Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Opini » Ketika Logika Formal Bertemu Sutra Hati

Ketika Logika Formal Bertemu Sutra Hati

  • account_circle DDY
  • calendar_month Sabtu, 26 Sep 2026
  • visibility 48
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Oleh: Agustian Hutriady

Jakarta – Saya pernah membaca kalimat “kosong adalah isi, isi adalah kosong” dan langsung mengernyitkan dahi. Bukan karena terkesan, tapi karena terganggu. Dalam logika formal, kalimat itu terasa seperti kesalahan mendasar: kosong adalah kosong itu sendiri, isi adalah isi itu sendiri. Menyamakan dua hal yang justru didefinisikan sebagai lawan satu sama lain terasa seperti main-main dengan bahasa, bukan berfilsafat.

Butuh waktu cukup lama sampai saya sadar bahwa keberatan saya sendiri berangkat dari asumsi yang keliru dan menyadari letak kekeliruannya justru membuka jalan masuk ke salah satu argumen paling ketat dalam sejarah filsafat Buddhis.

Kesalahan yang Saya Buat

Ketika membaca “kosong adalah isi”, saya diam-diam membayangkan dua kotak: kotak bernama Kosong dan kotak bernama Isi, lalu kalimat itu memaksa keduanya jadi satu kotak. Itu memang pelanggaran identitas bahwa A tidak bisa sama dengan B kalau A dan B didefinisikan sebagai dua hal terpisah.

Tapi itu bukan yang sedang dikatakan kalimat ini. Kalimat itu berasal dari Sutra Hati, teks pendek Buddhisme Mahayana, dan “kosong” di sana menerjemahkan kata śūnyatā. Bukan “ketiadaan”. Bukan kotak kosong. Śūnyatā adalah klaim tentang cara sesuatu ada: bahwa tidak ada satu pun hal yang punya hakikat mandiri, tetap, dan berdiri sendiri lepas dari segala sesuatu yang menopangnya.

Begitu saya membaca ulang dengan pemahaman ini, kalimatnya berubah bentuk. Ia bukan menyamakan dua benda. Ia sedang bilang: periksa “isi” itu baik-baik, dan yang kamu temukan adalah ketiadaan inti tetap. Itulah “kosong”-nya. Bukan A = B, melainkan A, ketika diperiksa sampai ke akar, ternyata adalah B.

Ombak dan Air

Analogi yang akhirnya membuat saya berhenti protes adalah ombak dan air. “Ombak adalah air, air adalah ombak”, kalimat ini terdengar aneh dengan cara yang sama, tapi tidak ada orang yang benar-benar keberatan dengannya. Kenapa? Karena ombak memang tidak punya eksistensi terpisah dari air. Tidak ada “zat ombak” yang berdiri sendiri di luar air yang sedang bergerak dalam pola tertentu. Ombak hanyalah nama yang kita berikan untuk air dalam kondisi sementara itu.

Nagarjuna, filsuf Buddhis abad ke-2 yang meletakkan dasar mazhab Madhyamaka, membangun argumen serupa untuk segala sesuatu bukan cuma ombak. Ia menyamakan kekosongan dengan pratītyasamutpāda, kemunculan yang saling bergantung. Sebuah meja adalah meja karena kayu, tukang, kebutuhan orang yang memesannya, dan waktu tertentu. Cabut semua kondisi itu, dan tidak ada sisa “kemejaan murni” yang tinggal berdiri sendiri. Meja itu ada, tapi ia tidak ada secara mandiri. Justru karena tidak ada inti tetap itulah ia bisa berubah, rusak, dibongkar, dijadikan kayu bakar. Sesuatu yang benar-benar mandiri dan tetap, secara logis, tidak akan pernah bisa berubah sama sekali.

Di titik ini keberatan logika formal saya mulai kehilangan pijakan. Yang dilanggar bukan hukum identitas. Yang digugat adalah asumsi diam-diam saya bahwa “isi” itu sendiri adalah sesuatu yang mandiri sejak awal.

