Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Opini » Bara Api di Ujung Demokrasi

Bara Api di Ujung Demokrasi

  • account_circle Redaksi
  • calendar_month Selasa, 2 Sep 2025
  • visibility 19
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Oleh : Imam Mawardi Ridlwan*

Penulis tidak berada di tengah kerumunan itu. Hanya di pesantren, bersama para santri, tenggelam dalam rutinitas ngaji harian. Namun, dari layar kecil ponsel, penulis menyaksikan semuanya, video-video yang berseliweran di grup WhatsApp. Asap mengepul seolah sampai ke ruang ngaji kami. Gedung gubernur terbakar. Kantor DPRD porak-poranda. Pos polisi tinggal rangka. Halte berubah menjadi abu.

Itulah yang terjadi antara 25 hingga 31 Agustus 2025. Di jalanan, ribuan orang meneriakkan kata “demokrasi”. Namun, demokrasi macam apa yang diwujudkan dengan membakar fasilitas umum? Demokrasi yang seperti apa yang melegitimasi perusakan kantor wakil rakyat?

Pertanyaan-pertanyaan itu terus bergema di kepala. Apakah kemarahan massa benar-benar lahir dari rasa keadilan yang terluka? Ataukah sebagian hanya ikut-ikutan sorak sorai, hanyut dalam arus kerumunan? Lebih jauh, tidakkah mungkin ada tangan-tangan lain yang bekerja dalam senyap, mengatur ritme amarah, lalu meninggalkan jejak berupa api dan kehancuran?

Tentu penulis tidak ingin terburu-buru menyalahkan siapa pun. Tetapi, merasa perlu mengajukan pertanyaan mendasar yakni apakah kita masih memiliki etika dalam berdemokrasi? Apakah kita masih percaya pada kekuatan dialog? Apakah musyawarah masih kita junjung? Ataukah semuanya telah tergantikan oleh satu kata, pemaksaan?

Kita melihat pola yang sama bahwa rezim harus tunduk, wakil rakyat harus tumbang, semua pihak harus patuh pada tuntutan demonstran, atas nama rakyat, atas nama kemarahan, yang kerap dikemas rapi dalam narasi revolusi. Seakan-akan, satu-satunya cara menyuarakan aspirasi adalah dengan kekerasan.

Penulis tentu menyadari, banyak yang kecewa pada DPR dan DPRD. Kritik terhadap mereka sudah lama mengemuka bahwa mereka dianggap hanya mengobral janji, larut dalam praktik korupsi, atau sibuk melayani kepentingan elit politik. Tetapi pertanyaannya sekarang, apakah jawaban dari kekecewaan itu adalah menjarah rumah mereka? Membakar kantor mereka? Menghancurkan fasilitas publik yang sejatinya dibangun dengan uang rakyat itu sendiri?

Sebagai orang pesantren, penulis terbiasa menimbang persoalan dari lensa ilmu yang diajarkan para ulama. Dalam madzhab Imam Syafi‘i, yang penulis pelajari sejak muda, maupun dalam tasawuf Imam al-Ghazali, yang mengajarkan kehalusan budi, ada pesan yang terus berulang bahwa jika ada penguasa yang salah, luruskanlah dengan lisan. Sampaikan dengan hikmah. Ajak bermusyawarah. Perlawanan itu sah, tetapi ia tidak boleh dibangun di atas batu dan api.

Sejauh pemahaman penulis, belum pernah menemukan dalil yang membolehkan kekerasan atas nama amar ma‘ruf nahi munkar. Yang ada justru dorongan untuk menegakkan kebenaran dengan hikmah, dengan kelembutan, dan dengan ketegasan yang tidak menyakiti. Kekerasan mungkin memberi ledakan sesaat, tetapi ia selalu meninggalkan bara yang merusak lebih banyak hal daripada yang ia perbaiki.

Tentu kita tidak menutup mata bahwa banyak aktivis turun ke jalan dengan niat tulus. Mereka ingin perubahan, mereka ingin keadilan. Namun, niat baik itu bisa dengan mudah terseret oleh arus amarah. Bara api bisa mengambil alih semangat mulia, lalu mengubahnya menjadi amukan yang tak terkendali. Nafsu angkara murka bisa menyamar sebagai idealisme, padahal sejatinya hanya menambah luka sosial.

Sebab itulah, penulis meyakini bahwa demokrasi bukan soal siapa yang paling keras berteriak, melainkan siapa yang paling sabar mendengar. Demokrasi bukan tentang siapa yang paling cepat membakar, melainkan siapa yang paling tekun membangun. Demokrasi yang sehat menuntut kesabaran, dialog, dan ketekunan, nilai-nilai yang sesungguhnya tidak asing dalam tradisi bangsa ini, karena berakar kuat pada budaya musyawarah dan gotong royong.

Peristiwa akhir Agustus seharusnya menjadi cermin bagi kita semua. Cermin untuk mengakui bahwa demokrasi kita masih rapuh, mudah diguncang oleh kekecewaan yang menumpuk. Tetapi sekaligus juga cermin untuk bertanya,  apakah kita ingin menguatkannya dengan api amarah, atau dengan akhlak mulia?

Tulisan ini bukanlah penghakiman. Ia lebih merupakan pengingat, pertama-tama bagi diri penulis sendiri. Bahwa menjaga negeri ini adalah tanggung jawab bersama. Tanggung jawab itu tidak bisa ditunaikan dengan amarah, melainkan dengan kebijaksanaan. Ia tidak akan lahir dari bara api yang membakar, melainkan dari api kecil yang menerangi jalan, yaitu akhlak.

