Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Opini » UNU Sebagai Daya Ungkit Kemajuan Bangsa

UNU Sebagai Daya Ungkit Kemajuan Bangsa

  • account_circle Redaksi
  • calendar_month Selasa, 24 Sep 2024
  • visibility 25
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Oleh. Fathorrahman Fadli*

JAKARTA, RADIANTVOICE.ID – Siapa yang berani mendebat jika kampus adalah sarana pendidikan yang strategis dalam membangun daya ungkit kemajuan bangsa. Kalau ada yang berani, silakan satu meja dengan saya. Yang penting orang itu mampu membangun argumentasi yang logis untuk membatalkan tesis di atas.

Kemajuan bangsa di mana mana dibelahan dunia selalu saja menjadikan kampus sebagai kawah candradimuka kemajuan mereka. Tanpa kampus, suatu bangsa tidak akan memiliki dasar pijak yang mantap.

Mari kita lihat bagaimana suatu bangsa meraih kemajuan dan menebas kebekuan berfikir rakyatnya dengan kampus yang berkualitas.

Jika kita menilik kemajuan suatu bangsa, katakanlah di Eropa, kampus menjadi tolok ukurnya. Kampus di Eropa memiliki sejarah yang panjang, dipicu dengan berdirinya Universitas Bologna pada tahun 1088. Universitas ini didirikan oleh para siswa di kota Bologna, Italia. Pendiriannya justru dilakukan secara informal dan spontan. Universitas Bologna dipahami sebagai saksi dari berbagai era, mulai dari Abad Pertengahan, Renaisans, hingga zaman kontemporer.

Universitas-universitas tertua di Eropa, seperti Bologna, Oxford, Salamanca, atau Montpellier, menggabungkan signifikansi historis dengan fasilitas penelitian mutakhir.
Mereka membentuk pikiran tokoh-tokoh bersejarah, dari astronom dan visioner legendaris, seperti Copernicus dan Nostradamus, hingga cendekiawan kontemporer seperti Stephen Hawking dan Umberto Eco.

Universitas Oxford dan Cambridge menduduki peringkat 5 universitas terbaik di dunia. Universitas seperti yang kita kenal saat ini lahir di Eropa berabad-abad yang lalu. Dari jalanan berbatu Bologna hingga aula megah Oxford, ruang kuliah universitas-universitas ini menjadi saksi dan membentuk Dunia Barat.

Menurut catatan historis yang bisa kita akses secara realtime melalui berbagai platform ilmu pengetahuan, semua universitas kuno ini masih merupakan institusi peringkat atas, yang menyuguhkan fasilitas canggih, pendidikan berkualitas tinggi, dan penelitian yang berkelas.

Saya tidak bermaksud membahas secara bertele-tele soal kemajuan Eropa dengan keberhasilan kampus-kampus yang legendaris itu. Namun untuk memberi tekanan bahwa kampus dapat menjadi daya ungkit yang signifikan dalam mendorong kemajuan suatu bangsa.

Bagaimana dengan NU?

Menurut catatan riset dari Indonesia Development Research (IDR). Sejak reformasi 1998 meletus, memang muncul kesadaran akan pentingnya generasi muda NU belajar keras dinkampus-kampus sekuler. Tidak lagi hanya puas dengan produk pesantren yang melulu berorientasi pada masalah-masalah agama.

Kondisi sangat nampak ketika Gus Mus — KH. Musrofa Bisri yang menolak kehadiran PKB. Pasalnya, bukan karena dia anti PKB, namun Gus Mus melihat konsekuensi jika PLB menang dalam Pemilu. NAMUN pada saat yang sama NU tidak cukup tersedia orang-orang yang mumpuni untuk mengurus negara.

“Jadi saya memang menolak berdirinya PKB, karena saat itu saya lihat poro kiai sudah tersebar diberbagai.partai politik, Golkar, PDIP, apalagi PPP, kondisi ini berat sekali, jika suatu ketika PKB menang Pemilu namun tidak punya orang yang ahli mengurus negara,” jelas Gus Mus.