Bukan Nihilisme, dan Bukan Wahdatul Wujud

Ada dua jalan keluar yang tampak menggoda dari sini, dan keduanya salah arah.

Jalan pertama: kalau semua kosong, berarti semua sia-sia, jadi bebas saja tidak peduli apa-apa. Ini nihilisme, dan Nagarjuna sendiri menolaknya dengan tegas. Kalau benar-benar tidak ada apa-apa, tidak ada juga yang perlu dibebaskan, tidak ada penderitaan yang perlu diatasi, tidak ada praktik yang masuk akal. Kekosongan bukan penyangkalan bahwa sesuatu terjadi  ia penjelasan tentang bagaimana sesuatu bisa terjadi.

Jalan kedua, yang sempat saya pikir cocok sebagai padanan: wahdatul wujud dalam tasawuf, gagasan Ibnu Arabi bahwa hanya ada satu Wujud sejati, yaitu Allah, dan segala keberagaman yang tampak ini adalah tajalli, penampakan dari Yang Satu itu. Kedengarannya mirip  sama-sama meruntuhkan sekat tegas antara hal-hal yang tampak terpisah.

Tapi strukturnya berlawanan. Wahdatul wujud tetap monisme: ada Satu Hakikat Sejati di balik segala keberagaman. Śūnyatā menolak justru gagasan itu. Nagarjuna tidak mengganti “banyak yang semu” dengan “Satu yang sejati”,  ia menolak pengandaian adanya hakikat tetap apa pun, termasuk gagasan bahwa yang sejati itu Satu. Kalau mau padanan yang lebih pas secara struktur, Advaita Vedanta Brahman sebagai satu-satunya realitas  jauh lebih dekat ke wahdatul wujud dibanding Buddhisme. Dan bukan kebetulan, para filsuf Buddhis dulu memang berdebat panjang justru melawan Advaita, persis di titik ini.

Yang Tersisa dari Kekeliruan Saya

Saya masih berpikir keberatan logika formal saya di awal itu sehat, bukan sesuatu yang perlu disesali. Ia memaksa kalimat itu membuktikan diri, bukan sekadar diterima karena terdengar dalam. Dan begitu diperiksa, argumennya ternyata bertahan  bukan dengan melanggar logika, tapi dengan menggeser tempat pertanyaannya: bukan “bisakah A sama dengan B”, melainkan “benarkah A itu sendiri sudah berdiri sendiri sejak awal”.

Ternyata tidak, dan mungkin di situlah letak kegunaannya sebagai filsafat, bukan sebagai kutipan estetik di media sosial, bukan untuk memberi jawaban yang nyaman, tapi untuk membuat kita ragu pada pertanyaan yang selama ini kita anggap sudah jelas.

 

  • Penulis: DDY

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Wakil Ketua Umum Partai Golkar , Adies Kadir dalam acara puncak HUT ke-60 Partai Golkar. Sumber foto : Instagram Adies Kadir.

    MKGR Siapkan Tempat untuk Jokowi di HUT ke-65 Meski Tak Diundang Resmi

    • calendar_month Kamis, 16 Jan 2025
    • account_circle Redaksi
    • visibility 15
    • 0Komentar

    JAKARTA, CUPLIKAN.CO.ID – Organisasi masyarakat pendiri Partai Golkar, Musyawarah Kekeluargaan Gotong Royong (MKGR), menegaskan bahwa meski Presiden Joko Widodo (Jokowi) tidak diundang secara resmi ke puncak acara Hari Ulang Tahun (HUT) ke-65, mereka tetap mempersiapkan tempat jika Jokowi berkenan hadir. Ketua Umum MKGR, Adies Kadir, menjelaskan bahwa pihaknya telah mengundang Wakil Presiden RI Gibran Rakabuming […]

  • Panggung Hiburan Rakyat PPK Sukolilo Surabaya

    Sambut Pilkada 2024, PPK Sukolilo Gelar Panggung Hiburan Rakyat di CFD

    • calendar_month Senin, 28 Okt 2024
    • account_circle Redaksi
    • visibility 12
    • 0Komentar

