Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Opini » Krisis Independensi Intelektual

Krisis Independensi Intelektual

  • account_circle Redaksi
  • calendar_month Sabtu, 10 Mei 2025
  • visibility 19
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Oleh : Zezen Zainal Muttaqien*

Pada 2022 saya berkunjung ke kampus tertua di dunia. Kampus itu berada di kota Fez, Maroko. Nama kampunya: Universitas Al-Qarawiyin. Kampus itu berada di tenga-tengah grand bazar kota Fez. Kampus yang berdiri pada 859 M itu masih berdiri kokoh dan terjaga. Sebagian proses pembelajaran masih dipertahankan dengan model halaqah: guru duduk di sebuah kursi yang lebih tinggi dikelilingi para muridnya yang duduk bersila. Kelas itu berada di komple mesjid Al-Qarawiyin.

Selama di kampus itu saya berkesempatan melihat sudut kelas Ibnu Khaldun. Tokoh seperti Maimonides atau Musa Ibn Maymun, pemikir Yahudi, dan Paus Sylvester 2 pernah kuliah di sana. Pemikir Muslim lain, Ibnu Rusyd dan Al-Idrisi (tokoh yang sangat berjasa bagi ilmu peta dan navigasi dunia) juga pernah duduk bersila di lantai yang juga akhirnya saya duduki selama kunjungan itu. Singkat kata, Al-Qarawiyin adalah tempat kuliah nomor wahid pada masanya.

Menariknya kampus itu didirikan bukan oleh raja, sultan atau penguasa. Tapi oleh pengusaha perempuan bernama Fatimah Al-Fihri (d.880). Dia mewakafkan tanah bangunan dan uangnya untuk keberlangsungan kampus itu.

Pada masanya, praktik itu adalah praktik wajar. Waqaf adalah sistem pendanaan yang membuat lembaga-lembaga pendidikan di dunia Islam maju. Maju karena tidak tergantung pada tangan kekuasaan. Maju karena objektif dan tidak diganggu oleh kepentingan kekuasaan.

Karena mandiri, ilmu sepenuhnya diukur oleh ilmu. Murid hanya dinyatakan lulus dan mendapatkan ijazah jika dinyatakan lulus oleh gurunya. Tak perlu legitimasi penguasa.

Bulan lalu saya baru kembali dari Inggirs. Saya tinggal di kota Edinburgh untuk mengajar sebagai dosen tamu di Universitas Edinburgh. Selama di Inggris saya juga mengisi satu ceramah umum di SOAS, Universitas London. Di sela-sela kunjungan ke London saya menyempatkan berkunjung ke salah satu kampus tertua di dunia barat: Oxford dan Cambdridge.

Ketika berkunjung itu, saya sibuk mencari di mana letak salah satu college paling tua: Merton College. Ketika menemukannya saya sangat antusias dan sedikit emosional. Kawan mahasiswa yang mengantar saya bingung kenapa Merton College begitu spesial untuk saya.

Jika anda belajar hukum Islam, studi trust fund atau waqf, atau belajar sejarah institutsi perguruan tinggi, Merton College adalah kasus yang unik. Saya pertama membaca informasi ini dari tulisan George dan John Makdisi. Juga dari Monica Gaudiosi. Keduanya, kurang lebih, mengatakan: Merton College, dengan sistem trust fund, mengadopsi model-model kampus di dunia Muslim seperti Al-Qarawiyin dan Zaytuna, juga Al-Azhar. Merton College Oxford berdiri tahun 1264. Ada gap lebih dari 400 tahun dari pendirian Al-Qarawiyin, Zaytuna dan Al-Azhar.

Model Oxford ini kemudian dikirim ke Amerika dan negara jajahan Inggris lain. Harvard dan kampus-kampus di Amerika mereplikasi model ini. Selanjutnya kita tahu bagaimana pengetahuan dan peradaban tumbuh.

