Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Opini » Membela Rakyat tak Pernah Salah

Membela Rakyat tak Pernah Salah

  • account_circle Redaksi
  • calendar_month Jumat, 28 Nov 2025
  • visibility 23
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Oleh : Fathorrahman Fadli*

JAKARTA, CUPLIKAN.CO.ID – Dalam etika kepemimpinan klasik, tindakan yang berpihak kepada mereka yang paling rentan selalu berada di sisi moral yang benar. Ia menghindarkan pemimpin dari kesewenang-wenangan dan menjaga integritas dirinya di mata publik.

Negara, jelas bukan panggung untuk ambisi pribadi. Dalam kajian “modern state”, tindakan membela rakyat itu dapat memastikan bahwa kebijakan, kekuasaan, dan keputusan berpihak pada kebutuhan nyata manusia, bukan pada kepentingan sempit kelompok kecil.

Dalam teori politik klasik maupun modern, kekuasaan negara hanya sah jika berpijak pada kehendak rakyat. Membela rakyat berarti mengembalikan kekuasaan kepada sumbernya.

Pemimpin yang berpihak kepada rakyat memperkuat fondasi moral dan konstitusional negara. Pada literatur sejarah ditulis banyak tokoh dunia yang harum namanya karena mereka membela rakyatnya.

Tokoh dunia yang dikenal sebagai pembela rakyatnya di antaranya adalah Mahatma Gandhi, yang memimpin gerakan kemerdekaan India melawan Inggris melalui perlawanan tanpa kekerasan; Nelson Mandela, yang berjuang melawan apartheid di Afrika Selatan dan dipenjara selama 27 tahun. Ada juga Martin Luther King Jr, yang memimpin gerakan hak-hak sipil untuk warga kulit hitam di Amerika Serikat.

Satu orang Mahatma Gandhi, berkat cinta dan keberaniannya, berhasil mengakhiri pemerintahan kolonial Inggris di India dan menginspirasi gerakan-gerakan perlawanan di seluruh dunia.

Sementara itu, Nelson Mandela berhasil menjadi simbol perjuangan anti-apartheid, yang menghabiskan 27 tahun di penjara karena aktivismenya, sebelum menjadi presiden pertama Afrika Selatan yang dipilih secara demokratis. Di sisi belahan dunia lainnya, Martin Luther King Jr, seorang pendeta dan aktivis hak-hak sipil yang memimpin pergerakan menuntut kesetaraan ras dan hak-hak sipil bagi warga Afrika-Amerika, melalui aksi, tanpa kekerasan.

Dalam sejarah Persia kuno, kita juga dapat membaca jejak-jejak indah dari Koresh Agung. Ia adalah Kaisar Persia Kuno yang sangat terkenal. Pasalnya, Koresh berhasil membebaskan budak-budak di Babilonia, mendeklarasikan kebebasan beragama, dan menegakkan kesetaraan ras, yang menjadikan Dekrit Koresh (Cyrus Cylinder) dianggap sebagai piagam hak asasi manusia pertama di dunia.

Sejarah dunia juga semakin eksotik, ketika seorang Malcolm X hadir sebagai pemimpin hak-hak sipil di Amerika. Malcolm adalah aktivis yang vokal pada masanya, memperjuangkan hak-hak masyarakat kulit hitam dengan cara yang berbeda.

Beberapa tokoh tersebut hanyalah contoh, betapa para pejuang rakyat itu tidak pernah salah. Mereka menjadikan dirinya sebagai titik tumpu membangun peradaban bangsanya masing-masing. Sebab peradaban harus dibangun tidak saja dengan nilai-nilai luhur yang tumbuh dan berkembang di tengah-tengah rakyatnya. Lebih jauh dari itu, peradaban membutuhkan tokoh pemimpin yang sepenuh jiwa berani membela rakyatnya.

Sumber legitimasi

Membela rakyat bagi seorang pemimpin adalah sesuatu yang niscaya. Jika ada pemimpin yang tidak bekerja atas nama rakyat, maka ia dengan cepat akan kehilangan legitimasinya di tengah-tengah rakyat. Sebab, rakyat, sejatinya sumber dari legitimasi seorang pemimpin untuk berkuasa. Tanpa rakyat, tidak akan ada pemimpin. Oleh karena itu, seorang pemimpin yang zalim pada rakyatnya, maka mereka akan kehilangan marwah dan segera menemukan kejatuhannya.

Dalam kaitannya dengan sumber legitimasi, usaha serius membela kepentingan rakyat dari segala sisinya dapat diartikan sebagai usaha yang berkeadilan sosial. Sebab keadilan sosial merupakan tujuan utama kita dalam bernegara. Pemimpin yang gagal melahirkan keadilan sosial, mereka akan gagal menjadi pemimpin yang baik.

Oleh karena itu, konstitusi banyak negara, termasuk Indonesia, menempatkan keadilan sosial sebagai tujuan. Membela rakyat berarti menegakkan prinsip bahwa negara hadir untuk menyeimbangkan kekuatan, melindungi yang lemah, dan meratakan kesempatan rakyat untuk hidup sejahtera.

