Budi Ari Setiadi Klarifikasi Pernyataan Viral: Murni Analisis Pribadi, Bukan Ajakan atau Hasutan
- account_circle Redaksi
- calendar_month Jumat, 28 Agt 2026
- visibility 27
- comment 0 komentar
- print Cetak

Budi Arie Setiadi memberikan klarifikasi dalam Jumpan Pers yang diadakan pada hari Jum'at (28/8/2026)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Budi Ari Setiadi
JAKARTA, editoria.co.id- Budi Ari Setiadi memberikan klarifikasi terkait pernyataannya yang belakangan viral dan menjadi perbincangan publik. Dalam jumpa media di Restoran Langit Teduh Selatan, Kemang, Jakarta Selatan, Budi menegaskan bahwa pernyataan tersebut merupakan pandangan pribadinya dan tidak berkaitan dengan mantan Presiden Joko Widodo.
Dalam konferensi pers tersebut, Budi didampingi Rhesa Yogaswara, perwakilan Baramuda 08 yang merupakan relawan pendukung Prabowo-Gibran.
Budi menyampaikan tiga hal untuk menjelaskan pernyataannya yang viral. Pertama, pernyataan tersebut merupakan pernyataan pribadi. Kedua, pernyataan itu tidak memiliki kaitan dengan mantan Presiden Joko Widodo. Ketiga, apa yang disampaikannya merupakan analisis pribadi berdasarkan situasi sosial dan politik yang berkembang belakangan ini.
Menurut Budi, pernyataannya tidak seharusnya dipahami sebagai ajakan kepada masyarakat untuk melakukan tindakan tertentu. Ia menegaskan bahwa apa yang disampaikannya merupakan analisis atas situasi yang sedang berkembang, bukan bentuk provokasi.
Budi juga mengingatkan bahwa kebebasan menyampaikan pendapat merupakan hak yang dilindungi undang-undang. Karena itu, ia meminta pernyataannya ditempatkan dalam konteks hak menyampaikan pandangan di ruang publik.
“Yang saya sampaikan adalah murni analisis, bukan ajakan, apalagi hasutan,” kata Budi.
Ia juga menekankan pentingnya dua hal dalam menyikapi dinamika politik saat ini, yakni demokrasi dan konstitusi. Menurutnya, perbedaan pandangan merupakan bagian dari kehidupan demokrasi, tetapi seluruh proses tersebut tetap harus berada dalam koridor konstitusi.
Sementara itu, Rhesa Yogaswara mengatakan pihaknya telah melakukan komunikasi dengan Budi Arie setelah pernyataan tersebut menjadi viral. Menurut Rhesa, komunikasi tersebut dilakukan karena pernyataan yang beredar di ruang publik berpotensi dimanfaatkan atau disalahgunakan oleh pihak-pihak eksternal.
Sebagai perwakilan relawan pendukung Prabowo-Gibran, Rhesa mengaku perlu memastikan agar pernyataan Budi tidak dipelintir atau digunakan untuk kepentingan tertentu di luar konteks yang dimaksudkan.
“Kami segera melakukan komunikasi dengan pihak Budi karena pernyataan tersebut berpotensi disalahgunakan oleh pihak-pihak eksternal,” ujar Rhesa.
Rhesa juga mengingatkan masyarakat agar lebih berhati-hati dalam mengonsumsi informasi, terutama ketika sebuah pernyataan telah menyebar luas melalui media sosial. Menurutnya, potongan informasi yang dilepaskan dari konteks dapat menghasilkan persepsi yang berbeda dari maksud awal pembicara.
Karena itu, ia mengimbau masyarakat untuk tidak mudah menerima informasi secara mentah dan tetap memeriksa konteks sebelum mengambil kesimpulan. Sikap kritis tersebut dinilai penting agar masyarakat tidak terjebak pada informasi yang bias maupun misleading.
Klarifikasi Budi dan imbauan Rhesa tersebut muncul di tengah derasnya arus informasi politik di ruang digital. Dalam situasi seperti itu, sebuah pernyataan dapat dengan cepat menyebar, dipotong, ditafsirkan ulang, dan dikaitkan dengan kepentingan politik tertentu.
Budi kembali menegaskan bahwa pernyataannya harus dipahami sebagai pandangan pribadi terhadap situasi sosial politik yang berkembang. Ia juga menekankan bahwa demokrasi membutuhkan ruang bagi masyarakat untuk menyampaikan pendapat, sekaligus membutuhkan tanggung jawab untuk menjaga agar perbedaan pandangan tetap berada dalam koridor hukum dan konstitusi.
Dengan klarifikasi tersebut, Budi berharap tidak muncul tafsir yang mengaitkan pernyataannya dengan mantan Presiden Joko Widodo maupun menganggapnya sebagai bentuk ajakan atau hasutan. Sementara bagi publik, Rhesa meminta agar perkembangan informasi politik disikapi secara kritis dengan mempertimbangkan konteks dan sumber informasi sebelum mempercayainya atau menyebarkannya lebih jauh.(Ryo)
- Penulis: Redaksi

Saat ini belum ada komentar