Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Opini » Dedi Bukan Jokowi, Mulyadi Bukan Mulyono

Dedi Bukan Jokowi, Mulyadi Bukan Mulyono

  • account_circle Redaksi
  • calendar_month Kamis, 22 Mei 2025
  • visibility 18
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Oleh : Zezen Zaenal Mutaqin*

Saya hanya sekali menemui KDM. Sudah lama sekali. Saya lupa waktu tepatnya. Saat itu dia menjabat sebagai wakil bupati di Purwakarta dan saya koordinator riset Jawa Barat untuk Lembaga Survei Indonesia (LSI). KDM ingin tahu tentang survei. Lewat jaringan HMI, seseorang yang disuruhnya menghubungi saya.

Kami bergegas dari Menteng dengan kendaraan seorang kawan. Mobil jip Suzuki tua yang kami naiki tidak bisa berlari. Berjalan lebih mirip kura-kura. Padahal kami dikejar waktu janjian setelah jam makan siang untuk bertemu KDM di kantornya.

Akhirnya kami bertemu di ruangannya. Kami duduk bertiga dan obrolan tentang survei mengalir begitu saja. Saya ingat, KDM ingin naik jadi bupati dan karena itu bertanya kepada beberapa lembaga survei, termasuk kepada LSI.

Setelah obrolan siang itu, saya ingat, tidak ada kelanjutan rencana penelitian dan konsultansi karena rupanya dia memilih lembaga survei lain yang lebih ekonomis. Dan karena itu tidak ada lagi perjumpaan saya dengannya.

KDM kini menjadi sensasi politik baru di Indonesia. Saya hanya mengikutinya dari sosial media yang begitu populer. Juga dari obrolan beberapa kawan yang lumayan dekat dengannya. Minggu ini Tempo secara khusus menurunkan sebuah laporan tentang KDM.

Tulisan ini respons terhadap tulisan Tempo dan juga unggahan yang berseliweran di sosial media. Ada kecenderungan orang menyamakan KDM dengan Jokowi. Mereka mirip dalam hal: menuai popularitas lewat populisme. Masuk ke gorong-gorong dan datang ke pasar adalah dua ikon yang selalu disamakan. Juga turun ke bawah atau blusukan: pasar dan warga, selokan dan bendungan, sekolah hingga barak militer.

Terlepas dari kesamaan keduanya dalam hal mendulang popularitas dari populisme, saya melihat ada beberapa hal membuat keduanya berbeda secara kontras. Pertama, KDM tidak berpura-pura lugu, polos dan bodoh. KDM malah berani frontal, terlihat cukup pandai. Jago berpidato dan beretorika, juga menguasai teknik panggung. Sesekali ia juga menjadi dalang dan bernyanyi. Bahkan menciptakan lagu.

Sebagai orang Sunda, saya secara pribadi kagum pada KDM dalam hal penguasaan falsafah, tradisi dan budaya Sunda. Sebagai mantan aktivis HMI, saya juga kagum pada usahanya membumikan penafsiran Islam yang terbuka, mendialogkannya dengan budaya. Dia tak khawatir dicap sebagai tidak Islami hanya karena memiliki perbedaan penafsirkan. Dalam dialognya dengan Akbar Faisal, KDM secara terbuka mengatakan pemahaman keislamannya dipengaruhi oleh orang seperti Harun Nasution dan Nurcholish Madjid.

Coba anda baca bait ini:

Kawung mabur sarulukeunna
Samak leungit jeung pandana
Ciamis tinggal pahitna
Ciherang tinggal kiruhna
Resi leungiteun ajina
Pandita leungit komarana
Kaduruk ku hawa nafsuna
Bangkong dikongkorong kujang
Ka cai mawa cameti.

Bapak saya dikampung dulu dianggap sebagai sesepuh yang cukup dalam mengetahui syair, falsafah, pitutur dan tradisi Sunda. Tapi saya belum pernah mendengar ayah saya menurutkan falsafah ini dalam pidato dan ceramahnya. KDM dengan lancar menjelaskan makna falsafah itu ketika dia mengkritik falsafah pendidikan modern. Dia mengatakan, falsafah pendidikan Sunda itu harus bertumpu pada pencapaian lima tujuan. Falsafah itu disebut Panca Waluya: Ceger, Bager, Bener, Pinter, Singer (Sehat, Baik, Jujur dan benar, Pandai dan Cekatan).

