampung atau ustadz TikTok.

Jadi ketika rakyat berteriak, “Bubarkan DPR,” mereka sejatinya tidak sedang bicara tentang membakar konsep perwakilan, melainkan tentang bubarkan serakahnomic, bubarkan mental bancakan, bubarkan keistimewaan. Hanya saja, rakyat di jalan tentu tidak sempat bikin catatan kaki.

Kalau kita perhatikan pola perusakan dalam demo belakangan ini, sebenarnya ada “teks politik” yang sedang ditulis dengan batu dan bensin. Coba Anda perhatikan. Rumah Ahmad Sahroni dkk dirusak, gedung DPRD dibakar, rumah Sri Mulyani diserang, kantor polisi dilempari. Ini sengaja disasar, bukan kebetulan.

Dalam analisis politik, sasaran itu adalah simbol. DPR dianggap lambang elite banci kompromi, DPRD hanya perpanjangan lidah pusat, Sri Mulyani personifikasi pajak dan utang yang mencekik, polisi wajah represi negara.

Kalau pemikir Slovenia Slavoj Žižek ada di Senayan sore itu menyaksikan demo, ia mungkin akan bilang: “Lihatlah, inilah bahasa terakhir ketika bahasa formal mati.” Kekerasan massa adalah bahasa politik yang brutal, tapi sekaligus jujur.

Di balik puing-puing itu, sesungguhnya ada tuntutan nyata. Rakyat sudah muak dengan tontonan serakahnomic, sudah terlalu lama menunggu kapan DPR mengesahkan UU perampasan aset koruptor. Mereka sudah bosan dengan drama OTT yang ujungnya diskon vonis di pengadilan.

Mereka muak melihat anggota dewan menikmati tunjangan-tunjangan di tengah rakyat yang kantongnya menjerit akibat beras mahal. Mereka juga bertanya, kenapa maling ayam tidak boleh jadi ketua RT, tapi maling APBN bisa duduk manis di Senayan dan jadi komisaris, bahkan wakil menteri?

Lalu ada kemarahan terhadap polisi yang lebih sering melindungi penguasa ketimbang warga, dan ada kebencian pada kebijakan pajak yang naik ketika kantong rakyat makin bolong. Bahkan agenda jangka panjang ikut mencuat adalah makzulkan Gibran, kembali ke UUD 45 asli, benahi pengelolaan SDA dan BUMN.

Apakah semua ini realistis? Sebagiannya iya, sebagian lagi lebih mirip daftar belanja politik utopis. Tapi pesan utamanya jelas bahwa kepercayaan rakyat berada di titik nadir. Jean-Jacques Rousseau pernah bilang, kontrak sosial runtuh kalau rakyat tak lagi percaya pada wakilnya.

Dan apa yang tersisa setelah kontrak sosial runtuh? Jawaban Rousseau, seolah mengutip pendapat Ibnu Khaldun: anarki. Rakyat mengamuk. Ironisnya, saat itu terjadi, negara kita lebih cepat melabeli rakyat “anarkis” ketimbang mencoba membaca teks politik di balik batu yang dilempar.

Jürgen Habermas mengingatkan bahwa demokrasi sejatinya lahir dari ruang publik, tempat rakyat bisa bicara, berdebat, dan menyampaikan aspirasi secara setara. Tetapi ruang publik di Indonesia makin menyempit. Parlemen tak lagi dipercaya sebagai forum deliberatif.

Di sini lain, media arus utama sibuk jadi corong elite, dan media sosial disesaki buzzer yang lebih rajin menggoreng isu ketimbang mengawal aspirasi. Maka jalanan menjadi ruang publik terakhir yang tersisa, meski dengan konsekuensi darah dan gas air mata.

Di sisi lain, Antonio Gramsci yang Marxis menyebut hegemoni sebagai cara elite menguasai rakyat, bukan dengan kekerasan semata, tetapi lewat konsensus palsu. Maka, inilah yang kemudian terjadi: rakyat akhirnya sadar bahwa konsensus yang dibangun selama ini hanyalah ilusi.

Mereka diundang ke bilik suara lima tahun sekali, tapi yang terjadi kemudian mereka hanya jadi objek pajak, objek regulasi, dan objek represi. Ketika rakyat dicekik dengan ratusan jenis pajak, ketika hegemoni runtuh, yang muncul bukan sekadar kritik, tapi pemberontakan simbolik.

Maka tak mengherankan jika suara satir rakyat begitu tajam. “Kami para ojol tiap hari melawan order fiktif, kalian di DPR malah bikin undang-undang fiktif.” Juga bahwa “Kami rela panas-panasan demi ojek limabelas ribu, kalian terima gaji tujuh puluh juta tanpa pernah ngetem.”

Jadi, apa sebenarnya tuntutan massa? Bukan sekadar “Bubarkan DPR” seperti slogan yang membahana di Senayan. Melainkan sebuah seruan lebih dalam: bubarkan drama DPR, dan hadirkan kembali demokrasi yang layak dipercaya.

Rakyat menginginkan demokrasi yang memberi ruang publik yang sejati, bukan ruang hampa yang penuh asap, gas air mata, dan janji-janji basi.

