Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Sosok » Ari Sutrisno, Anak Kampung dari Jepara Menuju Rumah Besar Partai Golkar

Ari Sutrisno, Anak Kampung dari Jepara Menuju Rumah Besar Partai Golkar

  • account_circle Redaksi
  • calendar_month Rabu, 30 Jul 2025
  • visibility 15
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

JAKARTA, CUPLIKAN.CO.ID – Jakarta menyimpan banyak wajah, tapi hari menjelang maghrib itu ia menampakkan wajahnya yang paling hening. Di langit, lampu-lampu kota mulai bersinar pelan, menunggu pertandingan final Piala AFF U23 antara Indonesia dan Vietnam yang akan segera dimulai dalam hitungan jam. Namun, di sebuah sudut di Bilangan Menteng Jakarta, tepatnya di Sekretariat AMPI Media Centre, tak ada riuh terompet atau hiruk-pikuk layar tancap. Yang ada hanya satu pertemuan—diam-diam, nyaris tak bernama, tapi justru menyimpan gema panjang dari sebuah perjalanan.

Di ruang yang ditempeli poster-poster kepemudaan dan aroma kopi yang menggantung di udara, seorang lelaki duduk tenang di kursi besi berwarna hitam berlapis busa tipis. Tubuhnya tegap, kira-kira setinggi 170-an sentimeter. Kulitnya sawo matang, netral seperti tanah desa yang tak banyak menuntut. Sepasang kacamata bertengger di wajahnya, dan dari balik lensa itu, sepasang mata menyimpan lebih dari sekadar pandangan. Ia menyimpan jalan panjang yang sunyi, sunyi tapi tidak menyerah.

Namanya Ari Sutrisno. Menjelang maghrib itu, ia tidak datang untuk memberi pidato atau mengangkat gelas kopi dalam selebrasi. Ia datang sebagai seorang anak desa yang tumbuh dari keterbatasan, memeluk Buddha dalam sepi, dan perlahan menjejakkan kaki ke panggung politik nasional dengan bergabung ke Partai olkar bersama 150-an aktivis Cipayung lainnya. Pertemuan kami seperti mendengar petikan biola dalam ruang kosong—ada kesederhanaan, ada kedalaman, dan ada getar pelan yang tak bisa dilupakan begitu saja.

Ia lahir pada 2 Februari 1993 di Kaligarang, sebuah dusun di Jepara yang lebih dikenal sebagai kota ukir. Tapi Ari bukan pahatan dari kayu trembesi yang indah, ia lebih mirip sisa potongan yang tak pernah dipamerkan di galeri, namun tetap punya bentuk, punya nilai.

“Saya anak buruh mebel,” katanya lirih, seakan tak ingin kesedihannya terdengar seperti keluhan. Ibunya ikut panen jengkol, kadang rambutan. Mereka bukan pemilik ladang. Mereka sekadar menumpang hidup dari musim dan kemurahan alam.

Tahun 2008, saat masih belia dan baru menamatkan SMP Negeri 1 Keling, Ari dikirim ke Jakarta. Bukan karena diusir, bukan pula karena dibuang. Melainkan ‘diungsikan’, begitu ia menyebutnya. Sebuah langkah besar bagi bocah yang belum terbiasa melihat gedung menjulang. Ia dititipkan di asrama Buddhis, lalu bersekolah di SMA Tri Ratna Jakarta, hidup dalam keteraturan dan batas yang ketat. Tapi di situ pula ia mengenal bahwa di balik sunyi, ada ruang untuk tumbuh.

Dulu, ia pendiam. Teramat pendiam. Dunia baginya adalah suara-suara yang terlalu ramai, dan ia lebih suka bersembunyi di dalam kepalanya sendiri.

“Kalau ditanya, saya cuma menjawab seperlunya,” ucapnya mengenang.

Tapi hidup, seperti di Jakarta, tidak memberi ruang bagi yang tak mau bicara. Ia mulai belajar menyapa, mulai belajar bicara. Di Tri Ratna, ia bergabung dalam Himpunan Pelajar Buddhis Jakarta dan sempat mencalonkan diri sebagai ketua dan mengalami kekalahan.

Kekalahan itu bukan luka. Ia justru menjadi pintu bagi pertanyaan-pertanyaan mendalam: siapa dirinya? Apa artinya menjadi Buddhis di tengah minoritas yang sendiri? Di Jakarta, Buddhis identik dengan Tionghoa. Maka ketika Ari datang dengan logat Jawa, kulit sawo matang, dan wajah ndeso, pertanyaan pun muncul: “Kamu Buddhis? Dari mana?” “Asli Jawa,” jawabnya selalu, tenang. Tak ada embel-embel keturunan. Tak ada garis silsilah yang rumit. Ia Buddhis karena lahir dari rahim yang memeluk Buddha, meski darahnya juga mengalirkan Islam, Kristen, dan Katolik dari sanak saudara yang beragam.