Apabila kita cermati lintasan sejarah, mulai Romawi, hingga Asia Tenggara modern, kekuasaan yang menjauhi rakyat selalu jatuh. Sebaliknya, pemimpin yang membela rakyat dikenang sebagai legenda, bukan karena mereka sempurna, tetapi karena keberpihakannya menyelamatkan masa depan bangsanya.

Sejalan dengan kesadaran akan pemimpin, rakyat harus menjadi kompas moral kepemimpinan. Rakyat harus mengawasi tingkah polah seorang pemimpin. Di dalam konsep manajemen moderen, rakyat layaknya seorang komisaris utama yang bekerja mengawasi seorang direktur utama perusahaan dalam menjalankan amanah pemiliknya.

Oleh karena itu, seorang direktur yang baik haruslah taat pada code of conduct yang ditetapkan oleh perusahaan. Direktur utama dan jajarannya tidak boleh bertindak sesuka hati dan berkelit di balik aturan main sebagai rambu-rambu menjalankan amanah perusahaan. Apabila mereka abai, atau bahkan menentangnya, maka secara moral mereka telah kehilangan hak dan kewenangannya itu di mata rakyat sebagai komisaris utama dalam negara demokrasi.

Pengayom rakyat

Dalam negara demokrasi pula, para pemimpin diharuskan untuk menjaga marwah dirinya dalam menyelenggarakan mandat dari rakyat. Pemimpin rakyat harus berada dalam posisi waspada, mawas diri, tenggang rasa, bertanggung jawab, dan sejauh mungkin menghindarkan diri dari perilaku yang menyimpang dari akal sehat dan nalar publik yang baku.

Seorang pemimpin tidak boleh bersikap denial atas ajaran moralitas agama sebagai penuntun jalan hidup yang paripurna. Pemimpin publik yang sehat akan selalu menjadikan akal sehatnya sebagai alat kontrol yang otoritatif dan permanen dalam diri mereka.

Akal sehat seorang pemimpin publik harus selalu dipasang secara terbuka dalam menjalankan amanah rakyat. Mereka harus merasa terhina apabila akal sehatnya ia kalahkan oleh dominasi kekuasaan, tarikan kepentingan ekonomi yang rakus, serta sikap ewuh pakewuh yang berpotensi merusak negara dan masa depan kehidupan bangsa.

Dengan patokan nilai dan sikap yang jelas tersebut, maka rakyat akan merasa diayomi oleh para pemimpinnya. Pemberontakan rakyat berupa demonstrasi, kecaman, dan gugatan itu sejatinya berawal dari rusaknya akal sehat para pemimpin.

Di berbagai belahan dunia, demonstrasi itu terjadi karena rakyat sudah muak melihat kelakuan para elitnya. Kemuakan itu dinilai rakyat sudah berada di atas ambang batas psikologis. Hal itu menjadi dasar bagi rakyat untuk menjaga harmoni bernegara melalui gerakan rakyat menggugat pada elitnya. Jika elit tidak keterlaluan melencengkan amanah rakyat, maka rakyat tentunya akan hidup tenang nan damai.

Kondisi dunia yang mutakhir terjadi di Georgia, hendaknya menjadi pelajaran penting bagi kita di Indonesia, dimana rakyat sudah tidak sabar dan mencari jalan sendiri yang revolusioner.

Perubahan yang sifatnya revolusioner belum tentu sepenuhnya sesuai dengan apa yang diinginkan rakyat Georgia. Sangat bisa jadi gerakan revolusi mereka berpotensi ditunggangi oleh anasir-anasir jahat di luar kendali mereka. Oleh karena itu sering kita dengar istilah,”revolusi sering memakan anak kandungnya sendiri”.

Bagaimana dengan kondisi bangsa kita di tanah air? Rasanya memang tidak seindah yang diharapkan seluruh rakyat. Padahal harapan rakyat, sebagaimana diamanahkan dalam UUD 1945 dengan jelas bahwa negara bertugas menyejahterakan rakyat.

Masa orde lama dan orde baru jelas sudah menjadi kenangan sejarah. Kita sebaiknya menatap bangsa ini jauh ke depan. Para filosof Jawa menasihati kita dengan kalimat Sing wis yo wis (yang sudah berlalu biarkanlah berlalu). Kita sebagai bangsa yang berbasis akal sehat, kaya raya, dengan bentangan alam raya yang sangat indah harus menatap masa depan yang lebih baik. Oleh karena itu pemerintah dan rakyatnya harus bersinergi membangun kebaikan bersama; bukan merusak bersama.

*Penulis adalah Direktur Eksekutif Indonesia Development Research (IDR) dan anggota Pokja Komisi Percepatan Reformasi Kepolisian

  • Penulis: Redaksi

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Pemain skateboard cilik asal Bali yang tergabung dalam Galskate Bali menyambut perayaan Hari Kartini dengan berseluncur di atas skateboard dengan menggunakan kebaya. Sumber foto : ANTARA.