Silahkan anda cek kembali video-videonya untuk melihat kedalaman KDM dalam falsafah budaya. Ini yang setidaknya tidak ada dalam penampilan Mulyono. Mulyono mungkin mengetahui falsafah politik Jawa. Tapi dia tidak menuturkannya.

Kedua, KDM matang sekali sebagai politisi karena memiliki riwayat organisasi yang panjang. Dia adalah pendiri HMI Cabang Purwakarta. Cabang yang didirikannya kini sudah mapan dan memiliki banyak komisariat. Setelah itu dia masuk politik dan merintis dari bawah: menjadi anggota DPRD, wakil Bupati, Bupati, Calon Gubernur dan Gubernur. Sebagai teknokrat dia matang. Dia berani berdebat tentang teknokrasi karena dia mengetahuinya dengan baik.

Mulyono tidak demikian. Memang ia merintis dari bawah dengan memulai di Solo. Namun kemunculannya terlalu tegesa-gesa. Itu yang menjelaskan kenapa dia begitu mentah ketika menjadi presiden pada periode pertama. Memang dia pembelajar politik yang cukup baik dan berhasil menjadi ‘raja jawa’ di akhir masanya. Dia cenderung menghindar ketika ditanya isu-isu teknokratik. Dia akan menyerahkannya pada para pembantunya.

Ketiga, KDM memiliki kapital pribadi yang mendukungnya menjadi semacam ‘sinterklas politik’ lewat dana iklan. Media sosialnya diikuti jutaan pengikut. Juga jutaan, jika tidak milyaran, kali diputar. Bayangkan berapa banyak uang perbulan dia dapatkan. Kapital ini yang membuat dia bisa dengan mudah memotong jalan jika jalur formal birokrasi terlalu berbelit. Ia akan gunakan uang pribadinya.

Kita tahu Jokowi tidak demikian. Ia tak cakap membuat konten. Karena itu tak punya uang adsense.

Kenapa ini penting? Di era ketika semua orang memegang hp dan aktif di sosial media, popularitas di media sosial media akan memotong secara radikal dana politik. Selama ini biaya politik sangat mahal. Butuh trilyunan untuk membeli iklan di media baliho, billboard, videotron atau iklan di televisi. KDM melakukannya dengan cuma-cuma, dibayar pula.

Mimpi dari semua politisi adalah popularitas. Itu fakta yang jelas dengan sendirinya. Jokowi, Dedi, Mulyadi maupun Mulyono akan melakukan hal-hal yang akan membuatnya populer. Tapi ingat, semua politisi pada dasarnya akan melakukan itu. Soalnya hanya pada kemampuan: yang lain tidak sepopuler KDM karena tidak bisa melakukannya. Itu saja.

Jadi, menyamakan KDM dengan Jokowi hanya karena sama-sama populer, menurut saya, tidak tepat. Fakta bahwa mereka sama-sama populer karena blusukan memang jelas dengan sendirinya. Tapi karena faktor-faktor yang saya sebutkan itu, menurut saya Dedi bukanlah Jokowi, Muyono juga bukan Mulyadi.

*Penulis adalah Dosen Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII)

  • Penulis: Redaksi

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Sekjen DPP Partai Golkar, M.Sarmuji

    Sarmuji : Reshuffle itu Kewenangan Mutlak Absolut dari Presiden

    • calendar_month Senin, 16 Jun 2025
    • account_circle Redaksi
    • visibility 14
    • 0Komentar

    JAKARTA, CUPLIKAN.CO.ID – Sekretaris Jenderal DPP Partai Golkar, Muhammad Sarmuji, meminta masyarakat tidak berspekulasi berlebihan soal isu perombakan kabinet oleh Presiden Prabowo Subianto. Menurutnya, semua keputusan terkait reshuffle sepenuhnya berada di tangan Presiden, dan publik perlu memberi ruang serta waktu bagi kepala negara untuk menilai secara menyeluruh kinerja para menterinya. “Kalau mau melakukan itu kapan, […]

  • Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian (Sumber Foto : ANTARA)