Di kampung halamannya, ia tumbuh sebagai satu-satunya penganut Buddha di tengah ratusan keluarga Muslim. Tapi tak ada benturan. Saat sang kakak meninggal karena COVID-19 pada 2020, halaman rumah penuh oleh tetangga-tetangga Muslim yang datang berdoa dan berbagi air mata. “Itulah Jawa,” gumamnya pelan, “berbeda, tapi tak pernah bermusuhan.”

Sang kakak bukan orang tua kandung, tapi menjadi ayah, ibu, dan pelindung. Dari gaji kecilnya sebagai guru, ia membiayai Ari sampai kuliah. Ketika ia tiada, Ari limbung, tapi tak roboh. Ia terus berjalan, kuliah sambil bekerja. Sempat jadi front office di Sinar Mas, di situlah ia dilatih bicara. Setiap tamu adalah latihan. Setiap sapaan adalah pelajaran.

Lalu dunia politik mahasiswa pun datang. Tak disambut, tapi juga tak ditolak. Ia masuk dalam Himpunan Mahasiswa Buddhis Indonesia (HIKMABUDHI). Perlahan karier organisasinya merangkak naik. Bukan karena gimik, bukan karena jargon, tapi karena kerja sunyi. Tahun 2018, ia mencalonkan diri sebagai Ketua Umum dalam Kongres X HIKMABUDHI yang dilaksanakan di Pontianak, Kalimantan Barat tahun 2018. Dari lima calon, tinggal tiga. Dan ia menang.

“Anak kampung, menang di kongres nasional. Saya kira itu mukjizat kecil dalam hidup saya,”kenangnya.

Setelah masa jabatan berakhir, ia mencoba berwirausaha. Online shop dijalankan, sambil tetap menjalin komunikasi dengan aktivis-aktivis Cipayung lintas organisasi. Dari situ ia diajak masuk dalam sebuah partai politik, bahkan sempat dicalonkan menjadi Calon Anggota Legislatif di Jepara. Tapi keterlibatannya tak dalam. Ia tidak sepenuhnya tenggelam dalam partai itu.

“Saya hanya menjaga eksistensi kartu anggota,”ungkapnya.

Dan lalu, seperti perahu kecil yang akhirnya tiba di dermaga, Ari bertemu dengan Partai Golkar. Di sanalah ia merasa menemukan frekuensi. Ada Arief, mantan Ketua Umum PB HMI, ada Bahlil, Ketua Umum yang dulunya aktivis, bukan bangsawan politik.

“Di Golkar, saya lihat keberanian untuk berubah. Tak ada syarat istimewa selain loyalitas pada partai dan kerja-kerja politik untuk membesarkan parta,”katanya.

Ia tak naif. Ia tahu betul citra Golkar di masa lalu. Ia mendengar sindiran tentang aktivis Cipayung yang ‘pulang ke Orde Baru.’ Tapi baginya, partai adalah alat. Dan alat yang berubah bisa digunakan untuk memperjuangkan keadilan.

“Kami aktivis memang biasa turun ke jalan. Tapi kalau tak masuk partai, suara kami akan hilang setelah selesai orasi,”ujarnya.

Ari ingin Cipayung tak takut politik. Ia ingin menunjukkan bahwa seorang Buddhis dari desa, dari rahim minoritas, dari tubuh yang dulu diam dan tersembunyi pun bisa berdiri dan bicara di antara para pengambil keputusan. Ia ingin membuktikan bahwa kesederhanaan bukan kekurangan, melainkan fondasi.

Malam makin larut. Di layar TV ruang sebelah, timnas Indonesia bersiap-siap melawan Vietnam. Tapi dalam ruang kecil di dekat kolam renang itu, perbincangan kami adalah tentang pertandingan yang lebih besar: pertandingan melawan sunyi, melawan rasa kecil, melawan prasangka.

Dan Ari Sutrisno, dengan mata yang bersinar di balik kacamata tipisnya, telah mencetak satu gol dalam hidupnya. Gol yang tak dirayakan dengan yel-yel atau confetti, tapi cukup dengan senyum kecil dan satu kalimat, “Saya bukan siapa-siapa, tapi saya tahu jalan yang harus saya tempuh di Partai Golkar,”pungkasnya (RED).