Ramalan Gus Mus ternyata benar dan nyata. Sewaktu Gus Dur menjadi presiden, Dia tidak memiliki banyak kader NU yang mumpuni sebagai pembantunya. Yang tersedia saat itu masih sangat terbatas. Paling-paling yang siap saat itu hanya beberapa seperti Rektor Unisma Malang, M. Tolkhah Hasan, dosen ekonomi Universitas Indonesia, Rozie Munir, AS Hikam, Mahfud MD. Selebihnya Gus Dur ambil dari luar NU.

UNU dan Daya Ungkit Kemajuan

Dalam konteks memajukan warga NU secara terstruktur dan terencana secara baik, maka perlu kiranya Pengurus Besar NU agar fokus membesarkan dan meratakan keberadaan kampus Universitas Nadhlatul Ulama. Cara ini akan jauh lebih efektif ketimbang mempertahankan status quo.

Jika kita sebagai anak bangsa dapat berfikir sehat, kemajuan Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) sejatinya bukan hanya menjadi tanggung jawab kader dan pengurus NU. Namun harus tumbuh dan berkembang serta menjadi tanggung seluruh anak bangsa yang peduli pada kemajuan bangsanya sendiri.

Kotak-kotak berfikir yang kerapkali menjeremuskan kita sebagai bangsa adalah pemisahan yang tegas disekitar NU dan bukan NU. Seolah-olah masalah yang didera warga NU bukan lagi masalah seluruh warga negara. Pendirian ini sesungguhnya menjebak kita, sebab masalah yang didera NU seperti kemiskinan, keterbelakangan pendidikan, serta dampak buruk ikutannya sejatinya otomatis juga menjadi masalah bangsa ini.

Oleh karena itu sangatlah penting jika UNU dibangun di setiap provinsi atau bahkan di level kabupaten dan kota di seluruh Indonesia. Sebab dalam pandangan saya, membangun warga NU adalah sama dan sebangun dengan membangun Indonesia.

Mengatasi Tantangan Manajerial

Mimpi membangun kampus NU tersebar diberbagai daerah di Indonesia adalah pekerjaan yang mulia dan sebuah keharusan. Apalagi, NU secara Jam’iyah secara umum mengalami kelemahan dari sisi manajemen organisasi modern. Namun demikian, tantangan itu dapat saja diatasi dengan cara bekerja sama dengan Universitas Muhammadiyah yang kini nyaris sudah merata di Indonesia.

Untuk menutupi kelemahan manajerial kampus, pihak PBNU dapat menyewa orang-orang Muhammadiyah dalam mengelola kampus-kampus NU yang membutuhkan percepatan kemajuan pendidikan di daerahnya. Pimpinan NU harus belajar dari tata kelola Muhammadiyah yang telah terbukti sukses membangun dunia pendidikan yang terbuka dan akuntabel. Di masa sekarang dan masa depan, hubungan NU dan Muhammadiyah harus semakin kolaboratif dalam mendorong kemajuan bangsa.

Tradisi kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi harus menjadi dasar pijak dalam menggerakkan kemajuan suatu bangsa. Dengan pertumbuhan kampus-kampus NU yang hand in hand dengan kampus-kampus Muhammadiyah, saya meyakini, di masa mendatang warga Nahdliyin akan mengalami lompatan kesadaran yang sangat penting untuk mendewasakan kita semua sebagai bangsa. Bismillah sukses!!!

*Penulis adalah Direktur Eksekutif Indonesia Development Research -IDR

  • Penulis: Redaksi

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Kaesang Pangarep (tengah)

    Rebutan Ketum PSI Memanas, Tiga Nama Siap Bertarung!

    • calendar_month Senin, 23 Jun 2025
    • account_circle Redaksi
    • visibility 20
    • 0Komentar

    JAKARTA, CUPLIKAN.CO.ID –  Pendaftaran calon Ketua Umum Partai Solidaritas Indonesia (PSI) resmi ditutup hari ini, Senin (23/6/2025), dan dinamika internal partai kian memanas. Hingga siang hari, tercatat dua kandidat sudah mendaftarkan diri: Ketum petahana Kaesang Pangarep dan Wakil Ketua I DPW PSI Jawa Barat Ronald Aristone Sinaga alias Bro Ron. Kaesang, yang kembali mencalonkan diri […]

  • Kampanye PKS

    Suksesi PKS Tuntas, Ini Susunan Lengkap Pimpinannya!

