Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Sosok » Robaytullah Kusuma Jaya, Jejak Marhaen di Rindang Beringin

Robaytullah Kusuma Jaya, Jejak Marhaen di Rindang Beringin

  • account_circle Redaksi
  • calendar_month Selasa, 15 Jul 2025
  • visibility 17
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

JAKARTA, CUPLIKAN.CO.ID – Cikini sore itu terasa bersahabat. Hujan belum jatuh, tetapi langit menyimpan keraguan. Di sebuah sudut Sekretariat DPD Partai Golkar DKI Jakarta, di antara tumpukan dokumen, poster lama, dan jejak-jejak sejarah politik, kami duduk bersama seorang lelaki yang tenang, berbicara perlahan namun penuh keyakinan: Robaytullah Kusuma Jaya, mantan Ketua Umum DPP GMNI 2017–2019. Sosoknya tidak ingin terlalu menonjol, tetapi kisah hidupnya bercerita tentang arah yang dibentuk oleh keyakinan, bukan kebetulan. Ia datang bukan untuk nostalgia, melainkan menjelaskan kenapa jalan ideologisnya justru sampai ke rumah besar beringin bersama dengan sebarisan aktivis Cipayung lainnya yang log in ke Partai Golkar .

Robaytullah tak pernah menyebut Sumenep hanya sebagai tempat lahir. Ia menyebutnya sebagai asal yang membentuk laku hidup. Di kota kecil itulah ia mengenal arti “mengakar”. Ia tumbuh dalam dekapan pesantren dan tanah yang menyimpan aroma kesederhanaan. Ia tak hanya sekolah, tapi juga mondok di Pondok Pesantren Raudhotut Tholibin, Kolor, Sumenep, tempat kitab kuning tak sekadar dibaca, tapi dimaknai sebagai panduan hidup.

Dari sana ia menyusuri jalan menuju Pare, Kediri, desa kecil yang ramai oleh mimpi besar anak-anak muda tentang dunia global. Di sana ia belajar bahasa Inggris bukan semata untuk bisa berbicara, tapi agar mampu berdialog dengan dunia yang lebih luas. Di titik itu, pemahaman Robaytullah tentang batas mulai retak—desa dan dunia, kitab dan internet, pesantren dan modernitas—semua bisa hidup berdampingan dalam dirinya.

Dari Pare ia menuju Malang, dan di SMA Negeri 3 kota itu, ia mengenal pluralitas secara nyata. Tak ada lagi sekat-sekat homogenitas yang dulu melindunginya. Di Malang, ia belajar bahwa ide dan identitas bisa bertabrakan sekaligus menyatu. Ia bertemu teman dari berbagai kota, pulau, bahkan kepercayaan. Di sinilah ia mulai merumuskan bahwa keyakinan ideologis bukan sesuatu yang diwariskan, melainkan dipilih secara sadar.

Pilihan itu menjadi nyata ketika ia masuk Universitas Brawijaya. Banyak yang mengira ia akan bergabung ke PMII, organisasi mahasiswa Islam yang lazim bagi mereka yang berlatar pesantren. Namun, Robaytullah memilih GMNI. Bukan karena ikut-ikutan, tapi karena ia menemukan narasi perjuangan yang sejalan dengan semangatnya: nasionalisme, keadilan sosial, dan pembelaan terhadap rakyat kecil—semangat Marhaen yang menyatu dengan nurani santri.

Di GMNI, Robaytullah tidak sekadar aktif. Ia menyelam hingga ke kedalaman. Dari Sekretaris DPC Malang Raya, ia melesat ke tampuk kepemimpinan nasional. Di Kongres Manado tahun 2017, ia terpilih sebagai Ketua Umum DPP GMNI. Sebuah perjalanan yang tak hanya menguji kepemimpinan, tapi juga mempertebal kepercayaan dirinya bahwa gagasan tak boleh diam di kepala—ia harus hidup dalam tindakan.

GMNI mengajarkannya tentang pluralitas, keberanian berdebat, serta pentingnya menyatu dengan rakyat. Ia mengenang masa ketika organisasi itu punya program desa binaan dan desa dampingan. “Itu bukan agenda seremonial,” katanya. “Itu adalah latihan turba—turun ke bawah, menyentuh realitas rakyat, bukan hanya mendiskusikannya dari ruang kelas.”