  • Penulis: Redaksi

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Upgrading Kehumasan PP Nurul Jadid Paiton Probolinggo

    Humas Tak Cuma di Balik Layar! Pesantren Ini Buktikan

    • calendar_month Sabtu, 24 Mei 2025
    • account_circle Redaksi
    • visibility 19
    • 0Komentar

    PROBOLINGGO, CUPLIKAN.CO.ID – Pondok Pesantren Nurul Jadid kembali menegaskan keseriusannya dalam penguatan komunikasi publik lewat kegiatan upgrading kehumasan bertema “Humas dan Personal Branding”, yang digelar Sabtu (24/05/2025) di ruang rapat utama pesantren. Acara ini diikuti para staf humas dari berbagai unit pendidikan dan lembaga internal pesantren. Kepala Sub Bagian Humas dan Infokom, Ponirin Mika, menekankan […]

  • Anggota MPR RI Ahmad Dhani

    Ahmad Dhani Dorong Variasi Sosialisasi Empat Pilar di Surabaya

    • calendar_month Rabu, 30 Jul 2025
    • account_circle Redaksi
    • visibility 21
    • 0Komentar

    SURABAYA, CUPLIKAN.CO.ID – Anggota MPR RI Ahmad Dhani Prasetyo melaksanakan Sosialisasi Empat Pilar MPR RI di Rumah Aspirasi Rakyat Surabaya, Rabu (30/7). Acara ini dihadiri masyarakat dari berbagai kalangan yang antusias mendengarkan pemaparannya. Dalam penyampaiannya, Ahmad Dhani menegaskan pentingnya memperkuat pemahaman masyarakat tentang Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika sebagai fondasi kehidupan berbangsa. […]

  • Mensos RI Syaifullah Yusuf dalam sebuah acara PCNU Kendal pada Minggu (27/4/2025).

    Soeharto dan Gus Dur Berpeluang Dapat Gelar Pahlawan Nasional

    • calendar_month Senin, 28 Apr 2025
    • account_circle Redaksi
    • visibility 20
    • 0Komentar

    JAKARTA, CUPLIKAN.CO.ID – Dua tokoh besar dalam sejarah Indonesia, Presiden ke-2 Soeharto dan Presiden ke-4 KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), berpeluang mendapatkan gelar Pahlawan Nasional tahun ini. Menteri Sosial Saifullah Yusuf (Gus Ipul) menyampaikan kabar ini saat menghadiri acara di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta, pada Rabu (23/4). “Tahun ini ada beberapa nama yang berpeluang, […]

  • Emas Antam

    Harga Emas Naik Lagi, Pecah Rekor Rp1,44 Juta!

    • calendar_month Senin, 16 Sep 2024
    • account_circle Redaksi
    • visibility 13
    • 0Komentar

    JAKARTA, CUPLIKAN.CO.ID – Harga emas batangan PT Aneka Tambang Tbk (Antam) pada hari ini, Senin (16/9), berdasarakan pantauan Radiant Voice masih melesat naik ugal-ugalan. Berdasarkan laman resmi Logam Mulia Antam, harga dasar emas per 1 gram dijual sebesar Rp1.443.000. Setelah dikenakan pajak PPh 22 sebesar 0,25%, harga akhirnya mencapai Rp1.446.608 per gram. Harga ini naik […]

  • Zezen Zaenal Mutaqin (Voicer)

    Krisis Independensi Intelektual

    • calendar_month Sabtu, 10 Mei 2025
    • account_circle Redaksi
    • visibility 17
    • 0Komentar

    Oleh : Zezen Zainal Muttaqien* Pada 2022 saya berkunjung ke kampus tertua di dunia. Kampus itu berada di kota Fez, Maroko. Nama kampunya: Universitas Al-Qarawiyin. Kampus itu berada di tenga-tengah grand bazar kota Fez. Kampus yang berdiri pada 859 M itu masih berdiri kokoh dan terjaga. Sebagian proses pembelajaran masih dipertahankan dengan model halaqah: guru […]

  • Budisatrio Djiwandono, Ketua Umum Pemuda Tani Indonesia.

    Pemuda Tani Dorong Regenerasi Petani Lewat Inovasi Digital

    • calendar_month Rabu, 29 Okt 2025
    • account_circle Redaksi
    • visibility 23
    • 0Komentar

    BOGOR, CUPLIKAN.CO.ID – Momentum peringatan HUT ke-39 Pemuda Tani Indonesia dan Hari Sumpah Pemuda dimanfaatkan DPP Pemuda Tani Indonesia untuk menggelorakan semangat regenerasi petani muda di tengah pesatnya transformasi teknologi pertanian. Kegiatan bertajuk “Temu Pemuda: Dialog dan Penanaman” ini digelar serentak di delapan provinsi dan dipusatkan di Katulampa, Kota Bogor, Jawa Barat, Senin (28/10). Ketua […]

expand_less