*Penulis adalah Wartawan Senior 

  • Penulis: Redaksi

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Wamen Transmigrasi, Viva Yoga Mauladi

    Wamen Viva Yoga Dorong Jiwa Wirausaha Mahasiswa untuk Kawasan Transmigrasi

    • calendar_month Rabu, 23 Apr 2025
    • account_circle Redaksi
    • visibility 14
    • 0Komentar

    JAKARTA, CUPLIKAN.CO.ID – Wakil Menteri Transmigrasi Viva Yoga Mauladi mendorong mahasiswa lulusan perguruan tinggi untuk tidak hanya terpaku menjadi pencari kerja, tetapi mampu menciptakan lapangan kerja sendiri. Hal ini disampaikan saat rapat kerja bersama pimpinan perguruan tinggi ternama dalam pembahasan program Transmigrasi Patriot, Senin (21/4/2025) di Gedung Makarti, Kalibata, Jakarta. Rapat tersebut dihadiri pimpinan dari […]

  • Wakil Ketua DPR RI, Sufmi Dasco. Sumber foto : Instagram @sufmi_dasco

    Dasco: Tunjangan Rumah DPR Rp50 Juta Hanya Setahun

    • calendar_month Selasa, 26 Agt 2025
    • account_circle Redaksi
    • visibility 15
    • 0Komentar

    JAKARTA, CUPLIKAN.CO.ID – Wakil Ketua DPR Sufmi Dasco Ahmad menegaskan bahwa anggota DPR tidak akan lagi menerima tunjangan perumahan sebesar Rp50 juta per bulan setelah Oktober 2025. Ia menjelaskan, tunjangan tersebut hanya diberikan pada periode Oktober 2024 hingga Oktober 2025, dengan tujuan untuk membayar kontrak rumah selama lima tahun masa jabatan anggota DPR periode 2024–2029. […]

  • Digital Realty Bersama Gandeng Xenith IG Perkuat Infrastruktur AI di Jakarta

    Digital Realty Bersama Gandeng Xenith IG Perkuat Infrastruktur AI di Jakarta

    • calendar_month Rabu, 13 Mei 2026
    • account_circle Redaksi
    • visibility 23
    • 0Komentar

    Jakarta, editoria.co.id – Digital Realty Bersama dan Xenith IG resmi menjalin kemitraan strategis untuk memperkuat infrastruktur digital dan konektivitas AI-ready di Jakarta melalui penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU), Selasa (6/5/2026). Kolaborasi ini menggabungkan pusat data carrier-neutral milik Digital Realty Bersama dengan jaringan dark fiber Xenith IG guna mendukung kebutuhan komputasi dan transfer data berkapasitas besar di […]

  • Pemimpin Iran Ayatollah Ali Khamenei pimpin khotbah Jumat di Teheran, usai kematian pemimpin Hizbullah, Hassan Nasrallah.

    Khamenei Serukan Perlawanan, Iran dan Sekutunya Tak Akan Mundur

    • calendar_month Sabtu, 5 Okt 2024
    • account_circle Redaksi
    • visibility 16
    • 0Komentar

    TEHERAN, RADIANVOICE.ID – Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, menegaskan bahwa Iran dan sekutu regionalnya tidak akan mundur dalam menghadapi serangan Israel. Dalam khutbah Jumat yang langka di Masjid Imam Khomeini Grand Mosalla, Teheran, Khamenei menyerukan persatuan negara-negara Muslim dan menyebut serangan Iran terhadap Israel sebagai tindakan yang “sah dan legitim.” Ini merupakan penampilan publik pertama […]

  • Penulis Dr.Taufiq Pasiak

    Mereka yang Menjual rasa takut dan ‘Musuh Bersama’

    • calendar_month Sabtu, 19 Apr 2025
    • account_circle Redaksi
    • visibility 31
    • 0Komentar

    Oleh : Taufiq Fredrik Pasiak Saya pertama kali mendengar istilah “musuh bersama” atau common enemy bukan di ruang kuliah, bukan pula dari buku tebal teori politik. Istilah itu justru muncul dalam sebuah obrolan kecil saat masih mahasiswa—di antara diskusi-diskusi ringan yang kerap tak berujung. Pemahaman yang lebih utuh dan membekas justru saya dapatkan pada suatu […]

  • Fathorrahman Fadli

    PKB dan Masa Depan Politik NU

    • calendar_month Minggu, 22 Sep 2024
    • account_circle Redaksi
    • visibility 14
    • 0Komentar

    Oleh. Fathorrahman Fadli* JAKARTA, CUPLIKAN.CO.ID – Muhaimin Iskandar memang sangat lihai dalam politik. Ada saja terobosan politiknya. Sekarang dia membikin kejutan lagi. PKB mendapuk anak muda bernama Ais Shafiyah sebagai Ketua Harian Pengurus DPP PKB periode 2024-2029. Ais Shafiyah ini jelas seorang perempuan muda nan cantik pula dia. Di usia yang terbilang belia 23 tahun, […]

expand_less