    SURABAYA, CUPLIKAN.CO.ID – Dalam upaya meningkatkan partisipasi masyarakat pada Pilkada 2024, Panitia Pemilihan Kecamatan (PPK) dan Panitia Pemungutan Suara (PPS) Kecamatan Sukolilo menggelar acara kreatif berupa Panggung Hiburan Rakyat. Acara ini diadakan pada Car Free Day (CFD) di sepanjang Jalan Arief Rahman Hakim, Minggu (27/10), dan dipenuhi antusiasme warga yang berolahraga serta menikmati sajian budaya. […]

  • Anggota Komisi IV DPR RI, Usman Husin.

    Usman Kritik Keras Inkonsistensi Izin Kehutanan Nasional

    • calendar_month Kamis, 4 Des 2025
    • account_circle Redaksi
    • visibility 19
    • 0Komentar

    JAKARTA, CUPLIKAN.CO.ID – Anggota Komisi IV DPR RI dari Fraksi PKB, Usman Husin, melontarkan kritik tajam terhadap inkonsistensi kebijakan Kementerian Kehutanan di bawah kepemimpinan Raja Juli Antoni. Dalam Rapat Kerja Komisi IV DPR di Jakarta, Kamis (4/12/2025), Usman menilai berbagai keputusan yang diambil Menteri justru bertentangan dengan rekomendasi daerah dan memperburuk persoalan tata kelola hutan. […]

  • Sidon, Lebanon September 28, 2024. REUTERS/Ali Hankir

    Sayyid Hasan Nasrallah, Tak Sekedar Simbol Perlawanan

    • calendar_month Minggu, 29 Sep 2024
    • account_circle Redaksi
    • visibility 11
    • 0Komentar

    BEIRUT, CUPLIKAN.CO.ID – Hassan Nasrallah, pemimpin Hezbollah berusia 64 tahun, memimpin kelompok yang didukung Iran selama lebih dari 32 tahun. Selama masa kepemimpinannya, Nasrallah menjadi tokoh politik dan spiritual yang membawa Hezbollah menjadi kekuatan utama di Lebanon. Di antara para pendukungnya, Nasrallah dihormati karena keberaniannya melawan Israel dan penentangannya terhadap Amerika Serikat. Namun, bagi musuhnya, […]

  • Ilustrasi Gambar dibuat oleh Chat GPT

    RUU TNI Digugat, Pemerintah Klaim Sudah Serap Aspirasi Publik

    • calendar_month Senin, 23 Jun 2025
    • account_circle Redaksi
    • visibility 15
    • 0Komentar

    JAKARTA, CUPLIKAN.CO.ID – Pemerintah menegaskan bahwa revisi Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2025 tentang Tentara Nasional Indonesia (UU TNI) telah melalui proses uji publik dan pelibatan masyarakat sebelum disahkan. Pernyataan ini disampaikan dalam sidang uji formil di Mahkamah Konstitusi (MK), Senin (23/6/2025), di tengah gugatan sejumlah mahasiswa dan organisasi sipil yang menuding pembentukan UU tersebut tidak […]

  • Halal Bihalal di Pendopo Raden Bagus Assra, Kamis (10/4/2025).

    Bupati Hamid Wahid: Profesionalisme ASN Dimulai dari Integritas Spiritual

    • calendar_month Jumat, 11 Apr 2025
    • account_circle Redaksi
    • visibility 22
    • 0Komentar

    BONDOWOSO, CUPLIKAN.CO.ID – Bupati Bondowoso Abdul Hamid Wahid mengajak seluruh Aparatur Sipil Negara (ASN) di lingkungan Pemerintah Kabupaten Bondowoso untuk menjaga semangat spiritual dan integritas sebagai landasan profesionalisme kerja. Hal ini disampaikan saat kegiatan Halal Bihalal di Pendopo Raden Bagus Assra, Kamis (10/4/2025). Dengan tema “Merajut Ukhuwah, Meningkatkan Profesional ASN Menuju Bondowoso Berkah”, acara ini dihadiri […]

expand_less