Golkar: Dari Jalan Marhaenis Menuju Rumah Inklusif

Menjelang akhir masa jabatannya di GMNI, sekitar akhir 2019, Robaytullah mulai intens berdiskusi dengan sejumlah senior di Partai Golkar. Ia tak datang sebagai petualang politik. Ia datang sebagai seseorang yang mencari rumah gagasan. Dan Golkar, baginya, menawarkan sesuatu yang tak ia temukan di tempat lain: ruang yang terbuka.

“Golkar ini partai yang tidak mempersoalkan siapa kamu dulu, dari mana asalmu, dan agama apa yang kamu anut. Yang dihargai adalah kerja, kapasitas, dan loyalitas,” katanya.

Ia menunjuk contoh konkret: Bahlil Lahadalia. Sosok yang datang dari timur, bukan anak tokoh nasional, tapi karena kerja keras dan militansi, kini memimpin Golkar sebagai ketua umum. “Golkar menghargai meritokrasi,” kata Robaytullah. “Dan itu jarang kita temui hari ini.”

Ketika teman-temannya bertanya kenapa ia memilih Golkar—partai yang dulu lekat dengan Orde Baru—ia menjawab dengan tenang, bahwa sejarah tak bisa dibaca secara tunggal. “Golkar telah ada sejak Orde Lama, dan bahkan ketika resmi jadi partai, ia selalu berada dalam orbit kekuasaan. Artinya, ia adalah kawah candradimuka politik nasional. Bukan sekadar kendaraan kekuasaan, tapi arena pembelajaran.”

Ia pernah ada,di bawah naungan Barisan Muda Kosgoro menjabat sebagai Ketua Bidang dan terus aktif mengembangkan jaringan hingga ke Jawa Timur. Ia menganggap ini sebagai kelanjutan dari nilai-nilai Marhaenisme yang ia hidupi di GMNI.

Baginya, aktivis partai yang tidak membangun basis adalah omong kosong. Politik harus hidup di tengah rakyat. Ia ingin meneruskan tradisi pendampingan desa, membangun ruang-ruang dialog dengan akar rumput, menjaring gagasan langsung dari rakyat untuk dijadikan bahan bakar partai.

“Kalau di GMNI kita mendampingi desa, maka di Golkar kita harus menjadikan desa sebagai titik pusat gerakan politik. Jangan hanya datang saat pemilu, tapi terus menyatu dengan denyut masyarakat.”

Politik sebagai Laku, Bukan Sekadar Ambisi

Bersama dengan barisan aktivis Cipayung yang bergabung ke dalam Partai Golkar, Robaytullah tidak sedang membangun karier politik dalam pengertian pragmatis. Ia sedang membangun jembatan antara nilai dan kekuasaan, antara akar dan pohon. Ia tahu betapa beratnya jalan itu. Tapi ia juga tahu, bahwa politik sejatinya bukan soal cepat atau lambat, tapi soal arah dan kejujuran terhadap cita-cita.

Di akhir pertemuan, ia menatap langit Cikini yang mulai redup. Katanya pelan: “Saya hanya ingin menanam ide. Soal siapa yang akan menuai nanti, itu urusan sejarah.”

Jarum jam di gawai terus berdetak, sementara langit di Cikini mulai diselimuti gelap malam.. Tapi Robaytullah tak tampak terburu-buru. Ia bicara tentang masa depan seolah ia sedang menulisnya, perlahan, tapi pasti. Seperti seorang petani bernama Marhaen yang percaya pada musim tanam, ia tahu waktunya menanam, dan tahu saatnya panen. Kini ia menanam gagasan, semangat, dan pengabdian. Di tanah politik yang mungkin tak lagi subur, ia percaya: tanah itu tetap bisa ditumbuhi harapan (RED).