Dan akhlak, sebagaimana selalu diajarkan para guru kami, tidak pernah lahir dari api yang menghanguskan. Ia lahir dari kesabaran, kelembutan, dan keteguhan hati dalam menempuh jalan yang benar.

*Penulis adalah Anggota Dewan Pembina Yayasan Bhakti Relawan Advokad Pejuang Islam

  • Penulis: Redaksi

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Ladies Operation Forum

    Ladies Operations Forum Dorong Peningkatan Kompetensi Perempuan di Pelindo

    • calendar_month Minggu, 29 Sep 2024
    • account_circle Redaksi
    • visibility 21
    • 0Komentar

    MAKASSAR, CUPLIKAN.CO.ID – PT Pelindo Terminal Petikemas (SPTP) mengadakan Ladies Operations Forum di Terminal Petikemas New Makassar dari 26 hingga 29 September 2024. Forum ini melibatkan 35 perempuan dari 32 terminal di berbagai wilayah Indonesia, dengan fokus utama pada peningkatan kompetensi teknis dan manajerial perempuan dalam operasional terminal petikemas. Ady Sutrisno, Direktur Sumber Daya Manusia […]

  • Ketua Komisi XI Misbakhun

    DPR dan Pemerintah Siapkan Pengampunan Pajak Jilid III

    • calendar_month Selasa, 19 Nov 2024
    • account_circle Redaksi
    • visibility 18
    • 0Komentar

    JAKARTA, CUPLIKAN.CO.ID – DPR RI bersama pemerintah tengah mempersiapkan program Pengampunan Pajak atau tax amnesty jilid III. Rencana tersebut diawali dengan dimasukkannya Rancangan Undang-Undang (RUU) tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2016 tentang Pengampunan Pajak ke dalam Program Legislasi Nasional (Prolegnas) Prioritas tahun 2025. Ketua Komisi XI DPR RI, Misbakhun, menjelaskan bahwa Badan Legislasi […]

  • Ariza Patria

    Ariza Patria: “Kami Akan Libatkan Masyarakat dalam Setiap Pembangunan di Jakarta”

    • calendar_month Sabtu, 14 Sep 2024
    • account_circle Redaksi
    • visibility 15
    • 0Komentar

    JAKARTA, CUPLIKAN.CO.ID – Calon kuat Ketua Tim Pemenangan Bacakada Jakarta RK-Suswono,, Ariza Patria, menegaskan pentingnya sinergi antara pemerintah dengan masyarakat Jakarta untuk menyelesaikan berbagai masalah kota. Ariza menjelaskan bahwa keterlibatan masyarakat adalah kunci dalam program pemberdayaan yang akan dijalankan oleh pasangan calon RK-Suswono pada Pilkada mendatang. Demikian dikatakan Ariza Patria melalui sambungan telepon dengan Radiant […]

  • Anggota Komisi XII DPR RI FPKB, Ratna Juwita Sari

    Ratna Juwita: Generasi Muda Kunci Net Zero Emission

    • calendar_month Jumat, 15 Nov 2024
    • account_circle Redaksi
    • visibility 110
    • 0Komentar

    JAKARTA, CUPLIKAN.CO.ID – Anggota Komisi XII DPR RI, Ratna Juwita, menyoroti dampak perubahan iklim yang semakin nyata di berbagai belahan dunia. Ia menyebut Indonesia harus segera mengambil langkah strategis untuk mencapai target Net Zero Emission (NZE) pada tahun 2060. “Dampak perubahan iklim sudah sangat nyata. Contohnya, banjir besar di Spanyol menelan 271 korban jiwa, banjir […]

  • Pj Sekdaprov Jatim

    Jatim Luncurkan Kirab Pataka Menyambut Hari Jadi Ke-79

    • calendar_month Rabu, 25 Sep 2024
    • account_circle Redaksi
    • visibility 38
    • 0Komentar

    SURABAYA, CUPLIKAN.CO.ID – Penjabat (Pj.) Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Timur, Bobby Soemiarsono, memberangkatkan Kirab Pataka Jer Basuki Mawa Beya di Halaman Kantor Sekretariat Daerah Provinsi Jawa Timur, Selasa (24/9) pagi. Kirab ini menjadi bagian dari rangkaian perayaan Hari Jadi Ke-79 Provinsi Jawa Timur. Pataka tersebut diserahkan oleh Bobby kepada Kepala Satuan Polisi Pamong Praja Provinsi […]

  • Bupati Bondowoso Ra Hamid, bersama Pj. Sekda dan Ketua TP PKK Bondowoso, bertemu Konjen RRC.

    Dorong Investasi dan Pariwisata, Bupati Bondowoso Temui Konsul Jenderal RRC

    • calendar_month Sabtu, 15 Mar 2025
    • account_circle Redaksi
    • visibility 20
    • 0Komentar

    BONDOWOSO, CUPLIKAN.CO.ID – Bupati Bondowoso, Abdul Hamid Wahid, terus memperluas jaringan kerja sama internasional demi mendorong pertumbuhan ekonomi daerah. Pada Jumat (14/3/2025), ia melakukan kunjungan kerja ke Konsulat Jenderal Republik Rakyat China (RRC) di Surabaya untuk membahas peluang investasi dan pengembangan sektor pariwisata. Dalam pertemuan tersebut, Ra Hamid—sapaan akrabnya—didampingi oleh Penjabat (Pj) Sekretaris Daerah Bondowoso, […]

expand_less