Kenapa saya bercerita hal itu? Ada dua point yang menjadi pelajaran penting. Pertama, kampus-kampus Islam seperti Al-Qarawiyin, Zaytuna maupun Al-Azhar, juga Oxford dan Cambridge kemudian, besar dan maju karena hidup dari dana waqf. Waqf ini membuat kampus menjadi otonom, merdeka. Sampai sekarang, yang membut kampus sepeti Harvard berani melawan kegilaan Trump adalah karena kekuatan trust fund/uang waqf mereka. Mereka berani secara kritis berhadapan dengan kekuasaan karena independen.

Kedua, dalam tradisi pendidikan Islam, ijazah hanya diberikan oleh gurunya. Buat yang pernah kuliah doktoral di Amerika, praktik ini pasti tidak asing. Mahasiswa doktoral secara personal belajar pada pembimbingnya. Ketika pembimbing menilai muridnya sudah matang dan jadi, dia akan memberi ijazah kelulusan.

Lebih jauh bahkan gelar profesor pun diberikan oleh ‘senior’ profesor secara kolegial, bukan oleh penguasa politik. Ilmu diukur oleh ilmu.

Independensi dan otonomi kampus adalah prinsip pendidikan yang awalnya dikembangkan dalam Islam, kemudian diadopsi oleh banyak kampus lain di dunia. Jika berkaca pada sejarah itu, kampus Islam Negeri seperti sebuah penyimpangan. Kampus Islam tumbuh secara independen dari kekuasaan karena kekuatan waqf. Tapi sayang hal itu hancur seiring dengan munculnya negara bangsa dan nasionalisasi aset-aset awqaf–terutama terlihat dalam kasus Al-Azhar.

Kenapa perguruan tinggi harus independen? Sederhana saja: logika politik dan kekuasaan adalah logika mencari dan mengakumulasi kuasa dan kepentingan (politic is power seeker). Sementara perguruan tinggi harus bertumpu prinsip pencarian kebenaran (truth seeker). Kebenaran dan kekuasaan sering bertabrakan. Jika tak ada jarak di antara keduanya, sangat mungkin perguruan tinggi dikontrol dan dikooptasi!

Independensi bukan juga artinya memusuhi. Independensi artinya tidak boleh berdiri terlalu dekat karena cenderung akan dikooptasi, juga tidak boleh terlalu jauh karena akan dipinggirkan, dimarginalisasi.

Jika anda belajar sejarah bertahannya madzhab-madzhab hukum, anda juga akan sadar kenapa hanya empat madzhab yang bertahan. Empat madzhab itu yang relatif bisa menjaga keseimbangan antara avoiding marginalization and cooptation.

Krisis ini yang secara mendalam terjadi di Indonesia. Politik, yang selalu berdasar pada prinsip akumulasi kekuasaan, kontrol dan kuasa, mengatur terlalu jauh universitas yang harusnya hidup atas dasar prinsip pencarian kebenaran. Dan jika itu terus terjadi, jangan pernah bermimpi kita bisa menciptakan peradaban unggul.

Negara, jikapun ingin memberikan andil, harusnya tahu diri: uang yang diberikannya harus diniatkan sebagai uang waqf saja. Kampus harus sepenuhnya otonom. Uang sumbangan negara bukanlah alat bargaining: karena saya kasih uang, saya bisa atur. Jika itu terus terjadi, jika pengetahun berada di bawah ketiak politik, susah rasanya kita bisa maju.

*Penulis adalah alumni UCLA School of Law

  • Penulis: Redaksi

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Indonesia-Malaysia Sepakat Perjuangkan Perdamaian Abadi Timur Tengah

    Indonesia-Malaysia Sepakat Perjuangkan Perdamaian Abadi Timur Tengah

    • calendar_month Jumat, 27 Jun 2025
    • account_circle Redaksi
    • visibility 16
    • 0Komentar

    JAKARTA, CUPLIKAN.CO.ID – Dalam kunjungan resmi ke Jakarta, Perdana Menteri Malaysia Dato’ Seri Anwar Ibrahim dan Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto menunjukkan kekompakan sikap terhadap konflik-konflik global, terutama yang terjadi di Timur Tengah, termasuk Gaza dan Iran-Israel. Pertemuan bilateral yang berlangsung di Istana Merdeka itu menjadi panggung penting bagi kedua negara untuk menegaskan kepemimpinannya dalam […]