  • Penulis: Redaksi

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Jasa Marga Lanjutkan Penataan Simpang Susun Sadang, Gerbang Tol Lama Dibongkar

    Jasa Marga Lanjutkan Penataan Simpang Susun Sadang, Gerbang Tol Lama Dibongkar

    • calendar_month Kamis, 21 Mei 2026
    • account_circle DDY
    • visibility 27
    • 0Komentar

    Purwakarta, editoria.co.id – PT Jasamarga Japek Selatan (JJS) mulai melakukan pembongkaran Gerbang Tol (GT) Sadang Lama di Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat, sebagai bagian dari pengembangan akses Jalan Tol Jakarta-Cikampek II Selatan. Langkah tersebut dilakukan setelah proses pengalihan transaksi kendaraan dari GT Sadang Lama ke GT Sadang Baru yang telah berlangsung sejak April 2026. Senior Manager […]

  • Ketua Umum DPP Partai Golkar, Bahlil Lahadalia

    Bahlil Beri Bantuan Operasional, Al Hidayah Siap Lebih Aktif di Daerah

    • calendar_month Senin, 20 Okt 2025
    • account_circle Redaksi
    • visibility 19
    • 0Komentar

    JAKARTA, CUPLIKAN.CO.ID – Ketua Umum DPP Partai Golkar Bahlil Lahadalia berkomitmen memberikan bantuan dana operasional bagi organisasi sayap perempuan partai, Pengajian Al Hidayah, agar lebih aktif dan masif menjalankan kegiatan di seluruh daerah Indonesia. Komitmen tersebut disampaikan Bahlil saat membuka Muktamar ke-IX Pengajian Al Hidayah di Hotel Sultan, Jakarta, Senin (20/10/2025). Ia berharap dukungan dari […]

  • Wakil Ketua Komisi

    Ahmad Sahroni Dukung Tuntutan Buruh Hapus Outsourcing dan Naikkan UMR

    • calendar_month Kamis, 28 Agt 2025
    • account_circle Redaksi
    • visibility 16
    • 0Komentar

    JAKARTA, CUPLIKAN.CO.ID – Wakil Ketua Komisi III DPR Ahmad Sahroni mengingatkan massa buruh yang menggelar aksi di depan Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Kamis (28/8/2025), untuk tetap menjaga perdamaian. Ia menekankan demonstrasi harus berlangsung tertib, tidak ditunggangi pihak lain, dan berakhir sesuai waktu yang ditentukan. “Imbauan saya, sebagai pimpinan Komisi III, jaga damai. Bahwa demo ini […]

  • DPR: Pendidikan Pemilih Perkuat Partisipasi Demokrasi

    DPR: Pendidikan Pemilih Perkuat Partisipasi Demokrasi

    • calendar_month Minggu, 19 Jul 2026
    • account_circle MA
    • visibility 12
    • 0Komentar

    Jakarta – Anggota Komisi II DPR RI Rycko Menoza menegaskan pentingnya pendidikan politik yang dilakukan secara berkelanjutan bagi pemilih pemula sebagai langkah strategis untuk meningkatkan kualitas demokrasi di Indonesia sekaligus mencetak generasi pemilih yang cerdas, kritis, dan bertanggung jawab. “Harapan kita melalui pendidikan berkelanjutan ini, kualitas pemilihan ke depan bisa lebih baik, baik dari sisi […]

  • Ketua Umum HMI Komsat Ushuluddin UINSA Raih Penghargaan Mahasiswa Berprestasi

    Ketua Umum HMI Komsat Ushuluddin UINSA Raih Penghargaan Mahasiswa Berprestasi

    • calendar_month Kamis, 4 Des 2025
    • account_circle Redaksi
    • visibility 22
    • 0Komentar

    Reporter: Andi Suci Meri Ramdini (Wakil Sekretaris Umum Bidang Kewirausahaan dan Pengembangan Profesi)   SURABAYA, CUPLIKAN.CO.ID – Kamis, 4 Desember 2025, momentum membanggakan kembali terukir dalam rangkaian kegiatan Ushuluddin Festival dan Ushuluddin Award 2025 yang diselenggarakan oleh Fakultas Ushuluddin dan Filsafat Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) Surabaya. Acara berlangsung meriah dan penuh apresiasi atas […]

  • Alumno FORMACI dalam sebuah pertemuan

    Forum Studi sebagai “College”

    • calendar_month Senin, 25 Agt 2025
    • account_circle Redaksi
    • visibility 32
    • 0Komentar

    Oleh : Zezen Zaenal Mutaqin* JAKARTA, CUPLIKAN.CO.ID – Fakultas Studi Islam UIII baru saja kedatangan seorang peneliti tamu (research fellow) yang akan tinggal di Depok selama dua bulan. Ia lulusan Oxford dan sekarang bekerja di Muslim College, Cambridge. Ia adalah peneliti dan penulis biografi Imam Bukhari. Asalnya dari Mesir. Dalam obrolan ringan di pantry Fakultas, […]

expand_less