Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Opini » Bara Api di Ujung Demokrasi

Bara Api di Ujung Demokrasi

  • account_circle Redaksi
  • calendar_month Selasa, 2 Sep 2025
  • visibility 20
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Oleh : Imam Mawardi Ridlwan*

Penulis tidak berada di tengah kerumunan itu. Hanya di pesantren, bersama para santri, tenggelam dalam rutinitas ngaji harian. Namun, dari layar kecil ponsel, penulis menyaksikan semuanya, video-video yang berseliweran di grup WhatsApp. Asap mengepul seolah sampai ke ruang ngaji kami. Gedung gubernur terbakar. Kantor DPRD porak-poranda. Pos polisi tinggal rangka. Halte berubah menjadi abu.

Itulah yang terjadi antara 25 hingga 31 Agustus 2025. Di jalanan, ribuan orang meneriakkan kata “demokrasi”. Namun, demokrasi macam apa yang diwujudkan dengan membakar fasilitas umum? Demokrasi yang seperti apa yang melegitimasi perusakan kantor wakil rakyat?

Pertanyaan-pertanyaan itu terus bergema di kepala. Apakah kemarahan massa benar-benar lahir dari rasa keadilan yang terluka? Ataukah sebagian hanya ikut-ikutan sorak sorai, hanyut dalam arus kerumunan? Lebih jauh, tidakkah mungkin ada tangan-tangan lain yang bekerja dalam senyap, mengatur ritme amarah, lalu meninggalkan jejak berupa api dan kehancuran?

Tentu penulis tidak ingin terburu-buru menyalahkan siapa pun. Tetapi, merasa perlu mengajukan pertanyaan mendasar yakni apakah kita masih memiliki etika dalam berdemokrasi? Apakah kita masih percaya pada kekuatan dialog? Apakah musyawarah masih kita junjung? Ataukah semuanya telah tergantikan oleh satu kata, pemaksaan?

Kita melihat pola yang sama bahwa rezim harus tunduk, wakil rakyat harus tumbang, semua pihak harus patuh pada tuntutan demonstran, atas nama rakyat, atas nama kemarahan, yang kerap dikemas rapi dalam narasi revolusi. Seakan-akan, satu-satunya cara menyuarakan aspirasi adalah dengan kekerasan.

Penulis tentu menyadari, banyak yang kecewa pada DPR dan DPRD. Kritik terhadap mereka sudah lama mengemuka bahwa mereka dianggap hanya mengobral janji, larut dalam praktik korupsi, atau sibuk melayani kepentingan elit politik. Tetapi pertanyaannya sekarang, apakah jawaban dari kekecewaan itu adalah menjarah rumah mereka? Membakar kantor mereka? Menghancurkan fasilitas publik yang sejatinya dibangun dengan uang rakyat itu sendiri?

Sebagai orang pesantren, penulis terbiasa menimbang persoalan dari lensa ilmu yang diajarkan para ulama. Dalam madzhab Imam Syafi‘i, yang penulis pelajari sejak muda, maupun dalam tasawuf Imam al-Ghazali, yang mengajarkan kehalusan budi, ada pesan yang terus berulang bahwa jika ada penguasa yang salah, luruskanlah dengan lisan. Sampaikan dengan hikmah. Ajak bermusyawarah. Perlawanan itu sah, tetapi ia tidak boleh dibangun di atas batu dan api.

Sejauh pemahaman penulis, belum pernah menemukan dalil yang membolehkan kekerasan atas nama amar ma‘ruf nahi munkar. Yang ada justru dorongan untuk menegakkan kebenaran dengan hikmah, dengan kelembutan, dan dengan ketegasan yang tidak menyakiti. Kekerasan mungkin memberi ledakan sesaat, tetapi ia selalu meninggalkan bara yang merusak lebih banyak hal daripada yang ia perbaiki.

Tentu kita tidak menutup mata bahwa banyak aktivis turun ke jalan dengan niat tulus. Mereka ingin perubahan, mereka ingin keadilan. Namun, niat baik itu bisa dengan mudah terseret oleh arus amarah. Bara api bisa mengambil alih semangat mulia, lalu mengubahnya menjadi amukan yang tak terkendali. Nafsu angkara murka bisa menyamar sebagai idealisme, padahal sejatinya hanya menambah luka sosial.

Sebab itulah, penulis meyakini bahwa demokrasi bukan soal siapa yang paling keras berteriak, melainkan siapa yang paling sabar mendengar. Demokrasi bukan tentang siapa yang paling cepat membakar, melainkan siapa yang paling tekun membangun. Demokrasi yang sehat menuntut kesabaran, dialog, dan ketekunan, nilai-nilai yang sesungguhnya tidak asing dalam tradisi bangsa ini, karena berakar kuat pada budaya musyawarah dan gotong royong.

Peristiwa akhir Agustus seharusnya menjadi cermin bagi kita semua. Cermin untuk mengakui bahwa demokrasi kita masih rapuh, mudah diguncang oleh kekecewaan yang menumpuk. Tetapi sekaligus juga cermin untuk bertanya,  apakah kita ingin menguatkannya dengan api amarah, atau dengan akhlak mulia?

Tulisan ini bukanlah penghakiman. Ia lebih merupakan pengingat, pertama-tama bagi diri penulis sendiri. Bahwa menjaga negeri ini adalah tanggung jawab bersama. Tanggung jawab itu tidak bisa ditunaikan dengan amarah, melainkan dengan kebijaksanaan. Ia tidak akan lahir dari bara api yang membakar, melainkan dari api kecil yang menerangi jalan, yaitu akhlak.