    Mendagri Tito: Pengaruh Titipan di KPUD Picu Konflik

    • calendar_month Jumat, 15 Nov 2024
    • account_circle Redaksi
    • visibility 19
    • 0Komentar

    JAKARTA, CUPLIKAN.CO.ID – Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian menyampaikan kekhawatirannya mengenai potensi ketidaknetralan di Komisi Pemilihan Umum Daerah (KPUD) menjelang Pilkada Serentak 2024. Ia menyoroti fenomena adanya “orang titipan” dari calon kepala daerah dalam komisioner KPUD sebagai sumber utama konflik di pilkada. Dalam Rapat Koordinasi Kesiapsiagaan dan Kelancaran Pilkada Serentak 2024 di Jakarta, Rabu (13/11), […]

  • Pemerintah RI Kawal Pemulangan Relawan Gaza, Sembilan WNI Tinggalkan Israel Menuju Turki

    Pemerintah RI Kawal Pemulangan Relawan Gaza, Sembilan WNI Tinggalkan Israel Menuju Turki

    • calendar_month Jumat, 22 Mei 2026
    • account_circle DDY
    • visibility 24
    • 0Komentar

    Jakarta, editoria.co.id – Pemerintah Indonesia memastikan sembilan warga negara Indonesia (WNI) yang sempat ditahan aparat Israel usai mengikuti pelayaran kemanusiaan menuju Jalur Gaza telah dibebaskan dan kini sedang dalam perjalanan menuju Istanbul, Turki. Menteri Luar Negeri RI Sugiono menyatakan proses pembebasan para relawan tersebut dilakukan melalui koordinasi diplomatik intensif yang melibatkan sejumlah perwakilan Indonesia di […]

  • Wakil Ketua Umum DPP Partai Golkar, Idrus Marham.

    Idrus Marham: Loyal Tapi Tak Produktif Bisa Bahaya!

    • calendar_month Jumat, 16 Mei 2025
    • account_circle Redaksi
    • visibility 20
    • 0Komentar

    JAKARTA, CUPLIKAN.CO.ID – Wakil Ketua Umum DPP Partai Golkar, Idrus Marham, menyampaikan sambutan penuh kelakar namun sarat makna dalam acara Talk Show & Stand-Up Comedy bertajuk Membangun Sumberdaya Manusia dan Kependudukan Menuju Indonesia Emas 2045 di Kantor DPP Partai Golkar, Slipi, Kamis (15/5/2025). Idrus yang mewakili Ketua Umum, membuka acara dengan mengangkat pentingnya peran partai […]

  • Calon Wali Kota New York Zohran Mamdani menaiki kereta bawah tanah usai menghadiri kegiatan kampanye di New York City, Amerika Serikat, 1 April 2025. Sumber foto : REUTERS.

    Zohran Mamdani Ungguli Cuomo di Pemilihan Wali Kota New York

    • calendar_month Rabu, 25 Jun 2025
    • account_circle Redaksi
    • visibility 17
    • 0Komentar

    NEW YORK, CUPLIKAN.CO.ID – Politikus muda progresif Zohran Mamdani berada di ambang kemenangan dalam pemilihan pendahuluan wali kota New York dari Partai Demokrat, usai mantan Gubernur New York Andrew Cuomo menyatakan kekalahan secara resmi, Selasa malam waktu setempat. Dalam pidato singkat kepada para pendukungnya, Cuomo yang berusia 67 tahun mengumumkan telah menghubungi Mamdani untuk memberi […]

  • Anggota Komisi VIII DPR RI Fraksi PKS, Meitri Citra Wardani

    Meitri : Ojol Sebagai Mitra Ekonomi Digital Perlu Perlindungan Pemerintah

    • calendar_month Kamis, 5 Des 2024
    • account_circle Redaksi
    • visibility 24
    • 0Komentar

    JAKARTA, CUPLIKAN.CO.ID – Anggota Komisi XII DPR RI Meitri Citra Wardani mendorong pemerintah untuk memberikan perlindungan lebih kepada pengemudi ojek online (ojol), yang dianggap sebagai mitra strategis dalam ekosistem ekonomi digital Indonesia. Salah satu langkah nyata yang didukung Meitri adalah kebijakan subsidi bahan bakar minyak (BBM) bagi pengemudi ojol. “Pengemudi ojol adalah salah satu pilar […]

expand_less