  • Wakil Ketua Komisi X DPR RI Fraksi PKB, Lalu Hadrian Irfani,

    PKB Desak Pemerintah Prioritaskan Rehabilitasi Pendidikan Sumatra

    • calendar_month Senin, 8 Des 2025
    • account_circle Redaksi
    • visibility 20
    • 0Komentar

    JAKARTA, CUPLIKAN.CO.ID – Wakil Ketua Komisi X DPR RI dari Fraksi PKB, Lalu Hadrian Irfani, mendesak pemerintah pusat dan daerah segera memprioritaskan rehabilitasi sarana dan prasarana (sarpras) pendidikan di wilayah terdampak banjir. Ia menegaskan bahwa proses pemulihan harus menjadi langkah utama agar kegiatan belajar mengajar dapat kembali berjalan normal. Menurut data Kementerian Pendidikan Dasar dan […]

  • Kapuspenkum Kejagung, Harli Siregar

    Gagal Fungsi! Chromebook Rp9,9 T Dikorupsi Diam-Diam

    • calendar_month Senin, 26 Mei 2025
    • account_circle Redaksi
    • visibility 22
    • 0Komentar

    JAKARTA, CUPLIKAN.CO.ID – Pengadaan laptop Chromebook senilai Rp9,9 triliun oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbud Ristek) ternyata menyimpan skandal besar. Kejaksaan Agung resmi meningkatkan kasus ini ke tahap penyidikan, setelah menemukan indikasi kuat korupsi berjamaah dalam proyek digitalisasi pendidikan nasional tahun 2019–2023. Kepala Pusat Penerangan Hukum Kejagung, Harli Siregar, mengungkap bahwa proyek ini […]

  • Sylviana Murni (Ketiga dari Kanan) saat berpose bersama koleganya seusai pelantikan menjadi Rektor STIAMI Jakarta

    Dilantik Menjadi Rektor, Sylviana Murni Siap Perkuat Kualitas Akademik STIAMI

    • calendar_month Rabu, 30 Okt 2024
    • account_circle Redaksi
    • visibility 21
    • 0Komentar

    JAKARTA, CUPLIKAN.CO.ID – Prof. Dr. Hj. Sylviana Murni, SH, M.Si, tokoh perempuan berpengaruh di Jakarta, resmi dilantik sebagai Rektor Institut Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi Mandala Indonesia (STIAMI). Upacara pelantikan berlangsung di Gedung Pancagatra Lemhannas RI, Jakarta Pusat, pada Rabu (30/10/2024). Dalam pidatonya, Sylviana menyampaikan komitmennya untuk membawa STIAMI menjadi perguruan tinggi yang unggul di tingkat […]

  • DR. Dhifla Wiyani

    Apresiasi KUHAP Baru, DR. Dhifla : Perkuat Hak Masyarakat”

    • calendar_month Selasa, 25 Nov 2025
    • account_circle Redaksi
    • visibility 23
    • 0Komentar

    JAKARTA, CUPLIKAN.CO.ID – Praktisi hukum DR. Dhifla Wiyani, SH., MH. menyampaikan apresiasinya terhadap pengesahan Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP) yang baru oleh DPR RI pada 18 November lalu. Menurutnya, aturan baru tersebut merupakan capaian besar yang menghadirkan berbagai terobosan penting dalam sistem peradilan pidana Indonesia. “Saya salut kepada Ketua Komisi III dan seluruh anggota […]

  • Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi

    Surat Pengunduran Diri Hasan Nasbi Belum Disetujui Presiden

    • calendar_month Rabu, 30 Apr 2025
    • account_circle Redaksi
    • visibility 26
    • 0Komentar

    JAKARTA, CUPLIKAN.CO.ID – Meski Hasan Nasbi telah menyatakan mundur dari jabatan Kepala Kantor Komunikasi Kepresidenan (PCO), surat pengunduran dirinya ternyata belum mendapat persetujuan dari Presiden Prabowo Subianto. Hal itu diungkap langsung oleh Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi. “Bapak Presiden sudah kami laporkan. Namun beliau ingin terlebih dahulu mempelajarinya. Jadi belum sampai pada tahap sudah […]

expand_less