Dan akhlak, sebagaimana selalu diajarkan para guru kami, tidak pernah lahir dari api yang menghanguskan. Ia lahir dari kesabaran, kelembutan, dan keteguhan hati dalam menempuh jalan yang benar.

*Penulis adalah Anggota Dewan Pembina Yayasan Bhakti Relawan Advokad Pejuang Islam

  • Penulis: Redaksi

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • whatsapp image 2024 09 10 at 16.36.21

    Peringati Ultah ke-62, Ketua MPR RI Bamsoet Luncurkan Lima Buku Baru

    • calendar_month Selasa, 10 Sep 2024
    • account_circle Redaksi
    • visibility 18
    • 0Komentar

    JAKARTA, CUPLIKAN.CO.ID– Ketua MPR RI ke-16 Bambang Soesatyo meluncurkan lima buku sekaligus dalam perayaan hari ulang tahunnya yang ke-62. Terdiri dari satu buku “Biografi Politik Bambang Soesatyo. Pemimpin Adaptif di Era Disrupsi” yang ditulis oleh para rekan jurnalis. Serta empat buku yang ditulis sendiri oleh Bamsoet. Keempat buku karya Bamsoet yang diluncurkan terdiri dari buku […]

  • Sekjen Partai Gerindra, Ahmad Muzani.

    Pertemuan Prabowo-Megawati Semakin Dekat, Sekjen Gerindra Jadi Penghubung

    • calendar_month Kamis, 16 Jan 2025
    • account_circle Redaksi
    • visibility 11
    • 0Komentar

    JAKARTA, CUPLIKAN.CO.ID – Rencana pertemuan antara Presiden Prabowo Subianto dan Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri semakin menemukan titik terang. Sekretaris Jenderal Partai Gerindra, Ahmad Muzani, mengonfirmasi dirinya telah bertemu Megawati untuk menyampaikan pesan dari Prabowo. Menurut Muzani, salah satu pesan utama yang disampaikan Megawati adalah rasa terima kasih kepada Presiden Prabowo atas pemulihan nama […]

  • Hassan Nasrallah dan Ayatullah Ali Khamenei

    Hubungan Nasrallah, Hezbollah dan Iran

    • calendar_month Selasa, 1 Okt 2024
    • account_circle Redaksi
    • visibility 22
    • 0Komentar

    TEHERAN, CUPLIKAN.CO.ID – Pemimpin Hezbollah yang berusia 64 tahun, Hassan Nasrallah, tewas pada hari Jumat dalam serangan udara Israel di selatan Beirut, 42 tahun setelah ia menjadi wakil penguasa Iran, Ruhollah Khomeini, di Lebanon pada usia 21 tahun. “Yang Mulia Sayyed Hassan Nasrallah, sekretaris jenderal Hezbollah, telah bergabung dengan para syuhada besar yang dipimpinnya selama […]

  • Kapal tanker minyak melintasi Selat Hormuz, pada 21 Desember 2018. Sumber foto : Reuters.

    Iran Akan Tutup Selat Hormuz, Barat Panik Seketika!

    • calendar_month Selasa, 17 Jun 2025
    • account_circle Redaksi
    • visibility 12
    • 0Komentar

    TEHERAN, CUPLIKAN.CO.ID – Di tengah meningkatnya eskalasi konflik antara Iran dan Israel yang ditandai saling serang rudal dan serangan udara, pemerintah Iran dilaporkan tengah mempertimbangkan serius untuk menutup Selat Hormuz – jalur pelayaran minyak paling vital di dunia yang menghubungkan Oman dan Iran. Mengutip laporan The News pada Minggu (16/6), langkah strategis ini diungkapkan oleh […]

  • Menyingkap “Ekonomi Bayangan” Jakarta: Menakar Bocoran Pajak THM, Realitas Sosial Pekerja Malam, dan Cengkeraman Narkoba Menuju Kota Global 5 Abad

    Menyingkap “Ekonomi Bayangan” Jakarta: Menakar Bocoran Pajak THM, Realitas Sosial Pekerja Malam, dan Cengkeraman Narkoba Menuju Kota Global 5 Abad

    • calendar_month Sabtu, 6 Jun 2026
    • account_circle Redaksi
    • visibility 38
    • 0Komentar

    Oleh: Ahmad Zaki – Ketua Umum Solidaritas Masyarakat Untuk Keadilan (SMUK), dan Direktur Eksekutif Laboratorium Suara Indonesia (LSI) Jakarta sedang bersiap merayakan usianya yang ke-500 tahun (5 abad). Di tengah transisi statusnya dari Ibu Kota Negara menjadi Kota Global (DKJ), megapolitan ini terus berbenah memoles wajahnya. Namun, di balik gedung-gedung pencakar langit dan gemerlap lampu kota, […]

  • Kepala Kantor Staf Presiden, M.Qodari

    Dilantik Prabowo, Qodari Dapat Pesan Khusus Soal KSP

    • calendar_month Kamis, 18 Sep 2025
    • account_circle Redaksi
    • visibility 16
    • 0Komentar

    JAKARTA, CUPLIKAN.CO.ID – Kepala Staf Kepresidenan (KSP) Muhammad Qodari mengaku mendapat pesan khusus dari Sekretaris Kabinet (Seskab) Letkol Teddy Indra Wijaya usai resmi dilantik Presiden Prabowo Subianto pada Rabu (17/9/2025). Pesan itu menekankan pentingnya peran KSP dalam memperkuat komunikasi terkait program pemerintah kepada publik. “Kemarin ada pesan dari Jenderal (Letkol) Teddy untuk lebih KSP membantu […]

expand_less