    Lawan Stereotip, Skater Perempuan Bali Meluncur Anggun Berkebaya

    • calendar_month Minggu, 20 Apr 2025
    • account_circle Redaksi
    • visibility 13
    • 0Komentar

    DENPASAR, CUPLIKAN.CO.ID – Pemandangan tak biasa tampak di Skatepark Lumintang, Denpasar, Minggu (20/4/2025). Puluhan perempuan berselendang dan berkebaya tampak lincah menaklukkan lintasan skateboard dalam rangka memperingati Hari Kartini. Aksi ini digagas komunitas GalsSkate Bali, yang ingin menunjukkan bahwa kebaya tak menghalangi gerak bebas perempuan, bahkan di olahraga ekstrem seperti skateboard. “Kartini memperjuangkan hak perempuan agar […]

  • Isabell Cruz

    Kekosongan Kekuasaan Kartel Sinaloa Melumpuhkan Culiacan

    • calendar_month Sabtu, 28 Sep 2024
    • account_circle Redaksi
    • visibility 14
    • 0Komentar

    CULIACAN MEKSIKO, CUPLIKAN.CO.ID – Setelah penangkapan Ismael Zambada Garcia alias El Mayo, kekosongan kekuasaan dalam kartel Sinaloa menimbulkan dampak serius bagi kehidupan di kota Culiacan. Kekacauan yang terjadi menyebabkan banyak bisnis tutup lebih awal dan warga ketakutan untuk keluar rumah. “Kami hanya menerima 15 persen dari pelanggan kami. Orang-orang takut untuk keluar karena mereka tahu risikonya,” […]

  • Matahukum Soroti Dugaan Penggunaan Gedung Diklat Kemenhut untuk Agenda PSI, Desak KPK dan BPK Lakukan Investigasi

    Matahukum Soroti Dugaan Penggunaan Gedung Diklat Kemenhut untuk Agenda PSI, Desak KPK dan BPK Lakukan Investigasi

    • calendar_month Senin, 29 Jun 2026
    • account_circle DDY
    • visibility 46
    • 0Komentar

    Jakarta, editoria.co.id – Dugaan penggunaan Gedung Pusat Pendidikan dan Pelatihan (Pusdiklat) Sumber Daya Manusia (SDM) milik Kementerian Kehutanan (Kemenhut) untuk kegiatan internal Partai Solidaritas Indonesia (PSI) menuai sorotan dari kalangan pegiat hukum. Sekretaris Jenderal Matahukum, Mukhsin Nasir, menilai dugaan pemanfaatan aset negara untuk kepentingan partai politik tidak dapat dipandang sebagai persoalan administratif semata. Menurutnya, kasus […]

  • Penandatanganan MOU antara Pengajian Al Hidayah dengan LEMHANAS.

    Pengajian Al Hidayah dan Lemhannas Teken MoU Ketahanan Nasional

    • calendar_month Selasa, 21 Okt 2025
    • account_circle Redaksi
    • visibility 17
    • 0Komentar

    JAKARTA, CUPLIKAN.CO.ID – Dalam rangkaian Muktamar ke-IX DPP Pengajian Al-Hidayah, digelar Seminar Nasional dan Penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) antara DPP Pengajian Al-Hidayah dan Lembaga Ketahanan Nasional Republik Indonesia (Lemhannas RI) di Hotel Sultan, Jakarta, Selasa (21/10). Kegiatan bertajuk “Memperkuat Ketahanan Sosial dan Nasional di Tengah Disrupsi Digital” ini menjadi momentum penting dalam memperkuat sinergi antara […]

  • Blackout Sumatera dan Alarm Besar Ketahanan Energi Nasional

    Blackout Sumatera dan Alarm Besar Ketahanan Energi Nasional

    • calendar_month Minggu, 24 Mei 2026
    • account_circle DDY
    • visibility 33
    • 0Komentar

    Oleh: Agustian Hutriady Editoria.co.id – Pemadaman listrik massal yang terjadi di sejumlah wilayah Sumatera beberapa waktu terakhir tidak hanya menjadi gangguan teknis semata, tetapi juga membuka kembali pertanyaan besar mengenai ketahanan sistem kelistrikan nasional di tengah meningkatnya kebutuhan energi dan ancaman cuaca ekstrem. Di tengah proses investigasi yang masih berlangsung, Ketua Umum PLN Watch KRT […]

  • Ilustrasi Kekerasan Seksual Verbal

    Mahasiswi di Singaraja Alami Pelecehan Seksual Verbal Saat Survei di Kantor Kelurahan

    • calendar_month Senin, 23 Sep 2024
    • account_circle Redaksi
    • visibility 14
    • 0Komentar

    SINGARAJA, CUPLIKAN.CO.ID – Seorang mahasiswi berinisial E, yang sedang menjalankan tugas survei di dua kelurahan di Kabupaten Buleleng, Singaraja, mengungkapkan pengalaman tidak menyenangkan yang dialaminya pada Kamis, (12/9/2024). Dalam tugasnya untuk sebuah lembaga survei, E mendapati dirinya menjadi korban pelecehan seksual verbal oleh beberapa perangkat desa di Kelurahan KB. Menurut E, kejadian bermula ketika ia […]

expand_less