    • calendar_month Rabu, 4 Jun 2025
    • account_circle Redaksi
    • visibility 25
    • 0Komentar

    JAKARTA, CUPLIKAN.CO.ID – Partai Keadilan Sejahtera (PKS) resmi menetapkan jajaran pimpinan barunya untuk periode 2025–2030. Dalam Musyawarah Majelis Syura yang digelar pada 3–4 Juni 2025, Mohamad Sohibul Iman kembali dipercaya sebagai Ketua Majelis Syura PKS, sementara posisi Presiden PKS kini dijabat oleh Almuzzammil Yusuf. Pemilihan ini didahului oleh e-voting seluruh anggota pelopor PKS pada 31 […]

  • Brasil Bungkam Haiti 3-0, Selecao Puncaki Grup C dan Pecahkan Rekor Gol Piala Dunia

    Brasil Bungkam Haiti 3-0, Selecao Puncaki Grup C dan Pecahkan Rekor Gol Piala Dunia

    • calendar_month Sabtu, 20 Jun 2026
    • account_circle DDY
    • visibility 25
    • 0Komentar

    Philadelphia, editoria.co.id – Tim nasional Brasil meraih kemenangan meyakinkan 3-0 atas Haiti pada laga kedua Grup C Piala Dunia 2026 yang berlangsung di Stadion Philadelphia, Pennsylvania, Amerika Serikat, Jumat (19/6/2026) waktu setempat. Kemenangan tersebut membawa skuad asuhan Carlo Ancelotti ke puncak klasemen sementara Grup C dengan koleksi empat poin. Sebaliknya, Haiti semakin terpuruk di dasar […]

  • Kunjungan Vice President Director PT Mitsubishi Corporation Trading Indonesia, Shujiro Nishida, beserta tim, ke Wakil Menteri Transmigrasi Viva Yoga Mauladi di Jakarta, Selasa (3/12/2024)

    Mitsubishi dan Kementrans Bersinergi Kembangkan Transmigrasi Jadi Lumbung Pangan

    • calendar_month Rabu, 4 Des 2024
    • account_circle Redaksi
    • visibility 19
    • 0Komentar

    JAKARTA, CUPLIKAN.CO.ID – PT Mitsubishi Indonesia dan Kementerian Transmigrasi (Kementrans) menjalin kemitraan strategis untuk meningkatkan kesejahteraan petani dan membangun kedaulatan pangan di kawasan transmigrasi. Kemitraan ini menggunakan pendekatan Creating Shared Value (CSV), yang berbeda dari model tanggung jawab sosial perusahaan (CSR). Kerjasama ini diawali dengan kunjungan Vice President Director PT Mitsubishi Corporation Trading Indonesia, Shujiro […]

  • Turnamen futsal bertajuk "Korwil Cup" untuk pelajar SD se-Kecamatan Grujugan Bondowoso.

    Turnamen Futsal Antar SD “Korwil Cup” Digelar Perdana di Grujugan Bondowoso

    • calendar_month Selasa, 14 Jan 2025
    • account_circle Redaksi
    • visibility 16
    • 0Komentar

    BONDOWOSO, CUPLIKAN.CO.ID – Kelompok Kerja Guru (KKG) Olahraga Koordinator Wilayah (Korwil) Grujugan, Bondowoso, mengadakan turnamen futsal bertajuk “Korwil Cup” untuk pelajar SD se-Kecamatan Grujugan. Turnamen ini berlangsung di lapangan futsal Desa Dadapan, Kecamatan Grujugan, mulai Selasa (14/01/2025). Turnamen futsal ini menjadi bagian dari program kerja KKG Olahraga Korwil Grujugan sekaligus ajang silaturahmi antar pelajar SD […]

  • Ilustrasi Bendera NU dan PKB

    Jatah Kue Kekuasaan NU vs PKB

    • calendar_month Senin, 23 Sep 2024
    • account_circle Redaksi
    • visibility 23
    • 0Komentar

    Oleh. Fathorrahman Fadli* Sampai hari kiamat, rasanya NU akan terus menjadi komoditas politik bagi para pencari kekuasaan di negeri ini. Tidak saja dari kalangan internal NU sendiri, namun juga oleh kalangan eksternal NU yakni partai-partai politik. Hal ini terjadi karena beberapa hal berikut yang akan saya uraikan satu persatu. Pertama, soal jumlah massa NU yang […]

expand_less